Penyintas Bipolar Yunizar Kembali Bekerja: Kami Sakit, tapi Bukan Berarti Tak Bisa Apa-Apa

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 08:39 WIB
KARYA: Kecintaannya pada dunia paduan suara, membuat Yunizar (tengah bawah) membawa tim paduan suara yang dia latih memenangi kompetisi. Jadi bukti bahwa ia tetap bisa berkontribusi dengan berbagai hal yang dialami terkait kesehatan mental.
KARYA: Kecintaannya pada dunia paduan suara, membuat Yunizar (tengah bawah) membawa tim paduan suara yang dia latih memenangi kompetisi. Jadi bukti bahwa ia tetap bisa berkontribusi dengan berbagai hal yang dialami terkait kesehatan mental.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Diagnosis gangguan mental tidak harus menjadi akhir dari kehidupan yang produktif. Yunizar Cahyadin membuktikannya lewat perjalanan panjang menjalani pengobatan hingga kembali bekerja di kantor, setelah sebelumnya sempat kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Yunizar hidup dengan bipolar tipe II dan masih mengonsumsi obat setiap hari. Namun, kondisi tersebut tidak lantas membuatnya ingin terus diperlakukan berbeda. Ia justru berharap orang lain melihat dirinya sebagai manusia biasa yang memiliki kondisi kesehatan tertentu dan tetap bisa berkarya.

“Aku pengin dipandang normal aja. Kita tuh sakit, memang sakit. Tapi bukan berarti kita tuh enggak bisa ngapa-ngapain,” tegasnya.

Bagi Yunizar, perbedaan paling terasa setelah menjalani pengobatan adalah kemampuannya mengendalikan perubahan suasana hati. Jika sebelumnya kesedihan bisa membuatnya terpuruk hingga sulit bangun dan beraktivitas, kini ia lebih mampu mencari cara untuk melewati masa sulit.

Baca Juga: Bertahun-tahun Berjuang Melawan Depresi, Empat Tahun Setelahnya Diagnosis Yunizar Tegak

Saat suasana hati memburuk, ia mencoba mengalihkan perhatian dengan mengobrol bersama orang lain, bermain gim, atau menonton film. Kesedihan masih bisa datang, tetapi ia merasa lebih cepat kembali menjalani aktivitas.

Perubahan juga ia rasakan ketika memasuki fase suasana hati meningkat. Dahulu, dorongan untuk berbelanja atau mentraktir orang bisa muncul secara berlebihan. Kini, ia merasa lebih mampu mengendalikan impuls tersebut. “Fase hipomanik namanya. Kalau sekarang sudah bisa kontrol dikit, jadi lebih ke kayak pengin belanja makanan misal pengin beli ciki atau es teh doang,” katanya.

Meski gejala terasa lebih terkendali, Yunizar menegaskan pengobatan tetap menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Ia mengonsumsi obat pada pagi dan malam hari sesuai penanganan dokter. Ketika pernah melewatkan pengobatan selama beberapa waktu, perubahan suasana hati kembali terasa dan ia lebih mudah jatuh ke fase depresi.

Pengalaman itu membuatnya semakin memahami pentingnya menjaga konsistensi pengobatan. Baginya, kondisi yang membaik bukan alasan untuk menghentikan obat secara sepihak. Di luar proses pengobatan, Yunizar juga berusaha tetap menjalani hal-hal yang disukai.

Baca Juga: Konflik Keluarga hingga Tekanan Akademik Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Ia pernah memimpin tim paduan suara mahasiswa hingga meraih juara dalam sebuah kompetisi. Aktivitas tersebut menjadi salah satu bukti bahwa ia tetap bisa berkontribusi ketika kondisinya memungkinkan.

Namun, masih ada tantangan lain yang tak selalu terlihat, yakni stigma terhadap orang dengan gangguan mental. Yunizar menyadari isu kesehatan jiwa masih dianggap tabu, sehingga ia memilih membagikan pengalamannya di media sosial secara terbatas. Sementara hal-hal yang lebih pribadi tetap ia simpan untuk orang-orang terdekat.

Ia tidak bercerita untuk mencari belas kasihan. Menurutnya, respons sederhana dari orang lain, seperti pesan dukungan atau tanda bahwa seseorang bersedia mendengarkan, bisa memberi arti bagi mereka yang sedang berjuang. “Dikasihanin itu tidak akan membuat kita tumbuh,” tuturnya.

Ia berharap orang-orang yang membaca ceritanya dapat memahami bahwa penyintas gangguan mental tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Terkadang, kehadiran dan dukungan tanpa menghakimi sudah cukup untuk membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Yunizar juga ingin masyarakat berhenti menyederhanakan gangguan mental sebagai akibat kurang bersyukur atau kurang beribadah. Menurutnya, kondisi kesehatan jiwa perlu dipahami sebagai persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan, bukan bahan untuk merendahkan seseorang.

Di tengah proses yang masih dijalaninya, Yunizar mengaku tetap sesekali mempertanyakan makna hidup. Namun, ia kini berusaha memberi ruang bagi hal-hal sederhana yang menyenangkan, alih-alih terus terpaku pada sisi kehidupan yang terasa berat. “Hidup ini kan ada hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Kenapa enggak kita lakuin yang menyenangkan aja,” katanya.

Baca Juga: Makin Melek Kesehatan Jiwa, Warga Balikpapan Tak Ragu Lagi Datangi Psikolog

Pesan Yunizar sederhana: orang dengan gangguan mental tetap memiliki ruang untuk bekerja, berkarya, menjalin hubungan, dan menikmati hidup. Mereka tidak membutuhkan belas kasihan berlebihan, melainkan kesempatan untuk menjalani kehidupan serta dukungan ketika kondisi sedang tidak baik-baik saja. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Bipolar Penyintas Bipolar kesehatan mental kisah inspirasi kesehatan jiwa