KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tak memiliki ketertarikan khusus terhadap dunia tanam-menanam, pendirian Dahlina luntur sejak mengikuti kegiatan PKK tingkat RT dan mendapat pembinaan. Kini ketertarikannya mulai tumbuh dan menginspirasi ibu rumah tangga lainnya.
Di sebuah sudut permukiman di Kelurahan Pemedas, Kecamatan Samboja, geliat kecil tengah tumbuh secara harfiah. Di lahan sempit yang sebelumnya tak terpakai, sekelompok ibu rumah tangga mengubah pekarangan menjadi kebun tanaman obat keluarga (toga). Tak hanya menghijaukan lingkungan, kebun ini juga menjadi ruang belajar, berbagi, dan tumbuh bersama.
“Awalnya memang belum mengenal, tapi dari kegiatan PKK itu kita diajak untuk mulai menanam. Lama-lama jadi suka karena ternyata manfaatnya banyak sekali,” ucap istri Halim Syarif Budiono tersebut.
Berawal dari beberapa bibit sederhana seperti jahe, kunyit dan serai, kini kebun toga mereka berkembang dengan berbagai jenis tanaman. Bahkan, kunyit yang ditanam pun memiliki beberapa varietas, mulai dari kunyit kuning hingga putih.
Baca Juga: Mal Balikpapan 'Haramkan' Kantong Plastik, Pelaku UMKM Menjerit Tercekik Biaya Operasional
Menariknya, hasil dari tanaman toga ini tidak diperjualbelikan. Justru, semangat berbagi menjadi nilai utama. Hasil panen dibagikan kepada anggota kelompok maupun tetangga sekitar. “Belum ada penjualan, paling kita bagi ke anggota atau tetangga. Alhamdulillah bisa bantu kebutuhan dapur juga,” kata Dahlina.
Lebih dari sekadar tanaman, kebun toga ini menjadi simbol kemandirian pangan skala kecil. Dalam kondisi harga bahan pangan yang fluktuatif, keberadaan tanaman seperti jahe dan serai sangat membantu kebutuhan sehari-hari.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga. Mereka rutin berkumpul untuk merawat tanaman, berdiskusi, hingga berbagi pengetahuan baru. Dari lahan yang hanya sekitar dua puluh meter persegi, tumbuh semangat besar untuk terus menjaga lingkungan tetap hijau. Sebuah bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil dan dari pekarangan rumah sendiri.
"Alhamdulillah dari yang awalnya halaman rumah kosong jadi punya kebun toga sendiri," tuturnya. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat, tanaman obat keluarga atau toga menjadi salah satu solusi alami yang kembali diminati. Bukan hanya sebagai tanaman hias, toga kini dipandang sebagai sumber kesehatan yang mudah diakses.
Baca Juga: Melania Trump, Istri Presiden AS Bantah Rumor Terlibat Kasus Jeffrey Epstein, Soroti Para Korban
Bagi Dahlina dan kelompoknya di Samboja, mengenal toga membuka wawasan baru tentang manfaat tanaman herbal. Salah satu yang menarik perhatian adalah bunga telang, yang sebelumnya hanya dianggap sebagai tanaman hias. “Bunga telang itu cantik, tapi ternyata banyak manfaatnya. Kalau dikonsumsi dengan benar, bisa membantu kesehatan kulit dan rambut,” jelasnya.
Selain bunga telang, tanaman seperti jahe dan kunyit menjadi favorit karena manfaatnya yang sudah dikenal luas. Jahe, misalnya, sering digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, sementara kunyit dikenal sebagai antiinflamasi alami.
Menurut Dahlina, kebutuhan terhadap tanaman seperti jahe bahkan terus meningkat. “Jahe itu setiap hari dipakai. Jadi kita ingin terus kembangkan supaya bisa tanam sendiri di rumah,” katanya.
Perempuan kelahiran Barabai, 3 Maret 1986 itu juga menuturkan, perawatan tanaman toga pun relatif mudah. Kunci utamanya ada pada penyiraman dan pemupukan. Dalam kondisi cuaca panas, tanaman perlu disiram setiap hari, bahkan dua kali sehari agar akar tidak kering.
Dirinya juga memanfaatkan bahan alami sebagai pupuk, seperti air bekas cucian beras. Cara ini tidak hanya hemat biaya, tetapi juga ramah lingkungan. “Air beras itu bisa jadi pupuk. Jadi kita manfaatkan yang ada di rumah,” ujarnya.
Tren kembali ke bahan alami ini menunjukkan perubahan pola pikir masyarakat. Dari yang sebelumnya bergantung pada produk instan, kini mulai beralih ke solusi yang lebih alami dan berkelanjutan. "Toga bukan hanya soal tanaman, tetapi juga tentang membangun gaya hidup sehat yang dimulai dari rumah sendiri," ungkapnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo