KALTIMPOST.ID, SENDAWAR – Aktivitas angkutan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di wilayah pedalaman Kutai Barat kian meresahkan warga.
Di sepanjang jalur utama Bentian Besar, truk-truk besar kerap melintas dengan kecepatan tinggi, memicu kekhawatiran soal keselamatan pengguna jalan.
Baca Juga: Pemkab Kutai Barat Berangkatkan Peserta Ziarah ke Yerusalem dan Mekkah 2025
Suara protes pun datang dari tokoh masyarakat Bentian Besar, Lourensius. Ia menilai sudah saatnya aparat dan instansi terkait turun tangan melakukan penertiban terhadap armada pengangkut CPO yang kerap melanggar aturan di jalan raya.
“Pertama, periksa pengemudi truk CPO, mulai dari kelengkapan surat izin mengemudi, kesehatan, hingga kondisi mentalnya,” ujarnya kepada Kaltimpost.id, Jumat (7/11/2025).
Menurutnya, banyak pengemudi truk CPO yang berkendara secara ugal-ugalan dan konvoi tanpa memperhatikan pengguna jalan lain.
“Sering kali mereka tidak mau mengalah, padahal jalan di sini sempit dan menanjak,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pemeriksaan terhadap kelaikan kendaraan, karena sebagian armada terlihat membawa muatan berlebih tanpa perawatan memadai.
Lourensius yang pernah menjabat Kapolsek Bentian Besar itu mengingatkan agar kejadian kecelakaan di kawasan Gunung Odang pada Oktober lalu tidak terulang.
Saat itu, sebuah truk bermuatan penuh diduga mengalami rem blong dan meluncur kencang di jalan menurun. “Memang tidak ada korban jiwa, tapi kejadian seperti itu sangat membahayakan,” tegasnya.
Selain aparat penegak hukum, ia juga mendesak perusahaan perkebunan sawit lebih memperhatikan aspek keselamatan.
“Jangan hanya mengejar keuntungan tanpa peduli kondisi kendaraan dan jalan,” ujarnya.
Lourensius pun menyoroti kondisi infrastruktur di Bentian Besar yang dianggap berisiko tinggi bagi kendaraan berat.
Ia meminta pemerintah, khususnya Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN), segera melakukan perbaikan dan preservasi jalan di kawasan Gunung Odang dan Gunung Lantuq.
“Jangan tunggu ada korban baru bertindak. Jalan ini harus jadi prioritas,” tandasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi