KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Peluncuran buku berjudul “Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik” akan digelar di Samarinda pada Kamis, 2 April 2026.
Kegiatan ini dikemas dalam format diskusi publik yang bersifat kasual dan egaliter, kolaborasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalimantan Timur, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda, dan Lasaloka-KSB.
Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh dari beragam latar belakang dan lintas generasi, mulai dari akademisi, ulama, peneliti, hingga praktisi kebudayaan. Di antaranya Prof. Abdunnur selaku Ketua ICMI Kaltim periode 2026–2030, KH Muhammad Rasyid selaku Ketua MUI Kalimantan Timur, serta Inui Nurhikmah sebagai Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kota Samarinda.
Selain itu, turut hadir Fajar Alam dari Lasaloka-KSB dan Tim Ahli Cagar Budaya, sejarawan publik Muhammad Sarip, peneliti SIDEKA Fakultas Syariah UINSI Ira Fadia Herviska Putri, mahasiswa S-2 Pendidikan Sejarah UNS Solo Muhammad Ilham Syahputra, dan produser sebuah lembaga penyiaran publik, Nur Suci Sirana.
Buku yang diluncurkan merupakan riset kolaborasi Abdunnur dan Muhammad Sarip. Selain Rektor Universitas Mulawarman, Abdunnur juga dikenal sebagai putra dari KH Saberanity, ulama yang paling lama menjabat Ketua MUI Kaltim, dalam 3 periode dari 1990 hingga 2005.
Karya tulis setebal 208 halaman ini mengulas perjalanan panjang Islam di Kalimantan Timur sejak abad ke-16 hingga era modern.
Dalam sinopsisnya, buku ini menyoroti awal mula penerimaan Islam oleh Kerajaan Kutai Kertanegara pada tahun 1575, hingga perkembangan kehidupan umat Islam pada masa Republik Indonesia.
Samarinda digambarkan sebagai “market city” atau kota bandar niaga Kesultanan Kutai Kertanegara sekaligus pusat birokrasi Hindia Belanda di Oost Borneo, yang kemudian menjadi episentrum penyebaran dakwah Islam di kawasan tersebut.
Lebih jauh, buku ini mengupas peran ulama, jaringan organisasi keagamaan, serta dinamika interaksi antara Islam dan budaya lokal.
Disusun dalam delapan bab dengan pendekatan historiografi populer, buku ini menawarkan perspektif baru dalam memahami identitas sejarah dan perkembangan masyarakat muslim di Kalimantan Timur.
Menariknya, peserta undangan yang hadir dalam kegiatan ini akan mendapatkan buku cetak secara gratis. Hal ini diharapkan dapat mendorong minat baca sekaligus memperluas pemahaman publik terhadap sejarah lokal yang selama ini belum banyak diangkat secara komprehensif.
Dengan konsep forum yang terbuka dan inklusif, peluncuran buku ini tidak hanya menjadi ajang perkenalan karya, tetapi juga ruang dialog lintas kalangan untuk mendalami jejak panjang peradaban Islam di Kalimantan Timur. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo