Kunjungan Rawat Jalan RSJD Atma Husada Tembus 34 Ribu Kali, Kesadaran Berobat Meningkat

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 08:03 WIB
Direktur RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda dr Indah Puspitasari.
Direktur RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda dr Indah Puspitasari.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Makin banyak masyarakat yang datang mencari pertolongan kesehatan jiwa. Di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, kunjungan rawat jalan mencapai 34.052 kali sepanjang 2025, melonjak dibandingkan 21.850 kunjungan pada 2024.

Direktur RSJD Atma Husada Mahakam dr Indah Puspitasari mengatakan, peningkatan kunjungan tidak serta-merta menandakan jumlah kasus gangguan jiwa di masyarakat bertambah. Ada kemungkinan beban masalah kesehatan jiwa memang meningkat, tetapi pada saat yang sama kesadaran masyarakat untuk mencari bantuan juga makin baik.

“Peningkatan jumlah pasien tidak otomatis berarti kasus di masyarakat bertambah. Kami menilai ada dua hal yang berjalan bersamaan, yakni beban masalah kesehatan jiwa yang memang nyata dan makin banyak masyarakat yang berani datang dan mencari pertolongan,” bebernya.

Baca Juga: Berani Bercerita soal Gangguan Mental, Adisha Masih Berjuang Melawan Stigma

Pada Januari hingga September 2026, rumah sakit tersebut mencatat 26.890 kunjungan rawat jalan. Angka itu meningkat sekitar 6 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sementara kunjungan rawat inap mencapai 2.231 kali, naik sekitar 16 persen secara tahunan.

Indah menilai, kenaikan kunjungan rawat jalan dapat menjadi sinyal positif ketika masyarakat mulai berani mencari pertolongan sejak dini. Edukasi yang semakin luas dan kemudahan mengakses layanan menggunakan BPJS turut membuka jalan bagi pasien untuk memperoleh penanganan.

Meski demikian, keterlambatan berobat masih menjadi persoalan. Sebagian keluarga baru membawa pasien ketika gejala sudah berat, seperti mengamuk, mengancam, mencoba mengakhiri hidup, atau menolak makan. Sebelumnya, ada keluarga yang memilih pengobatan alternatif atau menunggu gejala hilang dengan sendirinya.

“Stigma membuat keluarga malu, takut dicap, atau menganggap gangguan jiwa sebagai kelemahan iman, kurang bersyukur, atau gangguan gaib. Padahal gangguan jiwa adalah kondisi medis yang bisa diobati,” jelasnya.

Baca Juga: Berawal dari Sesak Napas dan Keringat Dingin, Adisha Menemukan Jawaban di Psikiater

Disebutkan Indah, semakin cepat pasien memperoleh penanganan, semakin besar peluang pemulihan dan semakin singkat masa perawatan yang dibutuhkan. Karena itu, masyarakat perlu mengenali persoalan kesehatan jiwa sebagai kondisi yang memerlukan bantuan profesional, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Tantangan lain yang dihadapi di Kaltim adalah belum meratanya layanan dan tenaga profesional kesehatan jiwa, terutama bagi masyarakat di kabupaten yang jauh dari Samarinda. Keterbatasan psikiater, psikolog klinis, dan perawat jiwa turut menjadi pekerjaan rumah dalam memperluas akses pelayanan.

Dalam momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada 10 Oktober 2026, Indah mengajak masyarakat untuk lebih terbuka mendengarkan pengalaman orang yang mengalami gangguan jiwa tanpa menghakimi.

“Jangan menunggu parah untuk mencari bantuan. Gangguan jiwa bisa diobati dan penderitanya bisa kembali berfungsi. Keluarga dan masyarakat adalah bagian terpenting dari pemulihan,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
dr Indah Puspitasari Berita Samarinda Hari Ini gangguan jiwa RSJD Atma Husada Mahakam kesehatan jiwa