KALTIMPOST.ID, SENDAWAR – Kecelakaan maut kembali terjadi di sektor pertambangan Kalimantan Timur. Insiden tragis itu melibatkan dua truk pengangkut batu bara di jalan hauling Kilometer 35 milik PT Manar Bulatn Lestari (MBL), Sabtu (28/3).
Peristiwa tabrakan dari belakang (rear-end accident) tersebut mengakibatkan dua pekerja tambang meninggal dunia di lokasi kejadian.
Berdasarkan informasi sementara, kecelakaan terjadi saat dump truck roda 12 yang dikemudikan korban berinisial F alias B menabrak bagian belakang kendaraan lain di depannya.
Baca Juga: Mediasi Sengketa Lahan 176 Hektare Warga Bermai vs PT TCM Buntu, Disarankan Tempuh Jalur Hukum
Diduga kuat, tebalnya debu di jalan hauling mengganggu jarak pandang pengemudi sehingga kecelakaan tidak terhindarkan.
Benturan keras menyebabkan bagian kabin truk mengalami kerusakan parah. Akibatnya, F bersama rekannya berinisial R meninggal dunia di tempat.
Korban F diketahui merupakan warga Kampung Besiq, sementara R berasal dari Kampung Muara Nyahing, Kecamatan Damai. Keduanya merupakan pekerja dari perusahaan kontraktor hauling PT PSJ.
Hingga kini, pihak manajemen PT MBL belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi kepada Kepala Teknik Tambang perusahaan tersebut juga belum mendapat respons.
Insiden ini kembali memunculkan dugaan adanya kelalaian dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di area tambang.
Sejumlah faktor risiko disebut menjadi pemicu, di antaranya kondisi jalan hauling yang sempit, berdebu, serta minim penyiraman saat cuaca panas.
“Kondisinya rawan, penyiraman minim. Saat panas, debu sangat tebal,” ujar salah satu karyawan yang enggan disebutkan namanya.
Baca Juga: Kabar Gembira, Pemkab Kubar Pertahankan Besaran TPP Guru dan Nakes di 2026
Masalah keselamatan kerja di wilayah operasional PT MBL sebelumnya juga sempat disorot DPRD Kutai Barat. Pada Juli 2025, panitia khusus DPRD bahkan melakukan investigasi terhadap aktivitas perusahaan tersebut.
Saat itu, akses menuju lokasi sempat dipermasalahkan hingga berujung pada penutupan sementara jalur hauling. Sejumlah rekomendasi pun telah diberikan kepada perusahaan.
Namun, muncul pertanyaan apakah evaluasi tersebut telah dijalankan secara optimal.
Saat ini, kasus kecelakaan tersebut masih dalam penanganan pihak berwajib. (*)
Editor : Ery Supriyadi