Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Solar Langka di Kutai Barat: Sopir Menjerit, Biaya Logistik Terancam Melonjak

Sunardi Kaltim Post • Selasa, 5 Mei 2026 | 08:48 WIB
Ilustrasi kelangkaan solar dan biosolar di Kutai Barat.
Ilustrasi kelangkaan solar dan biosolar di Kutai Barat.

 

KALTIMPOST.ID, SENDAWAR – Matahari baru saja naik sepenggalah di ufuk Kutai Barat. Namun, raut wajah Ahmad (45) sudah tampak murung. Pengemudi truk logistik lintas Samarinda–Sendawar itu hanya bisa menyandarkan punggung di pintu truk yang terparkir di bahu jalan.

Di tangannya, selembar nota pengisian BBM menjadi pengingat pahit bahwa operasional hari ini tak lagi sama.

Sejak 4 Mei 2026, dunia transportasi di Kalimantan Timur diguncang kenaikan harga BBM non-subsidi. Angka di papan SPBU melonjak tajam. Pertamax Turbo menyentuh Rp20.350 per liter, Dexlite Rp26.600, dan Pertamina Dex mencapai Rp28.500.

Baca Juga: Kabar Duka! Istri Abu Bakar Ba’asyir Meninggal Dunia di Usia 82 Tahun

Kenaikan ini bukan sekadar angka. Dampaknya langsung terasa pada denyut ekonomi masyarakat. Bagi pekerja sektor riil seperti Ahmad, persoalan tak hanya berhenti pada mahalnya BBM non-subsidi. Kelangkaan solar dan biosolar justru menjadi beban yang jauh lebih berat.

Di Kutai Barat, solar subsidi seolah menghilang dari peredaran. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan melonjaknya harga BBM non-subsidi.

Di lapangan, situasinya seperti mencari jarum dalam jerami. Para sopir angkutan kini kesulitan mendapatkan solar. Antrean panjang di SPBU sering berakhir dengan pengumuman “Solar Habis”.

Akibatnya, banyak sopir terpaksa beralih ke pengecer di pinggir jalan. Namun, kondisi di tingkat eceran tak kalah sulit. Stok sering kosong, dan jika tersedia, harganya melambung hingga Rp18.000–Rp19.000 per liter.

Harga tinggi itu pun belum menjamin ketersediaan. Stok yang terbatas biasanya habis hanya dalam hitungan menit.

Situasi ini memicu efek domino. Para sopir angkutan barang kini dihadapkan pada dilema biaya operasional. Ongkos angkut sembako dari pelabuhan ke pedalaman dipastikan melonjak tajam.

Tak hanya itu, sektor konstruksi juga terdampak. Alat berat yang bergantung pada Dexlite atau solar kini membutuhkan biaya operasional yang membengkak, bahkan bisa mencapai 70 persen dari total biaya harian.

Baca Juga: 20 Ucapan Hari Bidan Sedunia 2026 Penuh Makna dan Menyentuh Hati, Apresiasi untuk Pahlawan Kesehatan Ibu dan Anak, Bagikan di 5 Mei

“Kami ini seperti dipaksa berhenti kerja pelan-pelan. Kalau di SPBU kosong, terpaksa cari di eceran yang harganya tidak masuk akal, bisa Rp19.000 per liter. Itu pun kalau ada. Hasil angkutan habis untuk beli minyak, belum lagi makan di jalan dan setoran,” keluh Ahmad, Selasa (5/5/2026).

Dampaknya mulai terasa hingga ke meja makan warga. Biaya angkut yang naik hingga 45 persen diperkirakan akan mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional Kutai Barat dalam waktu dekat.

Di sisi lain, masyarakat yang menggunakan BBM non-subsidi juga mulai mengeluh. Pengeluaran transportasi harian meningkat drastis.

“Dilema sekali. Kalau tidak jalan, dapur tidak mengepul. Kalau jalan, malah nombok. Solar sekarang seperti emas hitam yang hilang,” tambah Ahmad.

Masyarakat di Bumi Tana Purai Ngeriman kini berharap adanya langkah konkret dari pemerintah. Pengawasan distribusi BBM dinilai perlu diperketat agar kondisi tidak semakin memburuk. (*)

 

Editor : Ery Supriyadi
#BBM Kaltim #sopir logistik #harga bbm 2026 #solar langka