TENGGARONG – Tiga kali pemilu tanpa kursi di DPRD Kutai Kartanegara membuat Partai Demokrat Kukar membuka penjaringan calon ketua DPC secara lebih terbuka. Di tengah proses itu, nama Dedi Sudarya ikut mencuat.
Dedi menjadi satu dari tiga figur yang disebut serius mengikuti tahapan lanjutan menuju musyawarah cabang Demokrat Kukar. Dua nama lain adalah Amirullah dan Loies Subowo Saminanto. Nama Dedi menarik perhatian karena ia bukan wajah baru di politik daerah. Jejaknya membentang dari lingkungan Golkar, DPRD Kukar, organisasi kepemudaan, tim pemenangan kepala daerah, hingga dunia seni dan kebudayaan.
Ketua Tim Penjaringan Calon Ketua DPC Partai Demokrat Kukar, Kupik Suprianto, mengatakan proses penjaringan telah dimulai sejak Mei 2026. Tim khusus dibentuk untuk membuka ruang bagi figur internal maupun eksternal partai.
“DPC Partai Demokrat Kukar sudah melakukan penjaringan mulai bulan Mei. Melalui pembentukan tim penjaringan. Saya sendiri sebagai ketua tim. Jadi kami melakukan penjaringan secara terbuka dan transparan, baik dari internal maupun eksternal,” ujar Kupik saat ditemui di Sekretariat DPC Partai Demokrat Kukar, Jumat (22/5/2026).
Kupik menyebut keterbukaan penjaringan menjadi bagian dari evaluasi Demokrat Kukar. Dalam tiga pemilu terakhir, partai berlambang mercy itu belum berhasil mendapatkan kursi di DPRD Kukar. “Kita belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Dalam arti, sudah tiga kali pemilu kita belum bisa mendapatkan kursi di DPRD. Jadi untuk pencalonan ini kita akan terbuka, supaya yang di luar juga bisa membuka diri untuk ikut berjuang bersama Partai Demokrat,” katanya.
Dari lima orang yang sempat mendaftar, proses penjaringan kini mengerucut pada tiga nama. Kupik menyebut ketiganya masih serius mengikuti tahapan lanjutan. “Ada lima calon yang sudah mendaftarkan diri, dan dari lima calon itu mengerucut menjadi tiga calon. Yaitu, Amirullah yang berdomisili Samarinda, Dedi Sudarya salah satu tokoh daerah, dan satu lagi Loies Subowo Saminanto dari internal partai sendiri,” ujarnya.
“Tiga orang tersebut yang memang serius untuk terus masuk ke tahapan berikutnya,” sambungnya. Dalam proses penjaringan tersebut, Demokrat Kukar tidak menetapkan syarat umum yang terlalu spesifik. Namun, tim tetap mempertimbangkan sejumlah kriteria khusus bagi bakal calon ketua DPC.
Kupik menyebut figur yang dibutuhkan adalah sosok yang memiliki integritas, ketokohan, dan kemampuan untuk mengangkat kembali posisi Demokrat di Kukar. “Sebenarnya persyaratan umum tidak ada, cuma memang mempunyai kriteria khusus yang nanti dibutuhkan oleh tim penjaringan. Salah satunya mungkin punya integritas dan mungkin tokoh di Kukar. Karena itu penting juga untuk mengangkat nama partai di Kukar,” jelasnya.
Di antara nama yang muncul, Dedi Sudarya datang dengan latar politik yang cukup panjang. Pria kelahiran Tenggarong, 19 April 1976, itu dikenal dengan panggilan Bang Dedi. Di kalangan seniman, ia juga akrab disapa Bang Nala.
Latar politik Dedi tumbuh dari lingkungan keluarga yang dekat dengan partai. Ayahnya merupakan politikus senior Golkar Kukar, pernah menjadi Sekretaris Partai Golkar Kukar pada 1997–2002, serta anggota DPRD Kukar periode 1999–2004. Ibunya berlatar profesi bidan dan merupakan pensiunan Dinas Kesehatan Kukar.
Sebelum masuk lebih jauh ke politik, Dedi pernah bekerja sebagai wartawan SKH Suara Kaltim pada 1995–1997. Ketertarikannya pada seni dan kebudayaan juga membuatnya aktif di Lembaga Pembinaan Kebudayaan Kutai sejak 1996.
“Saya besar di dunia organisasi dan kesenian. Dari situ saya belajar membaca denyut nadi masyarakat, dan itu yang saya bawa sampai sekarang di dunia politik maupun bisnis,” ujar Dedi saat ditemui di Tenggarong. Di jalur organisasi, Dedi pernah memimpin HMI Cabang Tenggarong pada 2000. Ia juga mengantongi sertifikat Advance Training tingkat nasional atau LK3 dari HMI Cabang Yogyakarta.
Karier politik praktis Dedi mulai menguat pada awal 2000-an. Pada 2002, ia direkrut Bupati Kukar Syaukani HR sebagai staf pribadi. Dedi bertugas sebagai konseptor naskah pidato dan makalah Syaukani, baik untuk kebutuhan pemerintahan maupun Partai Golkar Kukar.
Pada 2004, Dedi terpilih sebagai anggota DPRD Kukar dari Daerah Pemilihan 6 wilayah Kutai Ulu. Ia masuk parlemen pada pemilu 2004, saat sistem pemilihan langsung calon legislatif mulai diterapkan. Tiga tahun kemudian, Dedi sempat dipercaya sebagai Ketua DPRD Kukar sementara selama empat bulan. Posisi itu dijalankan setelah pengunduran diri Ketua DPRD Kukar saat itu, H Bachtiar Effendi.
Setelah periode di parlemen, Dedi tetap bergerak di ruang politik daerah. Pada 2009, ia bergabung dalam tim konseptor politik calon Bupati Kukar Rita Widyasari. Tim tersebut ikut mengantarkan Rita memenangkan Pilkada Kukar 2010.
Dedi juga pernah aktif di KNPI Kukar pada masa kepemimpinan Khairudin SP dan Junaidi. Pada 2011, ia masuk sebagai salah satu Wakil Ketua KNPI Provinsi Kalimantan Timur. Namun, Dedi tidak selalu berada di panggung politik. Pada 2018, ia disebut mulai vakum dari politik dan lebih aktif berbisnis di sejumlah sektor, mulai dari jasa penyelenggaraan event, pariwisata, hingga transportasi.
Baca Juga: Bursa Ketua Demokrat Kukar Mengerucut ke Tiga Nama, Bakal Diuji AHY
Aktivitas politiknya kembali terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, Dedi bergabung dalam tim politik calon Bupati Penajam Paser Utara, H Mudiyat Noor, yang kemudian memenangi Pilkada. Pada 2025, Dedi juga bergabung dalam tim politik calon Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri. Setelah Pilkada Kukar, ia dipercaya menggantikan Aulia sebagai Pejabat Ketua Umum KADIN Kukar.
Kiprah organisasinya berlanjut pada 2026. Dedi dipercaya sebagai Sekretaris Umum KORMI Kukar. Di luar politik, Dedi juga memiliki rekam jejak di bidang seni dan kebudayaan. Ia telah diakui sebagai pekerja seni profesional oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi untuk bidang Event Manager dan Juri Seni Pertunjukan.
“Kuncinya sederhana: kerja tuntas dan mendengarkan. Mau itu urusan kesenian, event, atau politik, kalau kita dekat dengan masyarakat, hasilnya akan kelihatan,” tambahnya. Bagi Demokrat Kukar, penjaringan calon ketua DPC kali ini menjadi bagian dari upaya menata ulang kekuatan politik partai. Figur ketua baru akan dihadapkan pada pekerjaan konsolidasi internal sekaligus memperbaiki capaian elektoral setelah tiga pemilu tanpa kursi di DPRD Kukar.
Kupik mengatakan masa penjaringan masih dibuka hingga Juni 2026. Namun, tahapan itu dapat ditutup lebih cepat apabila jadwal musyawarah cabang dipercepat oleh Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat. Ia menyebut pelaksanaan musyawarah cabang sementara diperkirakan berlangsung sekitar 17 Juni 2026. Jadwal tersebut masih menunggu keputusan resmi dari DPP.
“Musda diperkirakan bulan Juni sekitar tanggal 17. Itu masih tentatif, tapi tim menunggu jadwal dari DPP,” katanya. Setiap bakal calon juga diwajibkan memenuhi dukungan minimal dari Pengurus Anak Cabang. Kupik menyebut ambang dukungan yang disyaratkan mencapai 20 persen dari jumlah PAC.
Dengan latar tersebut, kemunculan Dedi dalam bursa Ketua Demokrat Kukar tidak hanya menjadi cerita tentang satu figur. Ia juga memperlihatkan bagaimana Demokrat Kukar membuka ruang bagi tokoh dengan jaringan politik lintas organisasi, termasuk figur yang pernah tumbuh dalam orbit Golkar dan kini masuk dalam proses penjaringan Demokrat. Kontestasi menuju kursi Ketua DPC Demokrat Kukar pun akan ikut menguji arah partai tersebut setelah tiga pemilu terakhir gagal menempatkan wakilnya di DPRD Kukar. (riz)
Editor : Muhammad Rizki