KALTIMPOST.ID, SENDAWAR – Ustadz Muhammad Hilmi Firdausi atau yang akrab disapa Gus Hilmi memuji tingkat toleransi antarumat beragama di Kabupaten Kutai Barat. Pujian tersebut disampaikannya saat memberikan tausiyah dalam kegiatan Halalbihalal antarorganisasi yang digelar di Alun-alun ITHO Sendawar, Rabu (2/4) malam.
Dai kondang tersebut menilai daerah berjuluk Bumi Tana Purai Ngeriman menjadi contoh nyata harmonisasi keberagaman di Indonesia. Menurutnya, wujud toleransi di Kutai Barat terlihat nyata dalam kehidupan masyarakat.
“Sebab inisiator acara silaturahmi Lebaran ini justru datang dari tokoh muda Kutai Barat beragama Kristen, Alsiyus. Ini luar biasa, halal bihalal diinisiasi saudara kita Kristiani. Ini harus dipertahankan,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan berbagai elemen lintas agama dan organisasi dalam satu kegiatan menunjukkan kuatnya persatuan masyarakat. Ia menegaskan perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan.
“Kita berbeda-beda, baik suku, bahasa, maupun agama, tapi tetap bisa bersatu. Ini yang harus dijaga,” katanya. Ustadz Hilmi Firdausi menekankan pentingnya menjaga toleransi dengan tetap menghormati batasan keyakinan masing-masing.
“Toleransi bukan berarti mencampuradukkan ajaran, melainkan saling menghargai. Itu prinsip yang benar,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin, mengatakan kegiatan Halalbihalal yang diinisiasi LSM TGM patut diapresiasi sebagai jembatan silaturahmi yang memperkuat sinergi antarorganisasi di Kutai Barat.
“Slogan ‘Sempekat Bersama, Kita Pasti Bisa’ bukan sekadar kata-kata, tetapi cerminan kekuatan kolektif,” ujarnya, Jumat (3/4/2026). Momen Halalbihalal tersebut berlangsung penuh kebersamaan. Kehadiran Ustadz Hilmi Firdausi juga dinilai mampu menghidupkan suasana karena menyampaikan pesan dakwah dengan gaya humor segar sehingga mudah diterima berbagai kalangan.
Ketua Umum DPP TGM, Alsiyus, mengatakan inisiatif kegiatan Halalbihalal tersebut merupakan wujud implementasi nilai kebersamaan di Kutai Barat.“Kita inisiasi kegiatan ini sebagai wujud implementasi kata Sempekat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk toleransi dan harmonisasi sosial. Menurutnya, perbedaan iman bukan menjadi penghalang untuk saling menghormati dan menjaga kebersamaan di tengah masyarakat. (riz)
Editor : Muhammad Rizki