KALTIMPOST.ID-Ketersediaan darah masih menjadi tantangan layanan kesehatan di Kutai Barat (Kubar).
Palang Merah Indonesia (PMI) Kubar bersama RSUD Harapan Insan Sendawar mencatat, salah satu golongan darah yang paling sulit diperoleh adalah AB positif.
Direktur RSUD Harapan Insan Sendawar dr I Nyoman Sumahardika mengatakan, kebutuhan darah AB positif kerap tidak sebanding dengan jumlah pendonor yang tersedia.
Kondisi itu membuat rumah sakit harus lebih waspada dalam mengelola stok darah, terutama untuk pasien yang membutuhkan transfusi segera.
“Golongan darah AB positif memang sering kali sulit kami dapatkan. Jumlah pendonornya sangat terbatas dibandingkan golongan darah lainnya,” ujarnya, Senin (9/2).
Ia menjelaskan, kelangkaan tersebut berkaitan dengan proporsi pemilik golongan darah AB positif yang relatif kecil di masyarakat.
Dari ratusan juta penduduk Indonesia, jumlah pemilik golongan darah AB positif diperkirakan hanya sekitar tiga juta orang. Sementara itu, mayoritas pendonor yang datang rutin ke PMI umumnya bergolongan darah O, A, dan B.
“Kebanyakan pendonor yang aktif memang dari golongan O, A, dan B. Untuk AB positif, jumlahnya jauh lebih sedikit,” jelasnya.
Meski tergolong langka, pemilik golongan darah AB positif memiliki keunggulan sebagai resipien universal.
Artinya, mereka dapat menerima transfusi darah dari semua golongan. Namun, dalam konteks donor, darah AB positif hanya dapat diberikan kepada sesama pemilik golongan darah AB, sehingga ketersediaannya tetap krusial.
Nyoman menambahkan, pihak rumah sakit dan PMI Kutai Barat terus mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan donor darah.
Selain menjaga ketersediaan stok, donor darah juga menjadi bagian penting dari solidaritas sosial dan kesiapsiagaan pelayanan kesehatan daerah.
“Kami berharap masyarakat dengan golongan darah AB positif dapat lebih aktif mendonorkan darahnya. Ini sangat membantu keselamatan pasien yang membutuhkan,” pungkasnya. (rd)
SUNARDI
Editor : Romdani.