Berawal dari Sesak Napas dan Keringat Dingin, Adisha Menemukan Jawaban di Psikiater

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 07:50 WIB
PERJALANAN: Pengalaman Adisha jadi pengingat bahwa mengenali gejala dan mencari pertolongan profesional merupakan bagian penting dalam menghadapi persoalan kesehatan mental.
PERJALANAN: Pengalaman Adisha jadi pengingat bahwa mengenali gejala dan mencari pertolongan profesional merupakan bagian penting dalam menghadapi persoalan kesehatan mental.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Sesak napas, keringat berlebihan, hingga sulit menenangkan diri saat pekerjaan belum selesai menjadi awal perjalanan Adisha Rizky mengenali kondisi kesehatan mentalnya. Semula, dia mengira gejala itu hanya akibat tekanan pekerjaan. Namun, setelah berbulan-bulan mengalaminya, Adisha memutuskan mencari pertolongan medis.

Pengalaman itu bermula pada 2022, ketika Adisha bekerja di Sangatta, Kutai Timur. Tekanan pekerjaan, terutama saat menghadapi tenggat penyelesaian tugas, kerap memicu kecemasan yang sulit dikendalikan. “Kalau misalnya closing-nya enggak selesai malam itu juga, aku tuh kayak udah enggak bisa napas, terus keringetan basah sampai tangan,” cerita Adisha.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia memberanikan diri mendatangi puskesmas untuk memeriksakan kondisinya. Setelah menjalani pemeriksaan dokter umum, Adisha mendapat rujukan ke psikiater pada akhir 2022.

Proses untuk mengetahui kondisi yang dialaminya ternyata tidak sebentar. Pada konsultasi awal, diagnosisnya masih belum pasti. Adisha menjalani konsultasi secara intensif untuk menelusuri gejala dan berbagai persoalan yang memengaruhi kondisi psikologisnya.

Baca Juga: LAPSUS: Kaltim Kaya SDA tetapi Anggaran Tertekan, Menteri AHY Ungkap Tantangan Pembangunan Daerah

Dari proses tersebut, dia mengetahui bahwa persoalannya tidak hanya berkaitan dengan tekanan pekerjaan. Pengalaman masa kecil, termasuk perpisahan orang tua dan persoalan dalam hubungan keluarga, turut menjadi bagian dari hal-hal yang dibahas selama konsultasi.

Diagnosis mixed anxiety and depressive disorder atau gangguan campuran kecemasan dan depresi kemudian menjadi bagian dari perjalanan pengobatannya. Pada 2023, setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya di Sangatta, Adisha kembali menjalani pemeriksaan di rumahnya, Balikpapan.

Kali ini, dia harus menelusuri kembali riwayat kondisi psikologisnya karena tidak membawa rekam medis dari tempat pengobatan sebelumnya.

Setelah lima hingga enam kali pertemuan dengan psikiater, Adisha mendapat diagnosis gangguan bipolar dengan episode depresi berkepanjangan, berdasarkan penjelasan yang diterimanya selama pengobatan.

Baca Juga: Bayan Run 2026 di Tengah Cuaca Panas dan Kabut Asap, Pelari Diminta Utamakan Keselamatan

Perjalanan tersebut juga beriringan dengan persoalan kesehatan fisik yang mengharuskannya menjalani penanganan bedah saraf. Kondisi itu menambah beban pikiran yang harus dihadapi, sementara gejala depresinya belum sepenuhnya terkendali.

Dalam prosesnya, Adisha sempat berhenti mengonsumsi obat selama beberapa bulan. Dia mengira kesibukan bekerja dapat membantunya mengalihkan perhatian dari persoalan yang dihadapi. Namun, gangguan tidur dan gejala depresinya justru kembali memburuk.

Perempuan kelahiran 2000 itu pun menyadari bahwa menyibukkan diri tidak serta-merta menggantikan penanganan medis yang dibutuhkannya.

Dia kembali berkonsultasi dengan psikiater, termasuk setelah menjalani operasi pada 2026. Pengobatan kesehatan mental kini berjalan beriringan dengan penanganan kondisi fisiknya. Meski demikian, proses pemulihan tidak selalu berjalan mulus. Adisha masih menghadapi kesulitan mengendalikan suasana hati, berkonsentrasi, hingga menjalani aktivitas sehari-hari ketika gejalanya memburuk.

“Bergantung dengan obat itu benar. Kalau enggak dibantu obat, emosinya malah tambah dalam,” ujarnya. Baginya, salah satu perubahan yang dirasakan setelah kembali menjalani pengobatan adalah emosi yang lebih terkendali. Jika sebelumnya mudah meledak-ledak, kini dia merasa lebih mampu merespons berbagai situasi dengan tenang.

Baca Juga: Tak Semua Wajah Butuh Treatment yang Sama, MyClinic Bawa Metode Konsultasi Dokter ke Jakarta

Pengalaman Adisha menjadi pengingat bahwa mengenali gejala dan mencari pertolongan profesional merupakan bagian penting dalam menghadapi persoalan kesehatan mental. Terlebih, kondisi psikologis tidak selalu dapat dipahami hanya dari apa yang terlihat di permukaan.

Dalam momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, kisahnya memperlihatkan bahwa perjalanan mendapatkan penanganan yang tepat dapat berlangsung panjang, dengan tantangan yang berbeda pada setiap tahapnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Bipolar Psikiater Balikpapan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia depresi kesehatan mental