Danau Jempang Mengering, Warga Kini Bisa Naik Motor

Sunardi Kaltim Post • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:55 WIB
Danau Jempang di Kutai Barat mengering akibat penyusutan debit air. Dasar danau yang berlumpur kini bisa dilintasi kendaraan bermotor.
Danau Jempang di Kutai Barat mengering akibat penyusutan debit air. Dasar danau yang berlumpur kini bisa dilintasi kendaraan bermotor.

 

KALTIMPOST.ID, SENDAWAR – Fenomena El Nino kembali memberikan dampak ekologis di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur. Danau Jempang, danau terbesar di antara puluhan danau di sepanjang alur Sungai Mahakam dengan luas mencapai 15.000 hektare, mengalami penyusutan debit air secara drastis hingga mengering.

Dasar danau yang biasanya dipenuhi air dengan kedalaman rata-rata 7–8 meter kini sebagian besar berubah menjadi daratan berlumpur yang retak dan kering. Kondisi tersebut tidak hanya mengubah lanskap alam Kutai Barat, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Camat Jempang Lorensius Itang mengatakan, fenomena tersebut tergolong langka dan biasanya terjadi dalam rentang empat hingga lima tahun sekali. Pada musim kemarau normal, kata dia, debit air danau biasanya hanya mengalami penurunan.

“Sudah seminggu mengering. Saat ini masyarakat bisa menggunakan kendaraan bermotor di atas tanah danau yang kering,” ujarnya kepada Kaltim Post, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga: TPST Karang Joang Tekan Sampah, Buka Lapangan Kerja

Kondisi tersebut juga membuat akses menuju Pulau Kelapa berubah. Jika sebelumnya harus menggunakan perahu, kini masyarakat dapat menuju kawasan wisata tersebut dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor.

“Terkait fenomena ini, kami mengajak masyarakat tetap waspada, terutama terhadap potensi bahaya kebakaran, serta tetap bersabar dan berdoa,” pungkasnya.

Di tengah kekeringan, sebagian warga justru memanfaatkan kondisi tersebut untuk menangkap ikan. Namun, melimpahnya hasil tangkapan membuat harga ikan mengalami penurunan.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Kecamatan Jempang dan Muara Muntai, menyusutnya air danau memaksa mereka beradaptasi untuk mempertahankan kehidupan.

“Pola hidup kami sangat bergantung pada alam. Saat danau penuh terisi air, kami turun sebagai nelayan. Namun, saat danau kering total seperti sekarang, kami harus memutar otak dan beralih menjadi petani di tanah endapan danau demi menyambung hidup,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat setempat.

Baca Juga: Deretan Brevet Langka Letjen TNI Lucky Avianto yang Duduki Markas KKB

Aktivitas penangkapan ikan pun praktis terhenti. Ikan air tawar seperti gabus, baung, patin, dan jelawat kehilangan habitatnya. Sebagian warga kini memanfaatkan lahan yang mengering untuk menanam berbagai jenis sayuran.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Barat mencatat, siklus kekeringan ekstrem tersebut turut memperparah kondisi hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam.

Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat. Surutnya Danau Jempang juga mengancam rantai makanan satwa liar. Berbagai jenis burung air, seperti kuntul, pecuk ular, blekok, dan bangau, terlihat kesulitan mencari sumber makanan di area lumpur yang mengering.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait kini melakukan langkah antisipasi terhadap berbagai dampak lanjutan akibat kekeringan Danau Jempang. (*)

Editor : Ery Supriyadi
Danau Jempang kekeringan Kutai Barat sungai mahakam el nino Jempang