TENGGARONG – Di tengah hamparan lahan bekas tambang yang telah berubah menjadi kebun produktif, sejumlah delegasi internasional berdiri terpukau. Udara pagi di Desa Jonggon Jaya, Kukar, membawa aroma tanah basah dan dedaunan muda.
Di sinilah PT Multi Harapan Utama (MHU) menunjukkan bagaimana bekas tambang dapat hidup kembali melalui agroindustri dan ekonomi sirkular. Lebih dari 40 peserta dari sembilan negara hadir dalam kunjungan International Climate Initiative – Just Energy Transition (IKI–JET) yang diinisiasi Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) pada Rabu (15/10).
Mereka datang dari Chile, Kolombia, Mongolia, Afrika Selatan, Thailand, Vietnam, India, Kazakhstan, dan Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari program Internasional Capacity Development for Coal Regions in Transition yang mendorong pertukaran pengalaman tentang praktik transisi energi berkeadilan di wilayah penghasil batu bara.
Di lokasi yang dahulu berupa galian tambang, MHU menampilkan hasil reklamasi yang kini menjadi pusat edukasi, agroindustri, dan inovasi masyarakat lokal. Kepala Teknik Tambang MHU, Aris Subagyo mengatakan, keberhasilan transisi energi tidak semata tentang beralih ke energi baru, tapi juga membangun kembali kehidupan.
“Transisi energi yang adil bukan hanya tentang beralih dari fosil ke energi baru, tetapi juga tentang menjaga kehidupan dan memberdayakan masyarakat,” ujarnya.
Transformasi itu tidak hanya tampak dari lanskap hijau yang menggantikan lubang tambang, tetapi juga dari geliat ekonomi di sekitarnya. Salah satu kisah menonjol datang dari BUMDes Sungai Payang. Berawal dari kemitraan dalam program pemberdayaan MHU, kini BUMDes tersebut memiliki omzet mencapai Rp 19 miliar pada tahun 2024.
Lebih dari 200 warga terlibat, termasuk perempuan tunggal dan kelompok rentan ekonomi. BUMDes ini bergerak di bidang logistik, katering, dan konstruksi, bahkan menjalankan program CSR secara mandiri sejak 2020.
Keberhasilan itu menjadi contoh konkret bagaimana pascatambang dapat menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat, bukan sekadar wilayah bekas eksploitasi. Menurut perwakilan GIZ Indonesia/ASEAN, Ade Cahyat, model yang dijalankan MHU menunjukkan bahwa sektor tambang dapat berkontribusi langsung pada agenda transisi energi berkeadilan.
“Program pascatambang MHU menawarkan pelajaran berharga tentang satu contoh inisiatif perusahaan tambang batu bara melakukan rehabilitasi lahannya dan memberdayakan masyarakat lokal dan masyarakat adat,” katanya.
Pemberdayaan juga menyentuh perempuan adat Dayak Kenyah di Desa Lung Anai. Dua belas perempuan adat kini mengelola Rumah Cokelat Lung Anai, memproduksi olahan kakao dengan merek sendiri. Program ini dijalankan dengan bimbingan BUMDes Ba Waqna dan menjadi salah satu contoh pertama di Indonesia di mana produk cokelat dibuat langsung oleh masyarakat adat di kawasan pascatambang.
Transformasi lahan bekas tambang MHU tak berhenti di sektor sosial. Bersama PT Bramasta Sakti dan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Politani Samarinda), MHU menyusun kajian akademik tentang agroindustri berbasis potensi lokal.
Salah satu hasilnya adalah pupuk organik “Biomasta” yang dibuat dari kotoran sapi di Jayatama Miniranch. Pupuk ini digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah di lahan bekas tambang dan kini sedang diuji pada budidaya sereh wangi.
Selain memperkuat ekonomi lokal, kolaborasi dengan lembaga pendidikan juga menjadi bagian penting dari strategi transisi ini. Melalui Jayatama Miniranch dan demoplot hortikultura, MHU dan Bramasta membuka kesempatan praktik kerja lapangan bagi siswa SMK El Fhaluy Al Faizin dan SMK 3 Tenggarong.
Mereka belajar langsung teknik pertanian dan peternakan modern di lahan yang dulu hanya menyisakan debu tambang. “Kami percaya bahwa transformasi sejati berawal dari manusia,” kata Aris Subagyo.
Menurutnya, setiap program kami berorientasi pada pemberdayaan dan kolaborasi lintas sektor agar komunitas sekitar tambang tetap tumbuh dan mandiri. Dari kawasan yang dahulu menjadi simbol ketergantungan pada batu bara, kini muncul ekosistem baru yang menopang kehidupan.
Lahan pascatambang MHU telah berubah menjadi pusat ekonomi lokal, riset pertanian, dan pembelajaran bagi generasi muda. Di tanah yang pernah digali dalam, tumbuh kembali harapan dalam bentuk kerja, produksi, dan pengetahuan. (pms/qi/kri)
Editor : Sukri Sikki