TENGGARONG - Petani di Desa Rapak Lambur, Tenggarong, sudah terbiasa melihat sawah mereka terendam. Tapi tahun ini, air datang lebih cepat dan pergi lebih lama.
Dalam satu musim, banjir bisa bertahan hingga empat bulan. Ketinggian air mencapai 50 hingga 80 sentimeter. Akibatnya, ratusan hektare sawah tak bisa diselamatkan.
Data pemerintah menunjukkan, dari total sekitar 342 hektare lahan yang ditanami, sekitar 148 hektare mengalami gagal panen atau puso. Sebanyak 153 kepala keluarga terdampak, dengan total 542 jiwa.
Banjir bahkan tidak lagi menunggu musim. Dalam satu tahun, peristiwa serupa bisa terjadi dua kali. Ketika air Sungai Mahakam pasang, sawah yang berada di dataran lebih rendah langsung terendam dalam waktu singkat.
Baca Juga: Jalan Loa Janan–Tenggarong Kembali Diperbaiki Usai Lebaran, Lubang dan Bahu Jalan Jadi Fokus
“Dalam satu malam bisa terendam semua. Air pasang itu langsung tinggi,” ujar Kepala Desa Rapak Lambur, Muhammad Yusuf. Kondisi ini diperparah oleh infrastruktur yang belum sepenuhnya mendukung. Sejumlah tanggul dinilai belum cukup menahan luapan air. Pompa air yang ada pun merupakan bantuan lama yang kini tidak lagi optimal.
Di sisi lain, kebutuhan petani juga belum sepenuhnya terpenuhi. Desa dengan luas sawah sekitar 800 hektare itu masih kekurangan alat dan mesin pertanian, serta menghadapi kendala pada irigasi, pupuk, dan benih.
Keluhan tersebut sebenarnya sudah lama disampaikan. Pemerintah desa mengaku telah melaporkannya ke dinas terkait, namun sebagian masih dalam proses.
Di tengah kondisi itu, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menyalurkan bantuan pangan kepada warga terdampak pada Rabu, 8 April 2026. Bantuan berupa 9.756 kilogram beras atau setara 1.084 karung diserahkan kepada 153 kepala keluarga.
Baca Juga: Intip Fasilitas Gedung Ekraf Kukar: Ada Studio Musik hingga Teater, Segera Dibuka!
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengatakan bantuan tersebut diharapkan bisa meringankan beban warga yang kehilangan hasil panen.
“Memang bantuan yang kami berikan pada hari ini tidak sebanding dengan kerugian yang Bapak/Ibu alami. Namun setidaknya dapat meringankan beban,” ujarnya.
Selain beras, pemerintah juga menyiapkan bantuan benih padi sebanyak 1.250 kilogram untuk mendukung musim tanam berikutnya. “Kita akan segera carikan jalan keluarnya, mana-mana yang bisa cepat kita eksekusi akan cepat kita eksekusi,” kata Aulia.
Bagi petani, bantuan tersebut menjadi penopang sementara di tengah jeda tanam. Sebab, tanpa panen, mereka kehilangan sumber pangan sekaligus pendapatan. Sementara itu, upaya penanganan banjir dan perbaikan infrastruktur masih menjadi pekerjaan yang belum sepenuhnya tuntas. (riz)
Editor : Muhammad Rizki