Studi BRIN: Vape Berpotensi Pemicu Diabetes dan Kerusakan Pankreas

Ari Arief • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 11:14 WIB
Studi BRIN menemukan bahwa vape dapat memicu diabetes dan merusak pankreas.(generate ai)
Studi BRIN menemukan bahwa vape dapat memicu diabetes dan merusak pankreas.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Anggapan masyarakat mengenai vape atau rokok elektrik lebih aman dibandingkan rokok konvensional memicu sorotan baru. Studi awal yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengindikasikan bahwa paparan aerosol cairan vape berpotensi memicu timbulnya penyakit diabetes dan merusak jaringan pankreas.

Temuan tersebut dipaparkan Kepala BRIN, Arif Satria, dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Selasa (29/9). Penelitian ini memperjelas dampak akumulatif jangka panjang penggunaan vape yang marak dikonsumsi masyarakat usia muda.

Baca Juga: Bantu Warga Terdampak Kekeringan, Tim Gabungan Salurkan 53 Ribu Liter Air Bersih di Sepaku PPU

"Dampak terhadap diabetes itu sampai 100 persen. Jadi memang dampaknya serius sekali vape itu," tegas Arif.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, menerangkan bahwa riset laboratorium secara in-vitro ini menguji 13 sampel cairan vape (e-liquid) dari berbagai merek dan varian rasa pada sel paru-paru serta sel pankreas tikus MIN6.

Baca Juga: Dituduh Selundupkan Pasal PKPU Syarat Gibran, Hasyim Asy'ari Buka Suara

Baca Juga: Antisipasi Kelangkaan Petugas Fardu Kifayah, MUI Penajam Gembleng Pengurus Masjid

Meski menjadi indikator awal yang signifikan, Indi menegaskan hasil in-vitro ini perlu ditempatkan secara proporsional. Diabetes merupakan kondisi kompleks yang turut dipengaruhi faktor genetik, pola makan, obesitas, hingga tingkat aktivitas fisik.

Fenomena ini selaras dengan temuan medis di lapangan. Anggara (29), seorang pekerja swasta pengguna produk tembakau dan vape selama lima tahun, mengaku terdeteksi mengalami resistensi insulin atau kondisi prediabetes dengan kadar gula darah di atas 100 mg/dL. Kadar gula darahnya baru berangsur stabil setelah ia rutin berolahraga dan menghentikan total penggunaan vape selama lima hari.

Baca Juga: Butuh Bantuan Krisis Kesehatan Jiwa? Segera Hubungi Layanan Healing119.id

Pakar Endokrinologi FKUI, Prof. Em Yunir, memaparkan bahwa senyawa kimia dari aerosol vape yang masuk ke sirkulasi darah memicu inflamasi kronis yang lambat laun berujung pada resistensi insulin. Jika terus dibiarkan, penumpukan gula darah tinggi akan merusak sel pankreas secara permanen.

Di samping ancaman metabolisme, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan risiko organ respirasi seperti EVALI (electric vape-associated lung injury) serta gangguan kardiovaskular akibat kandungan nikotin dan zat perasa.

Baca Juga: PPU Bebas Karhutla dan Pangan Aman, Pemkab-BI Resmi Perkuat Sinergi

Berdasarkan Profil Statistik Kesehatan 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok usia 18–59 tahun menjadi pengguna vape terbesar di Indonesia. Hasil studi awal BRIN kini menjadi salah satu landasan ilmiah penting bagi pemerintah dalam merumuskan ketegasan regulasi serta pengawasan distribusi rokok elektrik di Tanah Air.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
pankres diabetes vape