KALTIMPOST.ID, SENDAWAR — Rumah Sakit Umum Daerah Harapan Insan Sendawar (RSUD HIS) membantah tudingan menahan pasien karena tidak sanggup membayar biaya persalinan.
Direktur RSUD HIS, I Nyoman Sumahardika, menegaskan kabar yang beredar di media sosial tersebut tidak benar. Ia memastikan seluruh pelayanan telah dilakukan sesuai prosedur.
Menurutnya, peristiwa bermula dari pasien bernama Ny Maria yang datang dalam kondisi darurat untuk melahirkan. Pasien diketahui berasal dari perusahaan sawit.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, posisi bayi dalam keadaan sungsang dan kondisinya sudah lemah. Petugas medis kemudian melakukan penanganan segera.
“Oleh petugas dilakukan pertolongan dan penanganan. Akhirnya bisa melahirkan, namun kondisi bayi dan ibu melemah,” jelasnya kepada Kaltimpost.id, Kamis (26/2/2026).
Dalam perawatan selanjutnya, kondisi ibu berangsur membaik. Namun, bayi yang dilahirkan dalam keadaan sangat lemah dan membutuhkan alat bantu pernapasan.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, nyawa bayi tidak dapat diselamatkan. Setelah dinyatakan meninggal, petugas melakukan observasi selama dua jam sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Baca Juga: Juan Villa Minta Suporter Penuhi Stadion Segiri: Kalian Pemain Ke-12 Borneo FC Lawan Arema FC!
“Setelah dua jam tidak ada tanda-tanda kehidupan, bayi kemudian dibawa ke ruang jenazah,” lanjutnya.
Direktur menegaskan manajemen dan Humas RSUD HIS telah menelusuri kasus tersebut. Hasilnya, seluruh tindakan medis dan administrasi disebut sudah sesuai prosedur.
Terkait biaya administrasi, pihak rumah sakit membantah mempersulit pasien maupun keluarga.
“Kami tidak pernah mempersulit pasien atau keluarga pasien. Justru kami sering memberikan solusi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pasien tidak memiliki kartu keluarga dan hanya membawa KTP luar Kutai Barat. Pasien juga tidak terdaftar dalam BPJS atau JKN.
Karena itu, biaya pelayanan dibebankan secara umum atau mandiri, dan pasien disebut telah menyatakan kesediaan untuk membayar.
Baca Juga: Borneo FC vs Arema FC: Fabio Lefundes Targetkan Menang di Segiri demi Rebut Kembali Posisi Puncak!
RSUD HIS juga menjelaskan adanya dua komponen biaya administrasi. Bayi dirawat di ruang NICU/PICU karena kondisinya kritis, sementara ibu dirawat terpisah dengan administrasi berbeda.
Manajemen menegaskan tidak ada larangan atau upaya menahan pasien untuk pulang. Menurutnya, terjadi miskomunikasi karena pasien menunggu pihak perusahaan untuk menyelesaikan pembayaran.
Jarak antara perusahaan dan RSUD HIS yang cukup jauh membuat proses administrasi memakan waktu lebih lama.
“Jadi tidak benar jika kami menahan pasien seharian karena tidak mampu membayar, seperti yang diberitakan,” tegasnya.
Ia menambahkan, petugas tetap memberikan pelayanan persalinan dan perawatan maksimal meskipun kondisi bayi saat datang sudah berisiko tinggi.
RSUD HIS juga berencana memanggil pihak pasien dan perusahaan untuk menyampaikan klarifikasi secara langsung.
“Kami turut berdukacita atas meninggalnya bayi pasien tersebut,” tandasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi