KALTIMPOST.ID – Jarum jam di dinding kamar hotel menunjuk tepat pukul delapan malam. Suasana kamar yang semula terasa nyaman mendadak terasa makin sempit oleh deru napas saya sendiri. Di atas tempat tidur berseprai putih kaku yang tersingkap separuh, seluruh barang bawaan saya berjejer rapi: paspor bersampul hijau tua yang tepinya mulai sedikit mengelupas, lembaran tiket, visa, dokumen kesehatan, dompet, hingga kantong obat-obatan pribadi.
Jemari saya yang terasa agak dingin bergerak teliti menyentuh satu per satu benda tersebut. Saya menghitung ulang dan mencocokkannya dengan daftar di dalam kepala. Bagi seseorang yang lahir dan tumbuh di kampung, perjalanan menuju tempat ziarah di Timur Tengah bukan sekadar perjalanan fisik atau liburan biasa. Ini adalah panggilan jiwa, sebuah muara dari doa-doa yang selama bertahun-tahun diucapkan dengan bisikan paling lirih pada sepertiga malam. Ketakutan akan adanya barang yang tertinggal bukan sekadar takut kehilangan materi, melainkan kecemasan jika ada cela dalam ikhtiar menyambut undangan suci ini.
Setelah meyakinkan diri bahwa tidak ada satu pun barang yang tercecer, saya menarik napas panjang. Saya menatap pantulan diri di cermin lemari hotel, seorang pria biasa dengan jaket tebal yang siap melangkah ke belahan dunia lain. Dengan gerakan mantap, saya merapatkan ritsleting koper utama, lalu menggenggam erat gagangnya. Perjalanan besar ini resmi dimulai dengan langkah pertama keluar dari ambang pintu kamar.
Baca Juga: Rizky Sholeh Raih Perunggu Nasional, Pembinaan Panjat Tebing Kutim Berbuah Prestasi
Sesampainya di lobi hotel, pemandangan riuh nan hangat langsung menyapa indra pendengaran saya. Gelombang energi positif terpancar dari belasan hingga puluhan peserta ziarah lainnya. Wajah-wajah yang diterpa cahaya lampu kristal lobi tampak berseri. Senyum tulus mengembang, berpadu dengan obrolan ringan yang penuh rasa syukur.
Di sudut luar lobi, koper-koper besar milik rombongan telah menumpuk bagaikan benteng kecil. Para petugas dengan cekatan mengangkat dan menyusun satu per satu koper tersebut ke dalam bagasi bus pariwisata yang mesinnya menderu halus. Koper saya pun ikut dipindahkan dan disimpan dengan aman di bagasi bawah.
Tepat pukul 21.00 WIB, instruksi untuk masuk ke dalam bus terdengar. Saya memilih duduk di dekat jendela. Roda bus mulai berputar pelan, membelah jalanan kota yang disinari lampu-lampu jalan Jakarta dan Tangerang. Dari balik kaca, saya menatap bayangan gedung-gedung tinggi yang perlahan menjauh. Di dalam bus yang remang-remang, terdengar lantunan doa perjalanan yang dipimpin ketua rombongan. Setiap bait doa merambat perlahan ke dalam dada, mengikis sisa kecemasan dan menggantinya dengan kepasrahan mendalam.
Badai Kecil di Tempat Pemeriksaan Imigrasi
Perjalanan tak sampai satu jam sebelum bus kami akhirnya berhenti di pelataran Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bangunan bandara yang megah dan futuristis itu berdiri kokoh di bawah langit malam. Setelah menurunkan tas kabin dan merapikan pakaian, rombongan kami melangkah beriringan memasuki gedung terminal menuju area Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) keberangkatan luar negeri.
Satu per satu peserta ziarah berbaris rapi di jalur pemeriksaan otomatis atau autogate. Mesin canggih ini dirancang untuk mempercepat proses pemeriksaan dokumen. Penumpang cukup meletakkan halaman identitas paspor di atas kaca pemindai, menatap kamera pemindai wajah, lalu pintu kaca transparan akan terbuka secara otomatis. Saya memperhatikan rekan-rekan serombongan di depan. Mereka menempelkan paspor dan pintu terbuka dengan lancar hanya dalam hitungan detik.
