Punya Benjolan di Ketiak? Kapan Waktunya Waspada?

Ari Arief • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 20:22 WIB
Ilustrasi benjolan di ketiak yang perlu diwaspadai dari sisi kesehatan.(generate ai)
Ilustrasi benjolan di ketiak yang perlu diwaspadai dari sisi kesehatan.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Kemunculan benjolan di ketiak secara tiba-tiba kerap memicu kepanikan, terutama saat area tersebut mulai terasa nyeri saat disentuh. Padahal, struktur ketiak dipenuhi kelenjar getah bening, folikel rambut, serta kelenjar keringat yang memang rentan mengalami reaksi alami tubuh.

Banyak kasus benjolan ketiak yang sebenarnya bisa mereda dan hilang dengan sendirinya tanpa tindakan medis khusus. Kendati demikian, masyarakat tetap perlu memahami karakteristik benjolan tersebut guna membedakan respons peradangan biasa dengan kondisi yang membutuhkan intervensi dokter.

Baca Juga: Mengenal Mukokel, Benjolan Mulut Mirip Sariawan yang Muncul Akibat Bibir Tergigit

Salah satu pemicu paling umum datang dari pembengkakan kelenjar getah bening. Merujuk keterangan Cleveland Clinic, kelenjar getah bening akan membesar secara otomatis ketika sistem imun tubuh sedang aktif melawan infeksi virus, bakteri, atau peradangan lain.

Faktor lain yang sering dijumpai adalah folikulitis atau infeksi pada folikel rambut. Kondisi ini biasanya timbul sesaat setelah mencukur bulu ketiak, ditandai dengan munculnya ruam kemerahan, rasa perih, dan ketidaknyamanan pada permukaan kulit.

Baca Juga: Jebakan Flexing Medsos Bikin Generasi Muda Cemas, Kemenkes Soroti Kematangan Otak

Selain infeksi permukaan, benjolan juga dapat berbentuk kista akibat penumpukan cairan, sel kulit mati, atau zat lain di bawah jaringan kulit. Ada pula lipoma, yakni gumpalan jaringan lemak jinak yang bertekstur lunak dan mudah digerakkan saat ditekan jari.

Meskipun mayoritas kasus bersifat jinak, masyarakat diminta waspada terhadap tanda bahaya tertentu. Evaluasi medis segera diperlukan jika ukuran benjolan terus membesar, terasa keras membatu, tidak bergeser saat disentuh, atau bertahan lebih dari beberapa minggu.

Baca Juga: Tenggorokan Berdahak Ganggu Aktivitas? Ini 5 Pilihan Minuman Alami yang Ampuh Legakan Saluran Napas

Laporan Healthline mengingatkan bahwa pembengkakan kelenjar getah bening yang berkepanjangan dapat berakar dari masalah kesehatan khusus, termasuk penyakit autoimun hingga gangguan sistem limfatik. Tanda bahaya kian nyata jika benjolan dibarengi demam panjang, keringat malam berlebih, rasa lemas ekstrem, dan penyusutan berat badan tanpa sebab.

Dalam mendiagnosis akar masalah, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan menelusuri riwayat kesehatan pasien. Aspek yang diuji mencakup volume, tekstur, pergerakan, hingga derajat nyeri pada benjolan.

Baca Juga: GTK MTsN 2 PPU Raih 12 Medali di Porseni HAB Ke-81 Kemenag 2026

Bila indikasi fisik memerlukan pembuktian lanjutan, dokter dapat mengarahkan tes darah guna memetakan tingkat infeksi atau peradangan. Pemeriksaan pencitraan seperti USG maupun mammografi juga kerap dilakukan untuk memindai jaringan ketiak secara terperinci.

Jika hasil pencitraan dan laboratorium belum memberikan kesimpulan pasti, prosedur biopsi menjadi langkah pamungkas. Prosedur ini melibatkan pengambilan sampel jaringan benjolan untuk diuji di laboratorium patologi guna memperoleh diagnosis definitif.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
waspada benjolan ketiak