Bukan sekadar seremoni formal, acara ini menjadi ajang pembuktian bahwa akar budaya lokal masih sangat kuat. Enam etnis besar yang menjadi pilar budaya di Kubar—yakni Tunjung, Benuaq, Aoheng, Bahau, Kenyah, dan Melayu—bersatu dalam sebuah simfoni harmoni di atas panggung yang sama.
Baca Juga: Investasi Kaltim Tembus Rp 87,78 Triliun, Konsisten Naik dan Tembus Delapan Besar Nasional
Kepala Disdikbud Kutai Barat Kamius Junaidi menyampaikan apresiasi mendalam atas antusiasme masyarakat yang luar biasa. Menurutnya, kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam membangun karakter masyarakat.
"Kegiatan ini bukan sekadar pentas seni biasa, tetapi merupakan gerakan untuk membangun dan menumbuhkembangkan kembali kejayaan budaya daerah kita," tegas Kamius dengan nada optimis.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Disdikbud sekaligus Ketua Pelaksana, Sri Wahyuni, menekankan pentingnya aspek edukasi dalam setiap penampilan yang disuguhkan. Baginya, di tengah gempuran budaya modern dan digitalisasi, menjaga jati diri adalah sebuah keharusan.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih! Mana yang Lebih Aman untuk Alat Masak, SUS 304 atau SUS 316?
"Kami ingin melestarikan budaya sekaligus meningkatkan rasa persatuan melalui hiburan yang edukatif. Ini adalah cara kita memperkenalkan kembali akar budaya kepada masyarakat luas," jelas Sri Wahyuni.
Melalui perhelatan ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat berharap api semangat mencintai budaya lokal tetap menyala di hati masyarakat, terutama generasi Z dan Alpha.
Pentas Seni 6 Etnis diproyeksikan menjadi pemantik bagi anak muda agar tetap bangga memegang identitas daerahnya.
Baca Juga: Pemprov Kaltim Kembalikan Pembiayaan BPJS ke Kabupaten, Kutim Siapkan Rp 6,5 Miliar
Dengan begitu, meski terus melangkah maju mengikuti perkembangan zaman, mereka tidak akan pernah kehilangan arah karena tetap berpijak pada nilai-nilai luhur nenek moyang. (*)