Tiba giliran saya. Saya melangkah mantap, berdiri di atas garis petunjuk, lalu menempelkan halaman biodata paspor ke kaca pemindai autogate. Saya menunggu bunyi bip yang melegakan itu.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Lampu indikator mesin berkedip merah dan menampilkan pesan kesalahan pada layar. Saya menarik paspor, mengusap permukaannya dengan lengan jaket untuk memastikan tidak ada debu yang menghalangi, lalu menempelkannya kembali dengan sedikit penekanan. Hasilnya nihil. Lampu merah kembali menyala. Saya mencoba untuk ketiga kalinya, kali ini dengan mengarahkan pandangan lurus ke sensor kamera. Mesin tetap tidak bereaksi.
Di belakang saya, antrean mulai mengular. Beberapa calon penumpang yang tak sabar perlahan menggeser posisi dan berpindah ke jalur sebelah. Tatapan ragu orang-orang mulai tertuju kepada saya. Seorang petugas imigrasi yang berjaga kemudian mendekat, mengambil alih paspor saya, dan mencobanya kembali di mesin lain. Namun, hasilnya tetap sama. Pintu kaca tidak mau terbuka.
Konter Manual dan Bayangan Kegagalan
“Bapak ikut saya ke konter manual, ya, biar dicek lebih lanjut oleh petugas di dalam,” ujar petugas tersebut seraya memberi isyarat tangan.
Pada momen itulah, sebuah pukulan psikologis menghantam dada saya. Jantung berdegup kencang dan tidak teratur. Rasa dingin yang teramat sangat merayap dari telapak kaki hingga ke tengkuk. Saat melangkah mengikuti petugas menuju konter pemeriksaan manual, mata saya sempat menyapu ke arah dalam. Di balik dinding kaca yang memisahkan lorong menuju ruang tunggu keberangkatan, peserta ziarah lainnya tampak berjalan santai.
Baca Juga: Fasilitas Lengkap, Gerai Koperasi Merah Putih Gunung Bahagia Masih Sepi Barang
Mengapa hanya saya yang tersangkut di sini? Apakah ada berkas saya yang salah? Bagaimana kalau saya batal berangkat malam ini? Bagaimana dengan niat suci yang sudah saya pupuk bertahun-tahun?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar bagaikan pusaran angin di dalam kepala. Bayangan wajah keluarga di rumah yang telah melepas saya dengan tangis haru mendadak berkelebat. Ketakutan akan kegagalan, ditambah perasaan terisolasi karena menjadi satu-satunya orang yang bermasalah, membuat tenggorokan saya terasa sangat kering.
Saya duduk di depan konter kaca imigrasi manual. Di balik kaca tebal itu, seorang petugas menatap layar komputer, lalu memandang wajah saya secara bergantian seraya mengajukan beberapa pertanyaan mendasar seputar data diri. Saya menjawab dengan suara sedikit bergetar, berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang. Jemari petugas itu menari cepat di atas papan ketik. Bunyi ketukan tombol yang nyaring terasa bagai detak waktu yang menentukan nasib perjalanan saya.
Setelah beberapa menit yang terasa bagaikan berabad-abad, raut wajah petugas imigrasi itu perlahan melunak.
“Begini, Pak,” jelasnya dengan tenang. “Sistem autogate kami secara otomatis memblokir paspor Bapak karena dalam basis data nasional ada beberapa nama yang ejaan dan kombinasinya sangat mirip dengan nama Bapak. Nama-nama tersebut saat ini sedang masuk dalam daftar pencekalan keberangkatan ke luar negeri.”
Baca Juga: Kebakaran di Tenggarong, Perjuangan Ayah Selamatkan Dua Buah Hati Berakhir Pilu
Ia melanjutkan bahwa setelah dilakukan verifikasi manual melalui NIK, tanggal lahir, serta pencocokan data diri, identitas saya dinyatakan bersih dan tidak memiliki keterkaitan dengan daftar pencekalan tersebut.
Cetak!
Suara stempel imigrasi yang menghantam lembar paspor saya terdengar bagaikan musik paling indah di dunia. Paspor diserahkan kembali melalui celah kaca. Rasa lega yang luar biasa seketika membuncah di dalam dada, mengusir tuntas rasa takut yang sempat membekukan darah saya beberapa menit sebelumnya.
