Satu Abad Misi MSF di Borneo: Bupati Kubar Resmikan Museum Pater Berthier Barong Tongkok

Sunardi Kaltim Post • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 15:37 WIB
SEJARAH: Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin menandatangi prasasti peresmian Museum Pater Bertheir Servus Salutis. IST/KP
SEJARAH: Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin menandatangi prasasti peresmian Museum Pater Bertheir Servus Salutis. IST/KP

KALTIMPOST.ID, SENDAWAR - Jejak langkah satu abad karya misi keagamaan dan kemanusiaan di tanah Borneo mendapat momentum emas.

Bupati Kutai Barat (Kubar), Frederick Edwin, secara resmi membuka dan meresmikan Museum Pater Berthier Servus Salutis di kompleks Paroki Kristus Raja Barong Tongkok, Sabtu (17/10/2026).

Peresmian bersejarah ini bertepatan dengan perayaan 100 tahun atau satu abad karya misi tarekat Missionarii a Sacra Familia (MSF) di Kalimantan–Indonesia.

Kehadiran museum ini sekaligus menjadi suar pengingat atas dedikasi tanpa kenal lelah para perintis iman yang menjejakkan kaki pertama kalinya di tanah Kalimantan pada tahun 1926 silam.

Baca Juga: Takluk 0-3 dari Kendal Tornado FC, Persiba Balikpapan Makin Terbenam di Dasar Klasemen

Di hadapan para tokoh agama, jajaran pemerintah daerah, serta ratusan umat yang memadati lokasi acara, Bupati Frederick Edwin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada keluarga besar MSF.

Ia menilai, torehan sejarah yang ditinggalkan oleh para misionaris telah menyatu dan memberikan warna mendalam bagi denyut kehidupan masyarakat Kubar hingga hari ini.

"Pemerintah Kabupaten Kutai Barat menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh keluarga besar MSF atas dedikasi dan pelayanan yang telah diberikan kepada masyarakat, khususnya di Kaltim sejak kedatangan tiga misionaris pertama pada 1926," ujar Bupati penuh takzim.

Lebih lanjut, kepala daerah yang akrab disapa Edwin ini menegaskan bahwa eksistensi Museum Pater Berthier Servus Salutis bukan sekadar pajangan fisik atau bangunan monumental semata.

Baca Juga: Kabut Asap Masih Selimuti Singapura, Kualitas Udara Bertahan di Level Tidak Sehat

Lebih dari itu, museum ini menyimpan lembaran sejarah hidup yang merekam pasang surut perjuangan para pewarta kabar baik di pedalaman Kalimantan.

Menurutnya, museum ini akan bertransformasi menjadi ruang edukasi publik yang strategis. Generasi muda Kutai Barat dapat belajar bagaimana memotret potret kehidupan masa lalu, sekaligus merefleksikan ketulusan para misionaris yang tidak hanya berfokus pada pelayanan rohani.

Melainkan merambah sektor-sektor vital seperti pendidikan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan masyarakat adat di pedalaman.

"Pemerintah Kabupaten Kutai Barat sangat mendukung upaya pelestarian sejarah, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dalam membangun masyarakat yang berkarakter, harmonis, dan beradab," tegasnya.

Bupati berharap, dari balik dinding museum ini akan lahir tunas-tunas muda yang memiliki kecintaan mendalam terhadap sejarah daerah, serta mewarisi semangat pelayanan, kepedulian sosial, dan budaya gotong royong yang menjadi identitas luhur masyarakat Tanaa Pura Ngeriman.

Sementara itu, Superior Jenderal MSF, RM Agustinus Purnama Sastrawijaya, dalam sambutannya mengenang kembali tonggak sejarah awal mula karya misi tersebut.

Baca Juga: Skandal Transfer Pricing Rp2 Triliun, Petinggi Toba Pulp Lestari Ditangkap di Medan, Ditahan

Ia mengingatkan kembali perjuangan heroik yang dimulai dari kedatangan tiga orang perintis asal Belanda—yang terdiri atas dua orang pastor dan satu orang bruder—ke bumi Kalimantan pada 1926 silam.

Pastor Agustinus menekankan bahwa usia satu abad ini adalah buah dari kerja keras, semangat pengorbanan, dan kolaborasi lintas elemen.

Ia mengajak seluruh umat untuk senantiasa merawat semangat persatuan di tengah keberagaman suku, agama, dan latar belakang budaya yang ada di Kutai Barat dan Mahakam Ulu.

"Perbedaan latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja sama dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Semangat kerja sama dan saling membantu yang tercermin dalam pembangunan museum ini harus terus dipelihara dalam kehidupan bermasyarakat maupun beragama," ungkap Pastor Agustinus.

Baca Juga: Balita Meninggal di Samarinda, Pihak RS Klarifikasi Isu Karhutla

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua pihak—baik para pastor, bruder, umat Katolik, hingga masyarakat luas—yang telah bergotong royong merealisasikan berdirinya Museum Pater Berthier Servus Salutis. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
bupati kutai barat Peresmian museum di Barong Tongkok Sejarah misi MSF di Borneo 100 tahun misi MSF Frederick Edwin