KAS Group Perkuat Sawit Berkelanjutan, Enam Perusahaan Kantongi ISPO

Sunardi Kaltim Post • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:49 WIB
Tim KAS Group bersama pihak terkait dalam rangkaian proses sertifikasi ISPO sebagai bagian dari komitmen memperkuat tata kelola sawit berkelanjutan.
Tim KAS Group bersama pihak terkait dalam rangkaian proses sertifikasi ISPO sebagai bagian dari komitmen memperkuat tata kelola sawit berkelanjutan.

 
KALTIMPOST.ID, SENDAWAR – Di tengah semakin ketatnya tuntutan pasar global terhadap praktik perkebunan berkelanjutan, sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) menjadi salah satu tolok ukur penting bagi perusahaan sawit dalam menjalankan tata kelola usaha yang bertanggung jawab.

Bagi Kalimantan Agro Sukses (KAS) Group, sertifikasi ISPO bukan sekadar pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang untuk membangun industri sawit yang berdaya saing, transparan, dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut kembali dibuktikan pada Juni 2026. Empat anak perusahaan KAS Group, yakni PT Agro Manunggal Selaras (AMS), PT Borneo Citra Persada Jaya (BCPJ), PT Borneo Citra Persada Abadi (BCPA), dan PT Borneo Citra Persada Mandiri (BCPM), resmi memperoleh sertifikat ISPO.

Baca Juga: Profil Letjen TNI Lucky Avianto, Jenderal Kopassus yang Pimpin Upacara HUT ke-81 RI di Bekas Markas

Sertifikasi tersebut mencakup sekitar 50 ribu hektare areal perkebunan dan tiga pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Kalimantan Timur. Pencapaian ini melengkapi dua sertifikat ISPO yang sebelumnya diraih PT Citra Palma Pertiwi (CPP) dan PT Setia Agro Abadi (SAA).

Hingga pertengahan 2026, sebanyak enam perusahaan dan tiga pabrik kelapa sawit di bawah naungan KAS Group telah mengantongi sertifikasi ISPO. Dengan capaian tersebut, sekitar 80 persen unit usaha KAS Group telah tersertifikasi, dengan target seluruh unit memperoleh sertifikat pada 2027.

Keberhasilan tersebut bukan hasil yang instan. Sustainability KAS Group Adi Bijaksana menjelaskan, persiapan telah dilakukan selama bertahun-tahun melalui berbagai pembenahan sejak 2021–2022.

Pembenahan meliputi pembangunan fasilitas pendukung, penyediaan sarana dan prasarana bagi karyawan, pemenuhan legalitas dan perizinan, penerapan prinsip dan kriteria ISPO, hingga penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara bertahap dan terukur.

“Dari awal pembukaan lahan hingga menghasilkan, kami berupaya memastikan seluruh proses berjalan dengan baik. Itu yang menjadi modal utama kami untuk percaya diri mengikuti sertifikasi ISPO,” ujar Adi Bijaksana, Rabu (19/8/2026).

Pengajuan sertifikasi baru dilakukan pada 2025 setelah seluruh dokumen dan persyaratan dinilai memenuhi regulasi terbaru. Proses tersebut juga didahului audit internal sebelum memasuki tahap audit resmi.

Adi menegaskan, tantangan terbesar bukan hanya pada aspek administratif, tetapi juga memastikan konsistensi penerapan kebijakan di seluruh tingkatan organisasi.

Baca Juga: Bupati Frederick Buka HKG PKK ke-54 di Kutai Barat, Dorong Keluarga Tangguh Menuju Generasi Emas

“ISPO pada dasarnya adalah sistem kepatuhan. Ketika perusahaan sudah memiliki komitmen, tantangannya adalah bagaimana memastikan seluruh elemen memahami dan menjalankannya secara berkelanjutan,” katanya.

Bagi KAS Group, sertifikasi ISPO tidak hanya menjadi instrumen kepatuhan terhadap regulasi pemerintah, tetapi juga alat ukur untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan usaha, kesejahteraan manusia, dan kelestarian lingkungan.

Konsep triple bottom line, yakni profit, people, dan planet, menjadi landasan strategi bisnis jangka panjang KAS Group. Saat ini, perusahaan juga tengah mempersiapkan dua anak usaha lainnya untuk mengikuti sertifikasi ISPO.

Selain itu, KAS Group mulai mempertimbangkan langkah berikutnya melalui sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

“Untuk saat ini fokus kami tetap pada ISPO karena sifatnya mandatori. Tetapi ke depan, RSPO menjadi salah satu opsi yang ingin kami tempuh secara bertahap,” pungkas Adi.

Sementara itu, ISPO Scheme Manager PT Global Gateway Certifications Indonesia (GGCI) Vallen Sakti Maulana menjelaskan, proses audit terhadap empat perusahaan KAS Group dimulai sejak Januari 2026. Sertifikat kemudian diterbitkan dan diserahkan pada 6 Juni 2026.

Menurut Vallen, seluruh aspek dinilai secara menyeluruh, mulai dari legalitas usaha, praktik perkebunan, pengelolaan lingkungan, perlindungan hak pekerja, hubungan dengan masyarakat, hingga transparansi rantai pasok.

“Perusahaan perkebunan tidak bisa berdiri sendiri. Mereka berada di tengah masyarakat dan lingkungan,” ujar Vallen. (*)

Editor : Ery Supriyadi
sawit berkelanjutan KAS Group ispo perkebunan sawit