TENGGARONG - Pemkab Kukar serius mendorong penguatan literasi sejarah lokal di sekolah melalui pengenalan sosok Sultan Aji Muhammad (AM) Idris kepada pelajar sejak usia dini. Langkah itu agar generasi muda Kukar tak hanya mengenal sejarah nasional, tapi juga memahami jejak kepahlawanan tokoh dari tanah Kutai sendiri.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan bahan pembelajaran tentang Sultan Idris untuk seluruh jenjang pendidikan, mulai PAUD hingga SMP.
Sultan Idris sendiri dikenal sebagai sosok penting dalam sejarah Kalimantan Timur. Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai pahlawan nasional pertama dari Kaltim pada 2021.
Tak hanya tercatat dalam sejarah perjuangan Nusantara, Sultan Idris juga memiliki hubungan historis dengan komunitas Paser dan Wajo. Ia menikah dengan putri Paser yang merupakan cucu Raja Wajo.
Penguatan literasi sejarah Sultan Idris penting dilakukan agar anak-anak Kukar memiliki kebanggaan terhadap identitas daerah sekaligus memahami nilai patriotisme yang diwariskan sang sultan.
“Terkait dengan ini, nanti akan kita siapkan bagaimana bahan pembelajaran yang akan dilanjutkan ke seluruh satuan pendidikan, baik PAUD, SD, maupun SMP,” ujar Heriansyah, Senin (18/5).
Ia menjelaskan, metode pengenalan untuk anak usia dini akan dibuat lebih sederhana dan menarik melalui media visual seperti gambar dan karikatur. “Kalau di PAUD tentu pendekatannya gambar-gambar atau bentuk karikatur. Nanti akan kita siapkan yang simpel,” katanya.
Baca Juga: Perdana, 100 Porsi MBG 3B Disalurkan di Kelurahan Nipah-Nipah
Sementara untuk jenjang SD dan SMP, materi sejarah Sultan Idris akan diperkuat melalui muatan lokal yang telah memiliki dasar hukum daerah. “Untuk pendidikan SD dan SMP, kita sudah punya perda. Kalau sudah punya perda berarti sudah ada payung hukumnya dan itu nanti akan kita distribusikan kepada satuan pendidikan,” jelas Heriansyah.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting agar generasi muda Kukar tidak kehilangan kedekatan dengan sejarah daerah sendiri, terutama di tengah derasnya pengaruh budaya luar dan minimnya literasi sejarah lokal.
“Tentu ini penting agar anak-anak sejak sekarang sudah mengenal pahlawan nasional dari daerah kita sendiri,” tegasnya.
Heriansyah menilai, keteladanan Sultan Idris bukan hanya soal sejarah kerajaan, tetapi tentang keberanian, pengorbanan, dan semangat persatuan Nusantara yang masih relevan hingga hari ini.
Ia mengingatkan bagaimana Sultan Idris rela meninggalkan tahta dan kenyamanan hidupnya demi membantu perjuangan Lamaddukelleng melawan penjajahan di Sulawesi.
Sejarah ini menjadi kewajiban pemerintah untuk menyampaikan bahwa Kabupaten Kukar dan Kesultanan memiliki seorang tokoh bisa diteladani dan menjadi spirit dalam mengisi pembangunan di kawasan Ibu Kota Nusantara.
“Beliau dengan gagah berani rela meninggalkan keluarga, tahta, dan jabatannya untuk membela mertuanya Lamaddukelleng di Sulawesi dalam mengusir penjajah,” sambungnya.
Nilai kebersamaan lintas daerah yang ditunjukkan Sultan Idris dinilai Heriansyah mesti menjadi pelajaran penting bagi generasi muda saat ini. Terutama dalam membangun semangat persatuan di era modern.
“Rasa kebersamaan ini yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita, bahwa walaupun saat itu belum menjadi NKRI dan masih Nusantara. Kita sudah punya semangat yang sama bahwa penjajahan di atas dunia harus dilawan,” tegas Heriansyah. (*)
Editor : Sukri Sikki