Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

BBE-KMIA Perkuat Budaya K3 Lewat Bura Rescue Challenge  

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Jumat, 6 Februari 2026 | 21:21 WIB

Aksi Tim ERT simulasi penyelamatan dalam Bura Rescue Challenge yang berlangsung di site office PT BBE-KMIA.
Aksi Tim ERT simulasi penyelamatan dalam Bura Rescue Challenge yang berlangsung di site office PT BBE-KMIA.
 

TENGGARONG- Kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di area pertambangan menjadi perhatian serius pelaku industri tambang di Kalimantan Timur. Komitmen itu tercermin dalam pelaksanaan Bura Rescue Challenge yang kembali digelar PT Bukit Baiduri Energi dan PT Khotai Makmur Insan Abadi (BBE-KMIA), Jumat (6/2).

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional tersebut menjadi ajang uji kemampuan Emergency Rescue Team (ERT) perusahaan tambang dalam merespons situasi darurat. Sebanyak 11 perusahaan ikut ambil bagian dengan mengirimkan tim terbaiknya untuk beradu kecepatan, ketepatan, dan koordinasi dalam skenario penyelamatan korban kecelakaan kerja.

General Manager BBE-KMIA, Reno Barus, mengatakan Bura Rescue Challenge telah memasuki tahun kedua pelaksanaan. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana untuk mengasah insting, keterampilan teknis, serta kesiapan mental tim ERT dalam menghadapi potensi kecelakaan di area pertambangan.

Baca Juga: Ratusan Pejabat Kukar Dimutasi, Bupati Lakukan Penyegaran Struktural

“Bura Rescue Challenge ini sudah dua kali kami laksanakan. Tujuannya memang untuk mengasah kemampuan Emergency Rescue Team. Sangat penting bagaimana mereka merespons ketika terjadi kecelakaan di tambang,” ujar Reno.

Menurut Reno, format kompetisi dipilih agar peserta merasakan tekanan yang mendekati kondisi darurat sebenarnya. Dalam waktu terbatas, tim dituntut mengambil keputusan cepat dan tepat, mulai dari komunikasi awal, pengamanan lokasi kejadian, hingga proses evakuasi korban, dengan tetap mengacu pada prosedur keselamatan.

“Kami buka dalam bentuk kompetisi supaya mereka bisa langsung mempraktikkan tanggap darurat. Dari situ bisa dievaluasi apakah penerapan SOP sudah berjalan dengan baik atau belum,” jelasnya.

Lebih lanjut, Reno menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar lomba, melainkan bagian dari upaya membangun budaya keselamatan kerja di lingkungan BBE-KMIA. Di sektor pertambangan yang memiliki risiko tinggi, penerapan manajemen keselamatan menjadi faktor utama untuk melindungi seluruh pekerja.

Baca Juga: Jembatan Penghubung di Sebuntal Rusak, Pemkab Kukar Siapkan Jembatan Darurat

“Kami berkomitmen bahwa keselamatan adalah nomor satu. Pekerja harus bekerja dengan selamat sesuai SOP, dan itu harus dijalankan serta dikelola secara konsisten,” tegasnya.

Komitmen tersebut, lanjut Reno, tercermin dari capaian kinerja keselamatan perusahaan dalam lima tahun terakhir. BBE-KMIA mencatatkan hasil positif dengan capaian zero accident dan zero Lost Time Injury (LTI).

“Dalam lima tahun terakhir, kinerja keselamatan BBE cukup baik. Di KMIA zero accident, dan BBE zero LTI tahun lalu. Harapannya, capaian ini bisa terus dipertahankan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Bura Rescue Challenge, Toha Fahrudin, menjelaskan bahwa kompetisi ini terdiri dari tiga jenis tantangan yang disusun berdasarkan risiko kecelakaan yang paling sering terjadi di area pertambangan batu bara.

Baca Juga: Aliran Sungai Dialihkan Perusahaan, Rumah Warga Kebanjiran: Pemkab Kukar Bentuk Tim

“Tantangannya ada tiga. Pertama low angle rescue, yaitu penyelamatan korban di area lereng. Peserta harus bekerja di medan miring dengan sistem pengamanan tali,” jelas Toha.

Tantangan kedua adalah road accident rescue, yang mensimulasikan penanganan kecelakaan lalu lintas di area tambang, khususnya penyelamatan korban dari kendaraan berat (HD) dan light vehicle (LV).

Adapun tantangan terakhir adalah firefighter combat challenge, yang menguji ketahanan fisik peserta. Dengan membawa perlengkapan lengkap, peserta harus melewati sejumlah pos sebelum menyelesaikan misi penyelamatan.

“Yang ketiga firefighter combat challenge. Ini lebih ke permainan fisik, tetapi tetap mengedepankan teknik dan keselamatan,” ujarnya.

Dalam setiap tantangan, penilaian tidak hanya berfokus pada kecepatan. Tim juri juga memperhatikan aspek komunikasi, teknik penyelamatan, proses evakuasi, hingga penanganan awal terhadap korban. “Yang dinilai itu komunikasi, teknik penyelamatan, proses evakuasi, sampai penanganan atau reparasi korban,” pungkas Toha. (*/riz)

Editor : Muhammad Rizki
#Bulan K3 Nasional #PT Khotai Makmur Insan Abadi #PT Bukit Baiduri Energi