Takjub Memandang Sang Raksasa Udara
Setelah merapikan kembali dokumen ke dalam tas kecil yang menggantung di dada, saya bergegas menuju ruang tunggu dan bergabung kembali dengan rombongan yang menyambut saya dengan tatapan lega. Tak lama kemudian, panggilan untuk memasuki pesawat atau boarding bergema melalui pengeras suara bandara.
Kami berjalan beriringan menyusuri boarding gate, lalu memasuki garbarata, lorong penghubung berpendingin udara yang mengantarkan penumpang menuju pintu pesawat. Begitu sampai di ujung garbarata, langkah kaki saya mendadak terhenti secara refleks. Mata saya membelalak mengagumi pemandangan di balik dinding kaca.
Di sana, berdiri anggun di bawah sorotan lampu apron bandara, sesosok raksasa besi tampak begitu besar. Pesawat itu milik Emirates Airlines, maskapai penerbangan nasional Uni Emirat Arab (UEA).
Bagi saya yang sebelumnya hanya terbiasa melihat dan menumpangi pesawat komersial domestik berukuran sedang dengan satu lorong di tengah, melihat pesawat jarak jauh berbadan lebar (wide-body aircraft) dari jarak beberapa meter secara langsung merupakan sebuah keajaiban visual. Skalanya sungguh fantastis! Badannya menjulang tinggi bagaikan gedung bertingkat yang dilengkapi sepasang sayap raksasa, dengan dua mesin turbofan berdiameter besar yang menggantung perkasa di bawahnya. Rasa takjub membuncah di dada. Ada perasaan kerdil sekaligus kagum terhadap teknologi manusia yang diizinkan Tuhan untuk menaklukkan angkasa.
Saya melangkahkan kaki melewati pintu masuk pesawat, disambut senyum hangat dan sapaan ramah para awak kabin yang mengenakan seragam elegan bernuansa emas dan cokelat khas Timur Tengah. Suasana di dalam kabin terasa sangat lapang, bagaikan berada di aula berjalan yang mewah. Lampu kabin diatur redup dan menenangkan, memancarkan nuansa warna amber dan kebiruan.
Dari segi tata letak, kabin tempat kami berada terasa begitu luas karena terbagi menjadi tiga kelompok tempat duduk dengan dua lorong (aisle) yang memanjang dari depan hingga belakang. Konfigurasi kursinya terdiri atas 10 kursi di setiap baris, terbagi menjadi tiga kelompok dengan susunan 3–4–3. Jajaran ratusan kursi yang berderet rapi hingga ke bagian belakang menegaskan betapa besarnya kapasitas angkut sang raksasa udara ini.
Saya menyusuri lorong kabin menuju bagian belakang. Di sanalah letak nomor kursi yang tertera pada kartu boarding saya. Begitu sampai, senyum syukur kembali mengembang. Sebuah keberuntungan kecil, tetapi sangat berarti bagi seseorang yang baru pertama kali melakukan perjalanan jauh, saya mendapat tempat duduk tepat di samping jendela. Saya segera duduk, menyimpan tas kecil di kolong kursi depan, lalu mengencangkan sabuk pengaman.
Pukul 23.00 WIB: Membelah Malam Menuju Abu Dhabi
Tepat pukul 23.00 WIB, bunyi denting lembut terdengar di seluruh kabin, disusul pengumuman dari kapten pilot yang menginformasikan bahwa pesawat siap melakukan dorong mundur (pushback). Pesawat Emirates Airlines itu bergerak perlahan, menyusuri jalur taksi menuju ujung landasan pacu. Di dalam kabin yang gelap, lampu utama dimatikan.
Baca Juga: Rudal Balistik Houthi Hantam Kantor Saudi Aramco di Dhahran, Kebakaran Terjadi di Gedung Perkantoran
Ketika mesin bergetar hebat dan suara derunya melengking tinggi, tubuh saya terdorong kuat ke sandaran kursi. Raksasa besi itu melaju sangat cepat di atas landasan, lalu dengan mulus mengangkat hidungnya, melepaskan diri dari gravitasi bumi, dan melesat menembus kegelapan malam Jakarta. Perjalanan membelah angkasa menuju Abu Dhabi pun resmi dimulai.
