TENGGARONG – Halaman SD Negeri 003 Tenggarong dipenuhi tawa dan sorak sorai saat ratusan siswa memainkan berbagai permainan tradisional dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN). Di tengah semakin tingginya penggunaan gawai di kalangan anak, sekolah memilih mengajak para siswa kembali mengenal permainan warisan budaya yang sarat nilai kebersamaan dan pendidikan karakter.
Sebanyak lima permainan tradisional diperkenalkan kepada siswa kelas I hingga VI, yakni kelereng, bakiak, asen naga, gasing, dan egrang. Seluruh siswa bersama guru terlibat dalam kegiatan yang berlangsung meriah sekaligus menjadi ruang belajar di luar kelas.
Kepala SD Negeri 003 Tenggarong, Kurnia Astuti, mengatakan permainan tradisional sengaja dipilih sebagai upaya mengenalkan kembali budaya lokal sekaligus mendorong anak-anak lebih aktif bergerak dan mengurangi ketergantungan terhadap gawai.
"Kami ingin anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga mengenal dan mencintai budaya Kutai sebagai warisan yang perlu dijaga bersama. Permainan tradisional juga menjadi cara sederhana untuk mengajak mereka aktif bergerak dan tidak selalu bergantung pada gawai," ujarnya.
Baca Juga: Tanoto Foundation Tempa 240 Mahasiswa Jadi Pemimpin Masa Depan Lewat TSG 2026
Menurut Kurnia, permainan tradisional tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga mengandung banyak nilai pendidikan seperti kerja sama, sportivitas, disiplin, komunikasi, hingga kemampuan menyelesaikan tantangan bersama.
"Melalui permainan ini kami ingin menanamkan nilai kerja sama, gotong royong, sportivitas, disiplin, dan rasa cinta terhadap budaya daerah. Anak-anak belajar bahwa menang memang menyenangkan, tetapi kebersamaan dan saling menghargai jauh lebih penting," katanya.
Keceriaan semakin terasa ketika para siswa bergantian memainkan bakiak, memutar gasing, hingga mencoba berjalan menggunakan egrang. Salah satu momen yang mencuri perhatian terjadi ketika seorang siswa terjatuh saat bermain egrang. Alih-alih menertawakan, teman-temannya justru segera membantu dan memberi semangat agar kembali mencoba.
"Anak-anak tidak hanya berusaha menjadi juara, tetapi juga menunjukkan kepedulian kepada temannya. Nilai gotong royong benar-benar hidup melalui permainan yang mereka lakukan bersama," tutur Kurnia.
Sebagai sekolah mitra Tanoto Foundation, SD Negeri 003 Tenggarong juga menerapkan pendekatan student-centered learning. Dalam kegiatan tersebut, siswa diberi kebebasan memilih permainan sesuai minat masing-masing, sementara guru berperan sebagai pendamping untuk memastikan seluruh peserta merasa aman, nyaman, dan bahagia.
Melalui peringatan Hari Anak Nasional, sekolah berharap siswa tumbuh menjadi generasi yang sehat, berkarakter, serta tetap mencintai budaya daerah. Bagi SDN 003 Tenggarong, permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga media pembelajaran yang efektif untuk menumbuhkan empati, kebersamaan, dan jati diri generasi penerus.
Editor : Muhammad Ridhuan