KALTIMPOST.ID, SENDAWAR – Proyek preservasi jalan dan jembatan ruas Muara Muntai–Nayan–Blusuh di Kabupaten Kutai Barat terus menunjukkan progres signifikan.
Namun, pembangunan ini tidak hanya berfokus pada pengaspalan dan aspek teknis semata. Di balik aktivitas alat berat, proyek tersebut juga menghadirkan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat melalui program Padat Karya Tunai (PKT).
Program ini dirancang untuk menyerap tenaga kerja lokal dalam kegiatan pemeliharaan infrastruktur. Selain meningkatkan konektivitas wilayah, langkah ini juga menjadi penopang ekonomi bagi warga sekitar.
Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional melalui Pejabat Pembuat Komitmen 1.7 Provinsi Kalimantan Timur, Novi Ari Nugroho, menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur.
“Program ini memberi kesempatan kepada warga sekitar proyek untuk terlibat langsung dan memperoleh penghasilan setiap minggu. Sasaran utamanya adalah masyarakat yang belum memiliki pekerjaan, penganggur, setengah penganggur, serta warga kurang mampu,” ujar Novi, Kamis (23/4/2026).
Dalam pelaksanaannya, program padat karya ini terbagi menjadi dua sektor utama.
Pertama, padat karya jalan yang mencakup pemotongan rumput di bahu jalan serta pembersihan drainase. Kegiatan ini penting untuk meningkatkan jarak pandang pengendara dan mencegah genangan air saat hujan.
Baca Juga: 15 Ucapan Selamat Hari Buku Sedunia 2026 dalam Bahasa Inggris, Bagikan di Media Sosial
Kedua, padat karya jembatan yang meliputi pembersihan struktur, pengecatan, serta memastikan saluran drainase jembatan tidak tersumbat oleh sampah maupun tanaman liar.
Langkah tersebut tidak hanya berorientasi teknis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempercantik infrastruktur agar tetap layak dan berumur panjang.
Selain memberikan dampak ekonomi jangka pendek, keterlibatan warga juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas publik.
“Selain menjaga kualitas infrastruktur, pemberdayaan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap hasil pembangunan,” tambah Novi.
Dengan kolaborasi antara pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan berbasis padat karya, ruas Muara Muntai–Blusuh diharapkan tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat Kutai Barat. (*)
Editor : Ery Supriyadi