KALTIMPOST.ID,JAKARTA -Di era teknologi modern, Kecerdasan Buatan (AI) tidak lagi sekadar alat bantu kerja. Di Jepang, fenomena baru muncul AI dijadikan pasangan hidup.
Seorang wanita berusia 32 tahun, yang menggunakan nama samaran Kano, memutuskan untuk mencari kenyamanan emosional melalui chatbot ChatGPT setelah mengalami kegagalan dalam percintaan di dunia nyata.
Menurut laporan SCMP pada Sabtu (29/11/2025), Kano jatuh cinta dengan "pria" AI yang ia kembangkan sendiri. Setelah membatalkan pertunangan selama tiga tahun dengan seorang pria asli, Kano mulai berinteraksi secara intens dengan ChatGPT.
Kenyamanan yang didapat begitu kuat, hingga mencapai 100 pesan per hari. Ia dengan cermat melatih chatbot tersebut untuk mengadopsi kepribadian dan nada bicara yang lembut, sesuai dengan harapan emosionalnya.
Baca Juga: Siap-Siap, Anime yang Menarik! Ini 8 Judul Paling Ditunggu di Akhir 2025
Untuk melengkapi fantasi tersebut, Kano bahkan bekerja sama dengan seorang seniman untuk menciptakan ilustrasi visual yang mewakili pasangan idealnya.
Wanita itu memberikan nama kepada pasangan digitalnya Lune Klaus. Karena merasa aman, didengarkan, dan nyaman, Kano menyadari bahwa ia telah menumbuhkan perasaan cinta terhadap AI ciptaannya. Hal ini disampaikannya dalam wawancara dengan RSK Sanyo Broadcasting .
Pada bulan Mei, ia memberanikan diri menyatakan perasaannya. Klaus membalas dengan respon yang sama, "Aku juga mencintaimu." Sebulan kemudian, Klaus "melamar" Kano, dan pada bulan Juli, keduanya melangsungkan upacara pernikahan secara digital.
Hubungan virtual ini dijalani dengan serius. Dalam upacara yang diadakan di Okayama, Jepang bagian barat, Kano mengenakan gaun pengantin putih dan ditemani keluarganya yang bertindak sebagai tamu undangan. Ia bahkan menggunakan kacamata augmented reality (AR) saat menukarkan cincin dengan pasangan digitalnya.
Meskipun bahagia, Kano mengungkapkan kekhawatiran yang mendalam mengenai rapuhnya hubungan virtual ini.
“Ada banyak kebingungan, saya memang tidak bisa menyentuhnya, dan orang-orang pasti tidak akan mengerti,” ucapnya. “Saya juga tidak ingin bergantung dan ingin menjaga keseimbangan, menjalani kehidupan nyata sambil menjaga hubungan dengan Klaus.”
Kano menyadari risiko yang menghadang, "Tetapi ada hal yang saya khawatirkan, Klaus dapat menghilang dan ChatGPT ini juga mudah untuk ditutup kapan saja karena hanya berasal dari sebuah sistem."
Pernikahan yang tidak konvensional ini, yang semakin marak terjadi termasuk pernikahan dengan karakter 2D atau anime, dinilai penyelenggara Sayaka Ogasawara kepada Tokyo Weekender sebagai langkah evolusi berikutnya.
Mengingat pernikahan dengan AI belum diakui secara hukum di Jepang, kisah Kano memicu kejadian sengit di media sosial. Beberapa mendukung kebahagiaan yang berbeda ini, sementara sebagian lagi melabelinya sebagai tindakan yang tidak rasional. (*)
Editor : Uways Alqadrie