SENDAWAR – Bagi Tyta Nesse, aroma tanah basah, tunas-tunas hijau dan seluk-beluk dunia pertanian adalah santapan sehari-hari. Sebagai siswi kelas X SMK Pertanian Ave Bungan Tana, dunianya berputar di sekitar ketahanan pangan, bukan di balik barisan kata yang tajam dan dinamis.
Namun garis takdir seringkali menuntun seseorang ke panggung yang sama sekali tak terduga. Minggu (17/5/2026) siang, wajah Tyta masih memancarkan binar kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan. Gadis belia kelahiran ini baru saja menorehkan prestasi.
Namanya keluar sebagai Juara 1 Lomba Jurnalistik Kategori Pelajar yang digelar oleh Kodam VI/Mulawarman dalam rangka peringatan HUT ke-68. Siapa sangka, prestasi prestisius ini lahir dari sebuah "kecelakaan" yang manis.
Awalnya, Tyta sama sekali tidak melirik dunia jurnalistik tulis. Dengan kamera di tangan, ia justru berbulan-bulan menyiapkan karya terbaiknya untuk berlaga di kategori fotografi. Namun, manusia hanya bisa berencana.
"Awalnya saya siapkan foto untuk lomba fotografi. Namun karena terlambat dan ada syarat yang tidak terpenuhi, saya sempat bingung," kenang Tyta membuka cerita.
Di tengah keputusasaan itu, sang guru pembimbing jeli melihat potensi lain dalam diri Tyta. Sang guru memutar kemudi, mengarahkan siswinya itu untuk beralih ke lomba jurnalistik. Waktu yang mepet tak jadi alasan untuk mundur.
Di bawah bimbingan intensif gurunya, Tyta mulai merajut kata demi kata. Mengawinkan latar belakangnya sebagai anak pertanian dengan kecintaan pada tanah kelahiran, lahirlah sebuah karya magis berjudul Emas Merah dari Linggang Melapeh: Kopi, Petani, dan Janji Generasi Muda untuk Kedaulatan Pangan NKRI.
Sebuah tulisan yang tidak hanya bicara tentang komoditas, tetapi juga tentang nasionalisme, peluh petani, dan tongkat estafet pemuda di tapal batas.
Bagi seorang siswi SMK Pertanian, berpindah haluan menjadi seorang "wartawan dadakan" jelas memicu adrenalin. Dunia tulis-menulis dan wawancara berbanding terbalik 180 derajat dengan aktivitas praktiknya sehari-hari di sekolah.
Tantangan terberat datang saat ia harus mempertanggungjawabkan karyanya di hadapan para penguji. Melalui layar virtual Zoom di Makodim 0912/Kubar, Tyta harus mempresentasikan esainya.
"Saya sempat nervous, gugup sekali saat harus presentasi. Tapi di saat seperti itu, saya hanya bisa berdoa dan menyerahkan sepenuhnya dalam campur tangan Tuhan," tutur Tyta dengan nada suara yang kembali bergetar, mengingat momen menegangkan itu.
Ikhtiar dan doa Tyta terjawab tunai. Dari total 60 peserta yang berasal dari seantero Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara), tulisan apik tentang kopi Linggang Melapeh itu perlahan merangkak naik.
Pada babak penyisihan, Lolos masuk 5 besar. Kemudian pada Babak Semifinal, menembus ketatnya persaingan 3 besar.Babak final menghadapi penilaian krusial dari dewan juri.
Tak main-main, kurator yang menilai karya peserta adalah para punggawa media arus utama di Bumi Etam, yakni dari Kaltimpost.id, Balikpapan Pos, dan Tribun Kaltim. Kejelian Tyta dalam memotret realitas pertanian lokal lewat sudut pandang jurnalistik rupanya berhasil memikat hati para juri senior tersebut.
Karya Tyta dinobatkan sebagai yang terbaik, Juara Satu Kategori Pelajar. Atas capaian luar biasa ini, Tyta mendapat kehormatan untuk terbang langsung dan menginjakkan kaki di Markas Kodam VI/Mulawarman guna menerima penghargaan langsung dari petinggi TNI AD.
Keberhasilan ini disadari Tyta bukanlah miliknya belaka. Di balik piala yang didekapnya, ada rentetan doa dan kerja keras orang-orang di sekelilingnya. Dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru, ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam.
"Prestasi ini saya persembahkan untuk semua pihak yang terus mengalirkan dukungan. Terima kasih kepada guru pembimbing yang tidak menyerah. (*)
Editor : Sukri Sikki