TENGGARONG – Kemarau yang berlangsung hampir dua setengah bulan mulai menekan sumber air baku di Kutai Kartanegara (Kukar). Sejumlah sungai, termasuk anak sungai yang menjadi sumber air baku, mengalami pendangkalan sehingga berpotensi mengurangi kapasitas produksi air bersih.
Direktur Utama PDAM Tirta Mahakam Suparno mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian karena debit air baku sangat bergantung pada ketersediaan air di sungai. Jika hujan belum turun dalam waktu dekat, tekanan terhadap pelayanan air bersih berpotensi semakin besar.
“Kita ketahui ada edaran dari BMKG terkait kondisi cuaca saat ini. Kita rasakan memang hampir dua bulan setengah ini sudah tidak ada hujan. Tentunya ini juga akan memengaruhi debit air baku kita,” kata Suparno di ruang kerjanya, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga: Kebakaran di Loa Duri Ilir, 5 Rumah Ludes dan 3 Terdampak
Dampak paling terasa terjadi pada anak-anak sungai yang menjadi sumber air baku. Di Tenggarong, misalnya, intake PDAM di Sungai Tenggarong sudah menghadapi kondisi air yang sangat dangkal.
Di Sungai Mahakam, kondisi permukaan air juga mulai kritis. Padahal, secara teknis intake membutuhkan kedalaman tertentu agar pompa dapat bekerja secara optimal.
“Kalau kapasitas pompa 150 liter per detik, misalnya, bisa menghasilkan sesuai kapasitasnya. Tetapi kalau permukaan air menurun, pasti akan berpengaruh terhadap debit yang dihasilkan,” jelasnya.
Baca Juga: Pemkab Kutai Barat Resmi Luncurkan AKSIPADA Call Center 112, Satu Pintu untuk Layanan Darurat
Meski demikian, kondisi pelayanan air bersih di Kukar untuk sementara masih relatif aman. Suparno menyebut pasang air laut justru membantu mempertahankan ketinggian muka air di Mahakam melalui dorongan air dari arah muara.
“Kondisi air laut sedang pasang. Kalau kita lihat, pagi ada dorongan dari laut, sehingga intrusi air laut masuk ke Mahakam dan menahan air baku kita sehingga menaikkan permukaan air. Itu yang membuat kami cukup terbantu,” ujarnya.
Namun, kondisi tersebut sekaligus menjadi ancaman bagi wilayah yang berada lebih dekat dengan muara, khususnya Kecamatan Anggana dan Sangasanga.
Baca Juga: Hadapi Kemarau, Perumdam Kutim Siapkan Jalur Darurat Ponton untuk Amankan Pasokan Air
PDAM sempat menghentikan operasi selama beberapa jam setelah kadar garam di sumber air mencapai sekitar 400 PPM akibat intrusi air laut. Menurut Suparno, kadar garam yang disarankan untuk pengolahan air bersih berada di kisaran 200 PPM ke bawah.
Yang menjadi atensi PDAM Tirta Mahakam ada dua kecamatan, yakni Kecamatan Anggana dan Sangaeanga, karena lokasinya yang paling hilir. Dengan Intake yang paling dekat dengan muara.
Pemantauan terhadap kadar garam dan pasang surut air dilakukan setiap hari. PDAM juga mulai mengidentifikasi sejumlah titik yang berpotensi digunakan sebagai sumber air baku alternatif apabila kondisi semakin memburuk.
“Kalau sudah surut, relatif aman. Kami juga akan mengidentifikasi kembali beberapa titik yang mungkin bisa menjadi alternatif sumber air baku,” jelasnya.
Baca Juga: Integrasi Koperasi Merah Putih dan Program MBG di Balikpapan Masih Terganjal Harga, Ini Kata DPRD
Ancaman kekeringan juga tidak hanya dirasakan Kukar. Suparno menyebut kondisi anak sungai dari wilayah Kutai Barat hingga Samarinda turut terdampak kemarau panjang.
Ia bahkan mendapat informasi bahwa apabila dalam sepekan ke depan hujan belum turun, produksi air di wilayah Kutai Barat berpotensi terhenti karena kondisi Sungai Mahakam yang semakin dangkal.
“Sebagaimana kita selalu berkomunikasi dengan teman-teman di Kutai Barat, kalau sampai seminggu lagi tidak ada hujan, Kutai Barat juga akan berhenti produksinya karena kondisi Sungai Mahakam sudah dangkal,” ungkapnya.
Untuk menjaga pelayanan, PDAM terus mempertahankan operasional pompa selama sumber air masih memungkinkan. Jika terdapat wilayah yang mengalami kekeringan dan membutuhkan pasokan tambahan, PDAM juga menyiapkan dukungan bersama BPBD dan relawan.
“PDAM akan mendukung, terutama untuk menyediakan air yang bisa diambil dan kemudian membantu bagaimana pendistribusiannya. Ini terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, karena air merupakan kebutuhan vital yang tidak bisa digantikan,” tegasnya.
Baca Juga: 15 Desa di Kutim Masuk Program Desa Siaga TBC Menuju Target Eliminasi 2030
Di tengah kondisi tersebut, Suparno meminta masyarakat mulai mengurangi penggunaan air yang tidak mendesak dan menyiapkan cadangan di rumah.
“Upaya yang kita lakukan di musim kemarau ini, salah satunya kami sudah mulai mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air, berhemat, dan disarankan juga untuk menampung air,” katanya.
Langkah ini adalah antisipasi, apabila suatu saat produksi dan distribusi air tidak dapat berjalan maksimal akibat penurunan debit sumber air baku.
PDAM juga berharap hujan segera turun, terutama di wilayah hulu. Curah hujan di daerah hulu dinilai penting karena dapat membantu meningkatkan kembali debit sungai yang menjadi sumber air baku di wilayah Kukar.
“Yang kami harapkan turun hujan bukan hanya di sini, tetapi di wilayah hulu. Biasanya kita harapkan hujan di wilayah hulu sehingga berdampak terhadap kondisi air di daerah kita,” tuturnya.
Selain berpotensi mengganggu pelayanan air bersih, kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran. Karena itu, Suparno meminta masyarakat ikut mewaspadai dampak lanjutan dari kondisi cuaca kering yang masih berlangsung.
“Dengan kondisi kemarau dan tidak adanya curah hujan, risiko kebakaran juga meningkat. Kita tidak menghendaki itu, tetapi memang menjadi risiko yang kemungkinan kita hadapi,” ujarnya.
Untuk saat ini, Suparno memastikan kondisi pelayanan air bersih di Kukar masih relatif aman. Namun, tanpa hujan dalam waktu dekat, penurunan debit air baku dan intrusi air laut menjadi dua persoalan yang harus terus dipantau.
“Kami mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menyikapi kondisi ini dengan bijak. Salah satunya dengan menghemat penggunaan air dan menampung air sebagai persediaan,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki