Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ansor-Banser Kaltim Gelar Ketupatan Akbar, Momentum Konsolidasi Gerakan dan Penguatan Pengabdian

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Jumat, 27 Maret 2026 | 07:23 WIB

KEBERSAMAAN: Kupatan Banser yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal Kader Ansor-Banser Kalimantan Timur, Kamis (26/3/2026) malam, di Pondok Pesantren Gaul Mata Shona.
KEBERSAMAAN: Kupatan Banser yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal Kader Ansor-Banser Kalimantan Timur, Kamis (26/3/2026) malam, di Pondok Pesantren Gaul Mata Shona.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Gelombang semangat kebersamaan dan pengabdian kader kembali bergelora dalam kegiatan Kupatan Banser yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal Kader Ansor-Banser Kalimantan Timur, Kamis (26/3/2026) malam, di Pondok Pesantren Gaul Mata Shona.

Kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia menjelma sebagai ruang konsolidasi ideologis dan penguatan barisan kader lintas daerah, dihadiri ratusan kader Ansor dan Banser dari Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Balikpapan.

Turut hadir para kiai dan tokoh penting Nahdlatul Ulama, seperti Abah Gus Ulil dan Yai Huda, Gus Ulil (Pengasuh Mata Shona), Yai Imam Syafii (Rois PCNU Samarinda), Ustad Lukman (PCNU Kutai Kartanegara), Yai Huda (Rois MWC NU Sambutan), Yai Dardiri (MWC NU Seberang), Ustad Ashar Ali, Ustad Ali, dan Yai Asroful Umam (Pengurus JATMAN Samarinda).

Kehadiran para ulama ini memperkuat legitimasi spiritual sekaligus menjadi penegas bahwa gerakan Ansor-Banser tetap berpijak pada sanad keilmuan dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Sekretaris Wilayah PW GP Ansor Kalimantan Timur Mupit Datusahlan dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini tidak boleh dipahami secara dangkal. Halal bihalal bukan hanya budaya saling maaf, melainkan warisan perjuangan yang diprakarsai oleh KH.

Wahab Hasbullah sebagai strategi sosial-politik umat untuk merajut kembali kekuatan setelah konflik. Ia mengingatkan, jika halal bihalal hanya berhenti pada seremoni, maka kader kehilangan esensi. Yang dibutuhkan adalah menjadikannya sebagai momentum untuk rekonsolidasi barisan, penyegaran komitmen pengabdian, dan penguatan loyalitas organisasi.

Lebih tajam lagi, Sekretaris Wilayah memaknai tradisi kupatan sebagai simbol yang sering dianggap sederhana, padahal sarat makna strategis. Ketupat (ngaku lepat) adalah pengakuan kesalahan, bukan sekadar basa-basi.

Janur (jatining nur) adalah kembali pada cahaya kebenaran. Anyaman adalah simbol keterikatan sosial dan kekuatan kolektif. “Kalau kader hanya hadir, makan kupat, lalu pulang tanpa perubahan sikap dan arah gerakan, berarti kita gagal memahami filosofi kupatan itu sendiri,” tegasnya.

Dalam nada tegas, disampaikan pula kritik internal kepada kader untuk tidak puas dengan acara ramai tapi tanpa dampak, tidak hanya kuat di atribut tapi lemah di kapasitas, dan tidak bangga pada massa tapi kosong dalam strategi.

“Ansor-Banser tidak butuh kader yang hanya hadir saat acara. Kita butuh kader yang siap bekerja, bergerak, dan mengambil peran nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan ini ditegaskan sebagai titik awal untuk langkah yang lebih konkret, seperti konsolidasi lintas cabang berbasis program, penguatan kader ideologis dan kader teknokratis, serta penyiapan peran strategis Ansor dalam isu sosial, ekonomi, dan kebangsaan di Kaltim.

Acara ditutup dengan doa bersama dan kapan diisi dengan suasana hangat penuh kekeluargaan. Namun pesan yang ditinggalkan jelas: Kupatan ini bukan akhir, tapi awal. Momentum ini harus melahirkan gerakan yang lebih terarah, lebih solid, dan lebih berdampak. Karena jika tidak, kader hanya mengulang tradisi—tanpa membangun masa depan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#halal bihalal #banser #ansor #kupatan