Kemarau Panjang, Petani Kubar Bimbang di Tengah Semburat Bunga Tanaman Buah

Sunardi Kaltim Post • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 12:16 WIB
Bakal buah lebat musim ini, namun berpotensi layu dan gagal panen jika kemarau panjang terus berlanjut tanpa hujan.( K.SUNARDI/KP)
Bakal buah mangga lebat musim ini, namun berpotensi layu dan gagal panen jika kemarau panjang terus berlanjut tanpa hujan.(K.SUNARDI/KP)    

 

KALTIMPOT.ID, SENDAWAR - Harapan akan panen raya di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) sejatinya mulai merekah. Di sepanjang pekarangan hingga kebun milik warga, pohon-pohon buah khas daerah seperti durian, rambutan, hingga asam kuini, dan asam empelam mulai memperlihatkan tanda-tanda kehidupan.

Bunga-bunga mekar anggun dan bakal buah terkumpul bergelantungan di dahan. Namun, bagi para petani setempat, pemandangan indah ini justru menyelimuti dada mereka dengan kekhawatiran yang mendalam.

Baca Juga: Kualitas Udara Mahulu Tidak Aman, Diskes Ingatkan Warga Waspadai Kabut Asap​

Ancaman kehancuran panen membayang akibat musim kemarau panjang yang tak kunjung usai. Kekeringan ekstrem yang melanda wilayah Kubar membuat pasokan air tanah merosot tajam, mengancam proses pembentukan buah yang amat rentan pada tahap awal ini. 

Tanpa asupan air yang memadai, bunga yang sedang bermekaran serta bakal buah yang baru tumbuh terancam rontok sebelum sempat membesar.

Baca Juga: Dokter Gia Kunjungi RS Pertamina Balikpapan: Hadirkan Semangat, Empati, dan Apresiasi

​Fransiskus, salah seorang pekebun atau petani buah di Kabupaten Kubar, mengungkapkan rasa cemasnya saat menyaksikan kondisi kebun miliknya. Meski bunga dan bakal buah tumbuh melimpah, pasokan air yang kian menipis membuat nasib panen kali ini berada di ujung tanduk.

​"Pohon durian dan rambutan  serta asam kami memang lagi lebat-lebatnya keluar bunga dan racuk bakal buah. Tapi kalau hujan tidak kunjung turun dalam beberapa minggu ke depan, bunga-bunga ini bisa gugur semua kena panas terik," ujar Fransiskus pada Selasa (6/10/2026).

​Fenomena gugurnya bunga dan gagalnya pembentukan buah akibat stres air merupakan ancaman nyata bagi perekonomian warga Kutai Barat yang mengandalkan komoditas buah musiman. Apalagi kebanyakan tanaman buah milik petani buah, masih dilakukan secara tradisional mengandalkan alam atau lebih dikenal dengan lembo (sekumpulan tanaman buah yang ditanam disuatu area), tidak dibuatkan kebun sehingga cukup menyulitkan dalam penyiraman.

Tanpa penanganan yang cepat dan curahan hujan yang dinanti, potensi panen melimpah tahun ini berisiko sirna, menyisakan kerugian bagi para petani yang bergantung pada hasil bumi mereka. (*)

Editor : Sukri Sikki
petani tanaman kubar kemarau buah-buahan