ISPA dan Diare Meningkat Akibat Kemarau, Siswa Kukar Mulai Belajar dari Rumah

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 18:08 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufiddah. (IST)

 
Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufiddah. (IST)  

 

KALTIMPOST,ID, TENGGARONG - Kabut asap yang menyelimuti Kutai Kartanegara (Kukar) berdampak pada kesehatan warga. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar mencatat tiga jenis penyakit mengalami lonjakan selama musim kemarau dan meningkatnya karhutla, yakni ISPA, diare, dan konjungtivitis.

Kepala Diskes Kukar, Ismi Mufiddah menyebut data terbaru telah disampaikan kepada Sekkab dan Bupati Kukar. Sepanjang Agustus 2026, kasus ISPA di Kukar mencapai 9.075 kasus.

“Kalau kita lihat, Juni ada 3.703 kasus. Juli naik jadi 7.172 kasus. Kemudian 1 sampai 31 Agustus ada 9.075 kasus,” ujar Ismi, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga: Ribuan Warga Kukar Gelar Doa Bersama, Mohon Hujan Akhiri Kemarau dan Kabut Asap  

Selain ISPA, kasus diare juga meningkat. Pada Juni tercatat 728 kasus, Juli 937 kasus, dan Agustus naik lagi menjadi 1.021 kasus. Penyakit mata atau konjungtivitis juga ikut terdongkrak. Dari 172 kasus di Juni, naik jadi 212 kasus di Juli, dan mencapai 350 kasus di Agustus.

“Jadi ISPA, diare, dan konjungtivitis meningkat cukup signifikan selama masa intensitas kebakaran hutan dan kekeringan yang semakin terasa,” jelas Ismi.

Kenaikan kasus diare, menurutnya, berkaitan dengan keterbatasan air bersih di sejumlah wilayah. Beberapa puskesmas bahkan melapor kesulitan air hingga harus membeli atau membuat sumur bor.

Baca Juga: Kondisi Udara Balikpapan Memburuk Imbas Karhutla Tetangga, Wali Kota Imbau Warga Pakai Masker

Ismi menyebut kasus ISPA tersebar di seluruh kecamatan, namun jumlahnya berbeda-beda. Lima puskesmas dengan kasus tertinggi pada Agustus berada di Loa Ipuh, Rapak Mahang, Sangasanga, Loa Janan, dan Samboja.

Dari sisi usia, kelompok produktif 18-59 tahun paling banyak terkena dengan 3.028 kasus. Disusul usia sekolah 5-18 tahun sebanyak 2.950 kasus. Balita juga terdampak sekitar 1.600 kasus.

“ISPA memang selalu jadi 10 besar penyakit. Penyebabnya bukan hanya kabut asap, polusi kendaraan juga besar. Tapi dengan adanya tambahan kabut asap ini, kasusnya jadi meningkat dan terlihat cukup signifikan,” katanya.

Lonjakan kasus ini menjadi pertimbangan Pemkab Kukar menerapkan pembelajaran jarak jauh. Mulai Kamis (3/9/2026), siswa diminta belajar dari rumah untuk mengurangi paparan di luar ruangan.

“Pak Bupati hari ini mengeluarkan surat edaran tentang pembelajaran daring. Itu tidak diberlakukan terus-menerus, tapi sebagai awal sampai tanggal 8. Evaluasinya dilakukan setiap minggu,” ucap Ismi.

Baca Juga: Cuaca Panas dan Karhutla Picu ISPA Melonjak di Kutim, Tembus 2.586 Kasus  

Di sisi pelayanan, Diskes memastikan obat-obatan di puskesmas telah disiapkan. Pasien ISPA di wilayah seperti Loa Ipuh dan Rapak Mahang tetap mendapatkan penanganan sesuai prosedur.

Diskes mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak penting. Jika harus keluar, gunakan masker dan kacamata sebagai pelindung. “Pertama, kalau memang tidak perlu, kurangi aktivitas di luar rumah. Kalau terpaksa, gunakan perlindungan diri,” katanya.

Masyarakat juga diminta tidak merokok di dalam rumah dan tidak membakar sampah. Saat asap pekat, pintu dan jendela sebaiknya ditutup serta debu di dalam rumah dibersihkan. “Gunakan masker jika berkegiatan di luar ruangan agar lebih aman,” pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
kemarau diare dinas kesehatan karhutla ispa