Jangan Asal Tidur Bareng Kucing! Ini 6 Poin Penting yang Wajib Dipatuhi

Ari Arief • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 16:18 WIB
Ilustrasi seorang wanita tampak sedang tidur bersama beberapa ekor anabul.(generate ai)
Ilustrasi seorang wanita tampak sedang tidur bersama beberapa ekor anabul.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Bagi sebagian pencinta anabul (anak bulu), tidur bersama kucing kesayangan menjadi cara ampuh untuk melepas penat dan memberikan rasa nyaman setelah beraktivitas seharian. Dengkuran dan ritme napas kucing yang teratur dinilai mampu memberikan efek rileks sehingga membantu pemiliknya tidur lebih nyenyak.

Meski menawarkan manfaat emosional, kebiasaan ini menyimpan potensi gangguan kesehatan serta penurunan kualitas tidur yang perlu diwaspadai pemiliknya.

Salah satu pendiri Tuck.com, Bill Fish, memaparkan bahwa tidak semua kucing cocok dijadikan teman tidur. Karakter alami kucing yang tergolong nokturnal sering kali membuat hewan ini aktif bergerak, bermain, hingga mencakar selimut pada dini hari. Kebiasaan tersebut berisiko mengganggu siklus istirahat pemiliknya secara berkala.

Selain pola tidur yang terganggu, risiko paparan alergen seperti bulu dan ketombe (dander) kucing juga mengintai orang dengan riwayat alergi. Potensi penularan penyakit pun makin tinggi apabila kucing peliharaan kerap dibiarkan berkeliaran di luar rumah tanpa perawatan rutin.

Dokter hewan dari Petplan Pet Insurance, Dr. Jennifer Maniet, mengingatkan bahwa kucing luar ruangan rentan terpapar kutu, caplak, cacing, hingga mikroorganisme berbahaya. Selain itu, area kotak pasir (litter box) yang kurang terjaga kebersihannya turut berpotensi menjadi sarana penyebaran parasit.

Guna menekan risiko kesehatan akibat tidur bersama kucing, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengimbau para pemilik hewan untuk menerapkan beberapa langkah pencegahan:

  • Pemeriksaan dan Vaksinasi Rutin: Memeriksa kesehatan kucing secara berkala ke dokter hewan serta memastikan pemberian vaksin dan obat cacing/kutu sesuai dosis.

  • Menjaga Kebersihan Lingkungan: Mencuci seprai, sarung bantal, dan selimut secara berkala untuk meminimalisasi penumpukan bulu serta kotoran.

  • Memperhatikan Gejala Sakit: Memisahkan area tidur apabila kucing menunjukkan indikasi sakit seperti bersin, batuk, muntah, atau kerontokan bulu yang tidak wajar.

  • Proteksi Kelompok Rentan: Pemilik dengan sistem kekebalan tubuh lemah atau alergi berat disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Sementara itu, bayi sangat dilarang berada dalam satu tempat tidur bersama kucing tanpa pengawasan ketat.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
tidur alergen anabul