Meskipun duduk di dekat jendela, pemandangan di luar sepenuhnya pekat karena penerbangan berlangsung pada tengah malam. Namun, rasa bosan sama sekali tidak sempat menghampiri karena di hadapan saya terpasang layar hiburan sentuh berukuran kecil dengan fitur yang canggih.
Layar hiburan ini menjadi jendela visual baru bagi saya. Melalui menu kamera eksternal, saya bisa memilih sudut pandang yang menakjubkan, mulai dari arah depan penerbangan hingga pemandangan tepat di bawah badan pesawat. Tak hanya itu, layar tersebut juga menampilkan peta navigasi interaktif (flight tracker) yang memperlihatkan posisi terkini pesawat, ketinggian penerbangan, kecepatan angin, hingga perkiraan waktu tiba di tujuan secara waktu nyata (real-time).
Setelah puas menjelajahi berbagai fitur, mencoba sudut pandang kamera, dan membolak-balik daftar film yang melimpah hingga sedikit bosan, rasa kantuk perlahan datang menyerang. Saya pun tertidur lelap di tengah desing mesin pesawat yang stabil.
Kelezatan Cita Rasa Timur Tengah di Atas Awan
Aroma harum makanan yang merebak di udara serta sapaan ramah pramugari tiba-tiba membangunkan saya dari tidur lelap. Dengan senyum hangat, pramugari menawarkan hidangan dan beragam pilihan minuman segar nonalkohol, seperti jus buah dan soda.
Hidangan khas Emirates Airlines disajikan dengan sangat rapi. Sebagai orang kampung, bentuk, warna, dan racikan bumbunya, jujur saja, tampak cukup asing dan unik di mata saya. Makanan tersebut disajikan dengan nasi berbutir panjang atau basmati serta lauk bersaus kaya rempah. Awalnya, ada sedikit keraguan. Namun, aroma hangat kayu manis dan kapulaga yang menyeruak sungguh menggugah selera.
Begitu sendok pertama menyentuh lidah, kekhawatiran saya mendadak sirna. Rasanya sungguh lezat, gurih, kaya rempah, dan hangat di perut. Makanan yang awalnya terlihat asing itu justru menjadi salah satu santapan paling nikmat yang pernah saya nikmati selama perjalanan.
Pagi di Abu Dhabi, Lanjut Menuju Kairo
Penerbangan belasan jam berlalu tanpa terasa. Sekitar tiga jam sebelum pesawat dijadwalkan mendarat, para pramugari kembali menyusuri koridor untuk membagikan sarapan. Tanpa ragu, saya memilih menu yang sama dengan hidangan sebelumnya karena rasanya sangat cocok di lidah.
Awalnya, saya membayangkan penerbangan belasan jam ini akan menjadi pengalaman yang sangat melelahkan dan menyiksa fisik. Namun, bayangan buruk itu sirna. Kombinasi fasilitas hiburan yang nyaman dan waktu tidur yang cukup membuat perjalanan panjang ini terasa singkat dan menyenangkan.
Pukul 06.00 waktu Abu Dhabi, roda pesawat menapak mulus di landasan Bandara Internasional Abu Dhabi. Udara pagi dan hamparan lanskap Timur Tengah menyambut kedatangan kami. Saya bersama rombongan peserta ziarah segera diarahkan menuju area transit internasional. Kami tidak perlu repot mengurus koper karena seluruhnya telah ditransfer oleh pihak maskapai untuk penerbangan lanjutan.
Setelah menyusuri area transit bandara yang megah, kami kembali bersiap untuk mengangkasa. Perjalanan udara tahap kedua dari Abu Dhabi, UEA, menuju Kairo, Mesir, memakan waktu sekitar 3 jam 35 menit hingga 4 jam 15 menit dengan menggunakan tipe pesawat yang sama.
Dengan semangat yang kembali terkumpul dan rasa gugup yang telah terbayar lunas, kami siap menuntaskan etape perjalanan berikutnya demi menapakkan kaki di bumi para nabi. (*)
Editor : Ery Supriyadi