KALTIMPOST.ID, TENGGARONG - Di tepi Sungai Belayan, kehidupan masyarakat tiga kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara terus berjalan, tetapi dengan beban yang semakin berat.
Sungai yang membentang luas ini dulunya menjadi jalur utama, urat nadi bagi kehidupan warga di Kecamatan Kenohan, Kembang Janggut, dan Tabang.
Airnya tak hanya mengalir sebagai sumber kehidupan sehari-hari, tetapi juga menopang perekonomian lokal.
Bagi warga, Sungai Belayan adalah jantung dari segalanya—dari transportasi hingga penghidupan.
Namun, di balik riak air yang tenang, masalah besar sedang mengintai. Sedimentasi yang terjadi sepanjang aliran sungai telah mempersempit lebar sungai, dari semula 200-250 meter menjadi hanya 100-150 meter.
Pendangkalan ini tak hanya mengubah lanskap fisik Sungai Belayan, tetapi juga mulai menekan kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
“Aktivitas warga terganggu, apalagi saat kejadian kapal warga yang kandas beberapa waktu lalu,” ungkap Aspirun, seorang warga Desa Kelekat di Kecamatan Kembang Janggut.
Ia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya atas kondisi sungai yang semakin menyempit. Bagi Aspirun, Sungai Belayan bukan sekadar jalur air.
Ini adalah sumber kehidupan, dan sedimentasi yang parah membuat sungai ini semakin sulit diandalkan.
"Jika dibiarkan, bukan hanya aktivitas transportasi yang terganggu, tetapi kehidupan masyarakat di sepanjang sungai juga terancam," tambahnya dengan nada prihatin.
Sungai Belayan yang dulunya begitu luas dan deras kini mulai menghadapi masalah serius akibat pendangkalan.
Meandering sungai, atau lekukan-lekukan alaminya, menyebabkan sedimen menumpuk dan memperparah pendangkalan.
Dampaknya tidak hanya terlihat pada ukuran sungai yang menyusut, tetapi juga pada kualitas air yang semakin menurun.
Material sedimen yang terbawa oleh aliran air mencemari sungai, memengaruhi ekosistem, dan berpotensi merusak lingkungan hidup yang ada di sekitarnya. Hal ini seharusnya menjadi perhatian utama bagi Dinas Lingkungan Hidup, yang selama ini tampak lamban dalam merespons.
Tak hanya itu, banjir yang kerap melanda wilayah sekitar Sungai Belayan hampir setiap tahun menjadi momok tersendiri bagi warga.
Yus, seorang warga Bukit Layang di Kecamatan Kembang Janggut, menjelaskan bahwa pendangkalan sungai mungkin menjadi salah satu penyebab utama banjir tersebut.
“Setiap tahun, wilayah kami selalu kebanjiran. Mungkin karena sungai sudah tidak lagi bisa menampung air sebanyak dulu,” keluh Yus.
Ia dan warga lain sebenarnya memiliki keinginan untuk melakukan normalisasi sungai dengan membersihkan endapan pasir yang menyumbat aliran air, tetapi mereka tahu bahwa tanpa bantuan pemerintah, upaya ini akan sia-sia.
Di tengah himpitan masalah ini, Fredy, Kepala Urusan Umum Desa Kelekat, menyadari bahwa para petani di desanya semakin kesulitan.
“Sungai Belayan dulu sangat membantu petani dalam mengairi lahan mereka. Sekarang, karena pendangkalan, air tidak bisa sampai ke kebun-kebun mereka,” ujarnya.
Fredy bercerita bahwa tanaman yang biasanya tumbuh subur kini mulai layu dan mati, terutama saat musim kemarau. Air hujan yang biasanya menjadi penyelamat, kali ini tak cukup membantu.
Fredy dan pemerintah Desa Kelekat sebenarnya sudah lama mendengar keluhan-keluhan warga ini. Mereka pun telah merancang rencana untuk melakukan normalisasi Sungai Belayan, khususnya di area yang melintasi Desa Kelekat. Namun, rencana besar ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.
“Normalisasi ini tidak akan berhasil tanpa dukungan dari pemerintah kecamatan hingga kabupaten. Jika perusahaan-perusahaan yang ada di Kecamatan Kembang Janggut juga bersedia membantu, kami yakin gagasan ini bisa berjalan dengan baik,” tuturnya dengan nada optimis.
Selain untuk mengembalikan aliran air yang memadai bagi petani, Fredy juga berharap bahwa normalisasi sungai bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir yang selalu menghantui warganya.
Bagi Fredy dan masyarakat di sepanjang Sungai Belayan, pengerukan sungai bukan hanya tentang memperlebar aliran air. Ini adalah langkah penting untuk memastikan kehidupan mereka tetap bertahan.
Sungai Belayan, yang dulunya menjadi simbol kemakmuran, kini memerlukan uluran tangan agar tetap bisa menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang.
Kondisi kritis Sungai Belayan saat ini adalah panggilan darurat bagi semua pihak. Normalisasi yang sudah lama diharapkan bukan hanya sekadar upaya teknis, melainkan sebuah keharusan untuk mengembalikan keseimbangan lingkungan dan menjaga kehidupan di sepanjang sungai ini.
Di tepi Sungai Belayan, masa depan ribuan warga bergantung pada seberapa cepat dan tepat tindakan diambil untuk menyelamatkan aliran air yang kian menyempit. (*)
Editor : Thomas Priyandoko