Kauren Atiqa Zahira, Gadis Kutai yang Bikin Tujuh Negara Bertepuk Tangan; Dari Mikrofon Mainan ke Panggung Asia

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 17:25 WIB
TALENTA: Kauren Atiqa Zahira saat mengangkat tropi juara Asian Ethnic Got Talent International 2026 di Jakarta, mengenakan atribut bulu burung ruai khas Kutai.
TALENTA: Kauren Atiqa Zahira saat mengangkat tropi juara Asian Ethnic Got Talent International 2026 di Jakarta, mengenakan atribut bulu burung ruai khas Kutai.

KALTIMPOST.ID – Tangannya masih kecil, tapi suaranya sudah menggetarkan panggung se-Asia. Tepuk tangan paling panjang di Asian Ethnic Got Talent International 2026 jatuh kepada seorang gadis 11 tahun asal Kalimantan Timur. Namanya Kauren Atiqa Zahira, biasa dipanggil Rere.

Di atas panggung Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Jakarta, 27 Juni 2026, Rere berdiri tenang. Di kepalanya bertengger atribut bulu burung ruai. Simbol itu bukan hiasan. Itu penanda ia datang dari Kutai Kartanegara, membawa nama Indonesia.

Saat pengumuman "Juara 1 dari Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia" menggema, air mata sang ibu, Dana Sukma Wardani, pecah. Perjuangan panjang sejak Rere masih dalam kandungan, akhirnya terbayar.

Baca Juga: Laka Lantas Samboja-Sepaku, Avanza Masuk Jurang 4,5 Meter, Sopir Terancam UU LLAJ

Cerita Rere dengan mikrofon dimulai jauh sebelum ia bisa bicara lancar. Dana masih ingat betul masa kehamilannya.

"Dari hamil saya sudah minta ke suami nyanyikan lagu Happy Puppy. Setiap hari. Entah kenapa penginnya denger itu terus," kenangnya di rumah, Rabu (22/7/2026) sambil tertawa.

Bakat itu makin nyata saat Rere berusia 2 tahun. Lihat mikrofon di mal, pasti minta pegang. Di dalam mobil, sepanjang jalan ia bernyanyi sendiri tanpa disuruh.

Dana tidak mau bakat itu padam jadi sekadar hobi. Usia 4,5 tahun, Rere masuk les vokal. Sejak itu, hampir semua lomba menyanyi di Balikpapan diikuti. Juara 1 tingkat kota, medali emas Nusantara Young Music Olympiad, juara lomba lagu perjuangan, hingga juara lagu daerah, semua pernah ia genggam.

Tapi puncaknya baru tahun ini. April 2026, Rere ikut audisi Asian Ethnic Got Talent di Balikpapan dan dapat juara 2. Tiket itulah yang mengantarnya ke Jakarta.

Baca Juga: PLN Samboja Jadwalkan Pemadaman Listrik Hari Ini, Kawasan KM 30-KM 37 Terdampak

Di ibu kota, ia melewati dua babak. Pertama menyanyi acapella tanpa musik di Gor Theater Bulungan. Kedua, grand final di Usmar Ismail. Di sana ia bersaing dengan peserta dari Indonesia, Brunei, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Timor Leste. Hasilnya: juara 1.

Kini siswi kelas VI SD 030 Balikpapan Utara itu membawa pulang nama baik daerah. "Ini bukan cuma kemenangan Rere. Ini kemenangan Kaltim, kemenangan Kutai," ujar Dana.

Yang membuat Rere berbeda bukan hanya teknik vokalnya. Di balik lagu-lagu pop dan Inggris seperti Never Enough milik Loren Allred, ada pesan dari rumah: jangan lupakan akar.

Dana memang menanamkan itu sejak awal. Sebelum menyanyi lagu populer, Rere wajib hafal lagu daerah Kutai.

"Bagaimanapun darahnya darah Kutai. Jadi budaya Kutai harus diangkat," tegas Dana.

Alasannya kuat. Dana adalah warga asli Tenggarong. Ia masih punya hubungan kekerabatan dengan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Sultan Aji Muhammad Arifin adalah adik sepupu ibunya. Artinya, Rere adalah cucu keponakan beliau, keturunan Sultan Aji Muhammad Parikesit yang ke-19.

Dunia seni juga mengalir di keluarga. Almarhumah Aji Maimunah, tante Dana, dulu penyanyi kenamaan Tenggarong. Ayahnya pemilik Bioskop Ratna, ikon hiburan masyarakat Kutai dulu.

Itu sebabnya saat ke Jakarta, Rere sengaja tampil dengan bulu ruai. "Biar juri tahu, saya bukan cuma bawa lagu. Saya bawa identitas Kalimantan Timur," kata Rere polos.

Sebelum ke Asia, jam terbang Rere sudah ditempa di panggung Festival Erau, HUT Brimob, dan berbagai acara seni. Dari situlah keberaniannya terbentuk.

Rere adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Meski orang tua sibuk, dukungan untuknya tidak pernah putus. Dana memilih mendampingi, bukan mendorong. Mengajari teknik, tapi juga karakter.

"Dulu awalnya lagu anak. Lama-lama saya kenalkan Rossa. Karena Rossa juga mulai dari festival sejak kecil. Saya mau Rere belajar dari proses, bukan buru-buru tenar," jelasnya.

Kini setelah merasakan panggung internasional, Dana tidak ingin anaknya cepat puas.

"Kalau ada lomba lebih tinggi lagi, kenapa tidak. Asal kegiatannya positif. Cita-cita Rere memang jadi penyanyi terkenal. Tugas kami hanya mendukung dan terus mengasah," tutupnya.

Di usia 11 tahun, Rere sudah membuktikan satu hal: suara dari tepian Sungai Mahakam bisa terdengar sampai ke telinga Asia. Dan ia membawanya dengan kepala tegak, serta bulu ruai di atas kepala. (qi/dwi)

Editor : Duito Susanto
Asian Ethnic Got Talent International 2026 penyanyi cilik budaya Kutai kutai kartanegara balikpapan