KALTIMPOST.ID, NUSANTARA - Di tengah hiruk-pikuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sosok AKBP Safi’i Nafsikin kembali menjejakkan kaki di Kalimantan Timur pada pertengahan September 2024 ini.
Bukan sekadar kunjungan biasa, kehadirannya kali ini dalam rangka Pengarahan Presiden RI Joko Widodo bersama Kapolri Jenderal Polisi Drs Listyo Sigit Prabowo, yang melibatkan seluruh Kapolda, Kapolrestabes, Kapolresmetro, Kapolresta dan Kapolres di Indonesia, bertempat di Istana Negara IKN.
Bagi Safi’i, kunjungan ini jauh lebih dari sekadar menjalankan tugas. Kalimantan Timur adalah tanah yang menyimpan jejak panjang kariernya di kepolisian, tempat di mana ia mengukir prestasi yang kini dikenang banyak pihak, terutama di dua kabupaten yang menjadi bagian dari pembangunan IKN: Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kartanegara (Kukar).
Safi’i tidak bisa melupakan bagaimana masa-masa ia bertugas di Kukar dan PPU, daerah yang kini menjadi pusat perhatian nasional sebagai lokasi pembangunan ibu kota negara.
Sebagai Kasatreskrim di dua kabupaten tersebut, Safi’i dikenal sebagai perwira yang berprestasi, mampu menangani kasus-kasus besar yang menggemparkan, salah satunya adalah runtuhnya Jembatan Kartanegara pada 2011.
Tragedi yang terjadi hanya dalam hitungan detik itu menewaskan puluhan orang dan merusak infrastruktur vital di Kukar.
Safi’i yang kala itu memimpin penyelidikan, berhasil menetapkan tiga tersangka dari kalangan birokrat dan kontraktor yang akhirnya diproses hukum. Prestasi ini menunjukkan ketegasan dan profesionalismenya dalam mengungkap kasus yang menyita perhatian nasional.
Tidak berhenti di situ, Safi’i juga memainkan peran penting dalam pengungkapan kasus pembantaian orangutan Kalimantan di Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Kasus ini bukan hanya mengguncang Indonesia, tetapi juga dunia internasional, ketika lebih dari seratus orangutan dibunuh oleh oknum yang terlibat dalam konflik satwa liar dan perkebunan.
Safi’i bergerak cepat, menetapkan lima tersangka, dan berhasil menghentikan pembantaian yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Reputasinya sebagai penegak hukum yang tidak gentar menghadapi kejahatan besar terus diakui hingga sekarang.
Namun, jejak karier Safi’i tidak hanya bersinar di Kalimantan Timur. Saat bertugas di Bareskrim Polri, ia kembali membuktikan kapasitasnya. Safi’i menangani sejumlah kasus berat terkait ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong di era digital yang semakin kompleks.
Dua kasus besar yang pernah ia tangani adalah kasus ujaran kebencian oleh Sugi Nur Rahardja alias Gus Nur, yang divonis enam tahun penjara karena terbukti menyebarkan hoaks tentang ijazah palsu Presiden Jokowi, serta kasus pegiat media sosial Edy Mulyadi, yang mengeluarkan pernyataan kontroversial mengenai IKN dengan menyebut lokasi tersebut sebagai “tempat jin buang anak.”
Dalam menangani kasus-kasus tersebut, Safi’i sebagai polisi yang presisi tak hanya menunjukkan keahlian dalam bidang hukum siber, tetapi juga kepekaan terhadap dampak sosial dari ujaran kebencian di tengah masyarakat yang semakin terhubung secara digital.
Prestasinya di Divisi Siber semakin memperkokoh posisinya sebagai salah satu perwira polisi yang andal dalam menghadapi tantangan era informasi.
Sejak Desember 2022, Safi’i menjabat sebagai Kapolres Palopo, Sulawesi Selatan, di mana ia terus melanjutkan pengabdian dalam menjaga keamanan dan ketertiban dengan sangat presisi.
Kariernya yang panjang menunjukkan fleksibilitasnya dalam berbagai bidang penegakan hukum, mulai dari tindak pidana umum hingga kejahatan siber, dengan berbagai prestasi yang telah ditorehkan.
Kini, ketika ia kembali ke Kalimantan Timur, Safi’i tak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menyaksikan bagaimana daerah yang dulu ia jaga kini berubah menjadi pusat perhatian nasional. Pembangunan IKN, yang mencakup wilayah PPU dan Kukar, membuat Safi’i bangga.
Dengan pengalaman yang ia miliki, Safi’i mengerti betul dinamika wilayah ini, dari aspek sosial hingga tantangan keamanannya.
Melihat perkembangan pesat di wilayah-wilayah yang pernah menjadi tanggung jawabnya, Safi’i merasa bahwa Kalimantan Timur memang layak menjadi ibu kota baru Indonesia.
“Ini bukan hanya nostalgia, tetapi juga kebanggaan. Saya melihat Kalimantan Timur sudah lama siap untuk menjadi pusat pemerintahan, dengan segala kearifan lokal dan posisi geografisnya yang strategis di tengah Indonesia,” ujar Safi’i.
Menurutnya, IKN tidak hanya akan membawa perubahan besar bagi Kalimantan Timur, tetapi juga bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Dalam kesempatan kembali ke Bumi Etam menghadiri pengarahan Presiden RI Joko Widodo dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Safi’i melihat masa depan yang cerah bagi Kalimantan Timur.
Tugas menjaga keamanan di wilayah strategis seperti IKN tentu bukan hal yang mudah, tetapi Safi’i yakin dengan pengalaman panjangnya di PPU dan Kukar, Kalimantan Timur dapat menjadi ibu kota negara yang aman, sejahtera, dan berkembang pesat.
Perjalanan Safi’i Nafsikin sebagai perwira polisi bukan hanya kisah tentang dedikasi, tetapi juga tentang adaptasi dan prestasi di berbagai medan tugas. Dari hutan-hutan lebat di Muara Kaman hingga hiruk-pikuk dunia siber di Bareskrim, Safi’i telah membuktikan dirinya sebagai sosok yang selalu berada di garda terdepan dalam menjaga hukum dan ketertiban.
Kini, saat ia kembali ke Kalimantan Timur, Safi’i tak hanya mengenang masa-masa tugasnya, tetapi juga menyaksikan bagaimana daerah yang pernah ia jaga tengah bertransformasi menjadi pusat pemerintahan baru Indonesia—sebuah babak baru yang tak terpisahkan dari perjalanan panjangnya sebagai abdi negara. (*)
Editor : Thomas Priyandoko