TENGGARONG – Dinas Kesehatan (Diskes) Kukar meningkatkan kewaspadaan setelah mencatat 45 kasus campak yang terkonfirmasi laboratorium sepanjang 2026. Kasus tersebut tersebar di empat kecamatan, sementara hingga kini belum ditemukan kasus rubella yang dinyatakan positif.
Peningkatan itu menjadi perhatian karena dari ratusan laporan kasus suspek campak dan rubella yang masuk ke fasilitas kesehatan, sebagian telah dipastikan merupakan infeksi campak. Untuk menekan penyebaran penyakit, Diskes memperkuat pengawasan epidemiologi serta memperluas pelaksanaan swiping imunisasi di seluruh wilayah Kukar.
Plt Kabid Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Diskes Kukar, Budy Setiawan mengatakan sejak minggu pertama hingga minggu ke-20 tahun 2026 tercatat sebanyak 274 kasus suspek campak dan rubella.
"Sebanyak 234 spesimen telah dikirim untuk pemeriksaan laboratorium, dan 84 spesimen sudah keluar hasilnya," ujarnya belum lama ini.
Baca Juga: Dua TKBM Unjuk Rasa, Begini Penjelasan Kepala KUPP Kuala Samboja
Dari hasil pemeriksaan laboratorium, sebanyak 45 spesimen dinyatakan positif campak, sedangkan 39 lainnya negatif. Hingga saat ini belum ada spesimen yang terkonfirmasi sebagai rubella. Kasus campak yang terkonfirmasi berasal dari empat kecamatan, yakni Tenggarong, Samboja, Loa Kulu, dan Muara Badak.
Berdasarkan laporan fasilitas pelayanan kesehatan rumah sakit umum daerah. RSUD Aji Muhammad Parikesit menangani suspek campak terbanyak berjumlah 115 kasus. Disusul RSUD Abadi Samboja sebanyak 75 kasus dan Puskesmas Loa Ipuh sebanyak 35 kasus.
Saat ini, lanjut Budy, tren epidemiologi menunjukkan lonjakan tertinggi kasus suspek terjadi pada minggu ke-16 dengan total 29 kasus. Menghadapi peningkatan tersebut, Dinkes Kukar memperkuat langkah pengendalian melalui peningkatan cakupan imunisasi, pengawasan rutin, serta penyelidikan epidemiologi terhadap setiap laporan kasus suspek.
"Kami terus melakukan swiping imunisasi secara aktif di seluruh 32 puskesmas, pengawasan rutin setiap bulan terhadap pelaksanaan imunisasi, serta penyelidikan epidemiologi setiap ditemukan kasus suspek campak," jelasnya.
Investigasi lapangan tetap dilakukan meski pemerintah menerapkan efisiensi anggaran. Petugas surveilans di setiap puskesmas akan melakukan penelusuran terhadap pasien suspek, kemudian hasilnya dibahas bersama Dinkes, tenaga kesehatan, hingga dokter spesialis anak melalui rapat virtual apabila diperlukan.
Apabila hasil penyelidikan mengarah pada dugaan kuat campak, petugas akan mengambil sampel melalui pemeriksaan PCR atau swab untuk dikirim ke laboratorium sebagai dasar penegakan diagnosis.
Budy juga mengimbau untuk masyarakat menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta memastikan anak memperoleh imunisasi lengkap sesuai jadwal. Beberapa gejala yang mesti diwaspadai adalah demam, muncul ruam kemerahan di kulit, mata merah, nafsu makan menurun, atau kesulitan menelan.
“Jika gejala-gejala tersebut timbul, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Karena deteksi dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit lebih luas," tutup Budy. (*)
Editor : Sukri Sikki