KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Yunizar Cahyadin kerap merasakan kesedihan yang datang tanpa alasan jelas. Saat teman-teman seusianya sibuk bermain dan mengikuti kegiatan sekolah, ia menarik diri. Perasaan itu terus terbawa hingga remaja, sebelum akhirnya mengubah cara dia menjalani kehidupan.
“Pokoknya aku kalau enggak nangis enggak puas,” kenang pria kelahiran 1997 itu menceritakan masa ketika menangis menjadi cara untuk meluapkan kesedihan yang sulit ia pahami. Saat SD, Yunizar sebenarnya menjalani kehidupan seperti anak-anak pada umumnya.
Ia mengikuti kompetisi, lomba, hingga bermain sepak bola. Namun, di balik aktivitas tersebut, ada momen ketika kesedihan tiba-tiba muncul dan membuatnya ingin menangis seharian.
Ia tidak menceritakan perasaan itu kepada orang tua maupun orang terdekat. Kala itu, Yunizar merasa tidak sedang menghadapi masalah yang perlu dibicarakan. Ia pun belum memahami bahwa perubahan suasana hati tersebut bisa menjadi tanda persoalan kesehatan mental.
Baca Juga: Konflik Keluarga hingga Tekanan Akademik Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Memasuki SMP, perubahan mulai terasa dalam kesehariannya. Yunizar menjadi lebih pendiam, sering melamun, dan tidak lagi nyaman bersosialisasi dalam kelompok besar. Ia bahkan mengingat, dari sebulan penuh, sekitar 20 hari bisa dihabiskan dalam suasana hati yang murung.
Kondisi tersebut semakin intens ketika memasuki SMA. Yunizar mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda pada dirinya, meski belum mengetahui gangguan apa yang mungkin dialami. Titik terberat datang pada September 2021.
Saat itu, ia menghadapi tekanan untuk menyelesaikan kuliah sekaligus persoalan keluarga yang dirasakannya sangat berat. Kebahagiaan yang sebelumnya bisa dirasakan perlahan menghilang.
Makan makanan enak, berjalan bersama orang terdekat, hingga berbelanja tak lagi memberinya kesenangan. Dalam psikologi, hilangnya kemampuan merasakan kesenangan dari aktivitas yang biasanya disukai dikenal sebagai anhedonia.
Baca Juga: Media Sosial Bisa Picu Kecemasan dan Gangguan Tidur, Psikolog Ingatkan Pentingnya Batasan
Saat itu, Yunizar mulai merasa kehilangan alasan untuk menjalani hidup. Ia akhirnya berbicara kepada pasangannya, yang kemudian mendorongnya mencari pertolongan profesional. Yunizar mengaku sebenarnya sudah lama ingin berobat, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Setelah berkonsultasi dengan psikiater, ia langsung mendapatkan penanganan obat karena kondisinya dinilai membutuhkan intervensi segera.
Perjalanan untuk memahami kondisinya tidak berlangsung singkat. Selama beberapa tahun, ia menjalani pengobatan dan berkonsultasi dengan sejumlah dokter. Diagnosis awal yang diketahuinya adalah depresi mayor.
Namun, perubahan suasana hati yang berulang, dari periode depresi hingga fase ketika energi dan aktivitas meningkat, membuatnya bersama pasangan mulai mempertanyakan diagnosis tersebut.
Yunizar juga pernah mengalami fase ketika sulit tidur, merasa sangat berenergi, dan berbelanja secara impulsif. Dalam salah satu periode, ia membeli sekitar 20 buku dalam tiga hari. Pengalaman tersebut menjadi salah satu petunjuk yang kemudian dibicarakan dengan dokter.
Setelah mencari pendapat kedua dan menjalani evaluasi lebih lanjut, Yunizar mengatakan diagnosis bipolar tipe II akhirnya terkonfirmasi pada 2025.
Baca Juga: Makin Melek Kesehatan Jiwa, Warga Balikpapan Tak Ragu Lagi Datangi Psikolog
Baginya, memahami diagnosis bukan sekadar mengetahui nama gangguan yang dialami. Proses tersebut membantunya mengenali pola perubahan suasana hati dan memahami pentingnya pengobatan yang sesuai. Kini, Yunizar masih menjalani pengobatan dan mengonsumsi obat setiap hari. Ia menyadari proses tersebut membutuhkan konsistensi, termasuk ketika kondisi sudah terasa lebih stabil.
Perjalanan panjang itu juga mengubah cara Yunizar memandang dirinya sendiri. Ia tidak lagi hanya berusaha mencari tahu mengapa kesedihan terus datang, tetapi mulai memahami kondisi yang dialami dan menjalani hidup dengan penanganan yang tepat. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo