KALTIMPOST.ID, TENGGARONG – Penertiban kawasan hutan oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) di Kutai Kartanegara diduga belum sepenuhnya efektif. Di Kecamatan Sebulu dan Muara Kaman, panen kelapa sawit masih terus berlangsung di lahan yang sebelumnya telah diamankan negara.
Satgas PKH sebelumnya mengklaim berhasil menguasai kembali jutaan hektare hutan dari pelanggaran seperti kebun sawit ilegal dan tambang tanpa izin. Penertiban itu disebut menyelamatkan potensi kerugian negara hingga belasan triliun rupiah melalui denda administratif dan pemulihan fungsi hutan.
Namun di lapangan, aktivitas pengangkutan tandan buah segar (TBS) sawit masih tampak di Sebulu dan Muara Kaman. Lokasi itu sejatinya sudah disita Satgas pada Juni 2025. Sejumlah pekerja mengaku hanya menjalankan perintah pihak yang disebut sudah membeli dan menguasai lahan.
Baca Juga: Sering Elus Dada, PUTRI Samarinda Sentil Kelakuan Pengunjung yang Suka Tabrak Aturan Wisata
“Saya cuma panen punya Haji. Lahannya luas sampai ke sana,” kata seorang pekerja sambil menunjuk hamparan kebun. Pekerja itu mengaku tak tahu status hukum lahan maupun pemilik perusahaan sebelumnya.
Ia hanya tahu pabrik sawit di area tersebut sudah tutup hampir setahun. “Katanya yang punya orang Jakarta, tapi lahannya sudah dibeli Pak Haji,” lanjutnya.
Hal serupa disampaikan sopir truk pengangkut sawit berinisial S. Ia menyebut hasil panen dikirim ke pabrik di Jonggon, Loa Kulu. “Kami cuma ambil upah angkut. Banyak juga truk milik Haji yang kirim sawit ke sana. Soal lahan kami tidak tahu,” ujarnya.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya soal pengawasan pasca-penertiban. Jika lahan sudah disita negara, pemanfaatan hasil kebun oleh pihak tertentu berpotensi merugikan negara.
Baca Juga: Asetnya Diminta Kembali oleh Pemprov Kaltim, Disdag Samarinda Terpaksa Angkat Kaki dari Gedung Ini!
Berdasarkan data yang dihimpun, TBS sawit yang dipanen dan dikirim ke Jonggon mencapai 738.480 kilogram dalam sebulan terakhir. Dengan asumsi harga beli di pabrik Rp 3 ribu per kilogram, potensi kerugian negara ditaksir miliaran rupiah per bulan.
Dikonfirmasi terkait aktivitas panen di Sebulu, Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar memastikan akan melakukan pengecekan terkait informasi tersebut. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo