YOGYAKARTA – Hujan mengguyur halaman ISI Yogyakarta Kamis malam, 23 Juli 2026. Di balik panggung International Djogja Earthsounds Fest atau IDEF 2026, 14 personel Petala Borneo saling tatap. Semangat sempat drop.
"Kami sempat cukup down karena cuaca," kenang Achmad Fauzi, penggagas Petala Borneo. Keraguan itu buyar begitu musik pertama dipetik. Penonton yang semula berteduh langsung tumpah ruah ke depan panggung. Sejak lagu pembuka, goyangan sudah kompak mengikuti irama.
"Mereka mau menari bersama bunyi-bunyian Kalimantan Timur. Itu apresiasi paling tinggi buat kami," ujar Fauzi. Malam itu Petala Borneo datang bukan hanya untuk tampil. Mereka membawa misi besar: mengabarkan Erau ke dunia.
Grup musik etnik fusion asal Kutai Kartanegara itu menutup penampilannya dengan Menjaga Adat. Lagu itu memang didedikasikan untuk tradisi Erau di Kukar.
Saat vokalis Nova Abelia mengangkat tangan, lautan tangan penonton di bawah panggung ikut terangkat. Sorot lampu merah, hijau, kuning menyapu. Di layar besar terpampang dua kata: Menjaga Adat.
Di tengah lagu, Nova mengambil mikrofon. Ia memperkenalkan Erau kepada penonton dari berbagai daerah dan negara. Sekaligus mengundang: September nanti, datang ke Kutai Kartanegara.
"Panggung malam ini bagian dari jalan kami menuju Erau. Kami mau mengabarkan kami punya pesta adat. Dan mengajak teman-teman hadir ke Erau di Kutai Kartanegara," kata Fauzi.
Bagi Nova, berdiri di panggung IDEF adalah mimpi yang jadi nyata. "Senang dan haru. Semoga ini jadi jembatan dan pintu utama kami menuju panggung dunia," ucapnya.
Sudah Start dari Sri Muntai
Penampilan di Yogyakarta bukan yang pertama dalam rangkaian "Road to Erau". Beberapa pekan sebelumnya, Petala Borneo juga sudah menghangatkan panggung Festival Sri Muntai di Tenggarong.
Di festival budaya tahunan itu, mereka kembali membawakan lagu-lagu berbahasa Kutai dengan aransemen tradisi kekinian. Tujuannya sama: mengingatkan masyarakat Kukar bahwa Erau sebentar lagi tiba, dan mengajak generasi muda bangga dengan budayanya sendiri.
"Dua panggung ini jadi pemanasan kami. Dari Festival Sri Muntai di rumah, sekarang ke IDEF di luar daerah. Biar bunyi Kutai didengar lebih luas," jelas Fauzi.
IDEF 2026 sendiri mengusung tema Sacred Sounds, Shared Earth. Festival musik lintas tradisi ini mempertemukan musisi, komunitas seni, dan kampus dari berbagai negara. Digelar 23–25 Juli di ISI Yogyakarta.
Bagi Fauzi, bisa tampil di sana sekaligus di Sri Muntai artinya satu hal: anak muda Kukar tidak kalah.
"Malam ini kami buktikan kami ada. Putra-putri Kutai Kartanegara ada. Bunyi-bunyian kami ada. Dan kami masih bisa bersaing di level nasional, bahkan internasional," tegasnya.
Petala Borneo belum berhenti. Setelah Yogyakarta, mereka masih punya banyak target. Tapi satu hal sudah pasti: jalan menuju panggung dunia dan menuju Erau September nanti, sudah dimulai.
Kamis malam itu, Yogyakarta memberi jawaban. Tradisi Kutai tidak cuma diceritakan. Ia diperdengarkan. Ia diterima. Dan dibalas dengan tarian serta tangan-tangan yang terangkat ke udara.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dalam beberapa kesempatan menyampaikan dua pesan utama kepada masyarakat sebagai upaya menjaga kelestarian budaya Kutai. Pertama, ia mengajak seluruh masyarakat untuk bangga menjadi orang Kutai tanpa merasa rendah diri terhadap daerah maupun suku lain.
“Yang pertama adalah etam harus bangga menjadi orang Kutai. Jangan pernah merasa minder. Tanamkan kepada anak-anak kita untuk percaya diri, terus belajar, melanjutkan pendidikan, dan tetap bangga dengan identitas serta budaya Kutai,” tegasnya.
Pesan kedua, adalah pentingnya mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Ia mengajak para guru dan orang tua untuk aktif mengenalkan sejarah serta kejayaan Kerajaan Kutai kepada anak-anak sebagai bagian dari pendidikan karakter. (qi)
Editor : Muhammad Rizki