Road to Erau 2026: Kompak Bareng Sultan, Bupati Aulia Pastikan Festival Sri Muntai Jadi Agenda Tahunan Kukar

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 20:53 WIB
MERIAH. Panggung Festival Budaya Sri Muntai Menjadi Saksi Kreativitas Musisi Lokal. Bupati dan Sultan ikut menyanyikan lagu daerah.
MERIAH. Panggung Festival Budaya Sri Muntai Menjadi Saksi Kreativitas Musisi Lokal. Bupati dan Sultan ikut menyanyikan lagu daerah.

MUARA MUNTAI – Angin malam dari Danau Jempang berhembus pelan. Di panggung utama Festival Budaya Sri Muntai, sorak anak-anak Muara Muntai bercampur tabuhan gendang Petala Borneo. Lampu sorot menyorot penari yang melenggak-lenggok membawakan tari tradisional Kutai.

Di tengah riuh itu, Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri berdiri. Matanya menyapu lautan warga yang memadati halaman kecamatan.

"Atas nama Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, kami sampaikan apresiasi dan kebanggaan setinggi-tingginya atas keberhasilan kita menyelenggarakan Festival Budaya Sri Muntai ini," buka Aulia, suaranya menggema, Kamis malam lalu.

Kehadiran Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin di barisan depan membuat suasana makin khidmat. Dalam sambutannya, Sultan menegaskan bahwa budaya Kutai tidak akan pernah mundur dan harus terus diwariskan.

"Budaya tidak akan mundur. Sejak zaman nenek moyang kita, budaya itu sudah ada dan terus diwariskan. Tugas kita sekarang adalah bagaimana menjadikan budaya itu semakin maju ke depannya," ujar Sultan.

Menurutnya, agar budaya terus tumbuh, kesejahteraan masyarakat juga harus diperhatikan. "Supaya budaya terus tumbuh, kita harus menyejahterakan rakyat. Jangan sampai ada masyarakat yang merasa resah, baik yang tinggal di kota maupun di desa. Semuanya sama, tidak ada perbedaan antara masyarakat kota dan desa," tambahnya.

Bupati Aulia senada. Ia menyebut festival ini sebagai bentuk tanggung jawab bersama untuk mempertahankan budaya di tengah arus modernisasi.

"Festival ini merupakan bentuk tanggung jawab kita untuk mempertahankan dan melestarikan budaya di tanah etam. Karena selalu etam bilang, kalau lain etam, siapa lagi yang akan melestarikan budaya etam ini," ujarnya.

Aulia juga menyampaikan kekhawatirannya jika warisan budaya tidak dirawat. "Di tengah arus modernisasi saat ini, budaya etam harus terus kita pertahankan dan rawat. Kalau tidak kita pertahankan dan rawat, anak-anak etam nanti tidak akan tahu lagi apa itu tingkilan, begasing, belogo, bebetisan, tari-tarian, pantun, dan warisan budaya lainnya," kata Aulia.

Karena itu, Pemkab Kukar berkomitmen menjadikan Festival Budaya Sri Muntai sebagai agenda tahunan. Pembiayaannya sudah masuk melalui Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar.

Dalam kesempatan itu Aulia menitipkan dua pesan penting. Pertama, masyarakat harus bangga menjadi orang Kutai dan tidak minder dengan asal daerah. Kedua, guru dan orang tua harus aktif menceritakan sejarah dan kejayaan Kutai kepada generasi muda.

"Etam harus bangga menjadi orang Kutai. Etam jangan minder, jangan merasa lebih rendah dari siapa pun. Ketika sudah berada di Tanah Kutai, etam semuanya adalah orang Kutai. Tanamkan kebanggaan itu kepada anak-anak etam," pesannya.

"Kepada bapak dan ibu guru, teruslah menceritakan sejarah dan kejayaan Kutai kepada anak-anak didik. Kepada para orang tua, sampaikan juga kisah-kisah kejayaan Kutai kepada anak-anak di rumah. Insyaallah, dengan dua hal tersebut, budaya Kutai akan tetap terjaga," ujarnya.

Di akhir sambutan, Aulia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan. "Ini menjadi tugas berat kita bersama. Ini bukan hanya tugas pemerintah daerah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat. Etam harus bersatu, harus rakat, harus kuat, dan jangan sampai tercerai-berai. Kami juga mengimbau agar terus menjaga kondusivitas di tanah etam, jangan mudah diprovokasi dan jangan mudah diadu domba. Karena persatuan dan kerukunan merupakan ciri khas orang Kutai," tegasnya.

Pada penutupan acara, Aulia menyampaikan kabar penting terkait agenda budaya Kukar ke depan. Festival Budaya Sri Muntai ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Erau 2026.

"Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura memastikan perayaan Erau 2026 akan tetap dilaksanakan sesuai adat istiadat dan tidak ada yang akan dikurangi. Kami berharap seluruh masyarakat Muara Muntai dapat ikut meramaikan pelaksanaan Erau pada September 2026 nanti. Karena Erau adalah acara kita, oleh kita, dan untuk seluruh masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara," ucapnya.

Malam penutupan ditutup dengan penampilan yang memukau. Mulai dari anak-anak sanggar hingga kolaborasi Petala Borneo Indonesia.

"Kepada seluruh penampil malam ini, kami ucapkan terima kasih. Penampilannya sangat luar biasa. Ini semakin meyakinkan kami bahwa orang Kutai tidak kalah dengan masyarakat di daerah lain," tutup Aulia disambut tepuk tangan warga.

Di bawah langit Muara Muntai malam itu, terdengar lagi alunan musik tradisional. Penanda bahwa di Tanah Etam, budaya belum mati. Ia hanya sedang dirawat, dari Sri Muntai menuju Erau 2026. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Aulia Rahman Basri festival budaya sri muntai erau kukar Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura Muara Muntai