KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Konflik keluarga, tekanan akademik, perundungan, hingga beban pekerjaan dapat menjadi faktor yang memengaruhi kesehatan mental seseorang.
Pada anak dan remaja, persoalan tersebut perlu mendapatkan perhatian karena dapat berdampak pada perilaku, hubungan sosial, dan aktivitas sehari-hari apabila tidak ditangani dengan tepat.
Disampaikan oleh Patria Rahmawaty, S.Psi., M.MPd., seorang Psikolog Siloam Hospitals Balikpapan sekaligus Dosen Politeknik Negeri Balikpapan, ia mengatakan, kesehatan mental dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya situasi dan hubungan emosional di dalam keluarga.
“Relasi emosi yang mengalami hambatan akibat konflik dalam keluarga juga dapat menyebabkan anggota keluarga merasa tidak aman secara psikologis,” terang Patria.
Baca Juga: Media Sosial Bisa Picu Kecemasan dan Gangguan Tidur, Psikolog Ingatkan Pentingnya Batasan
Menurut dia, komunikasi yang tidak dibangun secara efektif, terbuka, dan dilandasi kepercayaan dapat menghambat kedekatan emosional antaranggota keluarga. Perbedaan persepsi yang tidak dibicarakan dengan baik juga berpotensi memicu konflik yang semakin besar.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara anggota keluarga menghadapi persoalan. Padahal, dukungan emosional dan komunikasi yang sehat diperlukan agar seseorang merasa aman untuk menyampaikan perasaan maupun meminta bantuan ketika mengalami kesulitan.
Selain lingkungan keluarga, tekanan pekerjaan juga dapat memperberat kondisi psikologis. Beban kerja yang berlebihan dan tidak terkelola dengan baik dapat menyebabkan kelelahan fisik maupun mental, menurunkan motivasi, serta mengganggu produktivitas.
"Situasi dapat semakin berat ketika seseorang harus menghadapi persoalan pekerjaan sekaligus masalah di rumah," katanya.
Baca Juga: Makin Melek Kesehatan Jiwa, Warga Balikpapan Tak Ragu Lagi Datangi Psikolog
Patria menjelaskan, kemampuan setiap individu dalam menghadapi tekanan berbeda-beda, antara lain dipengaruhi kematangan emosi dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Pada anak dan remaja, persoalan kesehatan mental dapat muncul sejak usia sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Tuntutan belajar yang besar, baik dari orang tua maupun dari diri sendiri, dapat menimbulkan tekanan, kecemasan berlebih, hingga gejala depresif.
Perundungan juga menjadi persoalan serius karena dapat meninggalkan pengalaman traumatis. Sementara itu, kesulitan menjalin pertemanan dan perasaan rendah diri terkait kemampuan berkomunikasi, status sosial, atau penampilan fisik dapat membuat anak semakin sulit beradaptasi dengan lingkungan sebayanya.
“Permasalahan kesehatan mental ini dapat terjadi pada semua usia. Bagi anak-pelajar, mulai usia SD sampai perguruan tinggi, permasalahan yang dihadapi sangat beragam, mulai dari tuntutan belajar yang besar hingga masalah perundungan dan pertemanan,” jelasnya.
Pada mahasiswa, tanda-tanda awal persoalan kesehatan mental dapat terlihat melalui perubahan perilaku. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain menarik diri secara tiba-tiba dari lingkungan sosial, menurunnya semangat kuliah, mengurung diri di kamar, atau menunjukkan perilaku yang berbeda dari biasanya.
Baca Juga: Putus Obat Picu Kekambuhan Gangguan Jiwa, RSJD Atma Husada Mahakam Tekankan Peran Keluarga
Patria juga menyebut persoalan lain yang dapat menyertai kesulitan psikologis, seperti keterlibatan dalam pinjaman online, penggunaan obat-obatan terlarang, serta kecenderungan menyakiti diri sendiri ketika merasa tidak menemukan jalan keluar dari masalah.
Perubahan tersebut perlu disikapi dengan perhatian, bukan penghakiman. Keluarga dan lingkungan terdekat perlu berupaya memahami kondisi individu serta membuka ruang percakapan agar persoalan yang dihadapi dapat diketahui lebih awal.
“Orang tua sebaiknya tidak serta-merta menghakimi anak saat mereka melakukan kesalahan. Sebaiknya dengarkan dahulu alasan mereka, baru merespons dengan solusi yang perlu ditemukan,” kata Patria.
Ia menekankan pentingnya membantu anak mengenali emosi yang sedang dialami, mengajarkan cara mengelola emosi negatif, serta membangun kepercayaan agar mereka tidak takut bercerita kepada orang tua. Anak juga perlu diberi pemahaman bahwa setiap masalah dapat dicari jalan keluarnya, termasuk dengan berdiskusi bersama orang dewasa yang dipercaya.
Baca Juga: Kunjungan Rawat Jalan RSJD Atma Husada Tembus 34 Ribu Kali, Kesadaran Berobat Meningkat
Menurut Patria, remaja saat ini juga mulai menunjukkan kesadaran untuk menghubungi tenaga profesional, baik psikolog maupun psikiater, ketika merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan pikiran, emosi, atau perilaku mereka.
Kesadaran tersebut menjadi langkah penting dalam mencegah persoalan berkembang lebih jauh. "Apabila seseorang menunjukkan perilaku menyakiti diri atau menyampaikan keinginan untuk mengakhiri hidup, keluarga perlu menanggapinya secara serius, memastikan keselamatannya, dan segera mencari bantuan profesional, " tegasnya.
Daribitu, ia turut menyampaikan, komunikasi yang terbuka, dukungan sosial, serta akses terhadap bantuan profesional menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi kesehatan mental setiap individu. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo