Hari Pertama PJJ di Kukat: SMP 3 Tenggarong Kandidat Sekolah Rujukan Google

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 18:18 WIB
KEBIJAKAN: SMP 3 Tenggarong mulai menerapkan PJJ. (IST)
KEBIJAKAN: SMP 3 Tenggarong mulai menerapkan PJJ. (IST)

 

KALTIMPOST.ID, TENGGARONG – Suasana berbeda tampak di SMP 3 Tenggarong, Kamis (3/9/2026). Ini hari pertama Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ diterapkan di Kabupaten Kutai Kartanegara karena kabut asap karhutla.

Ruang kelas tetap terisi guru, namun kursi siswa kosong. Seluruh siswa belajar dari rumah secara daring. Kondisi itu mengingatkan pada masa pandemi Covid-19.

Baca Juga: RAPBD-P 2026 Belum Dibahas, DPRD Kukar Desak Pemkab Segera Sampaikan Nota Perubahan KUA-PPAS

Bedanya, PJJ kali ini hanya bersifat sementara sebagai upaya melindungi siswa dari buruknya kualitas udara. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 3 Tenggarong, Inawati mengatakan, semua guru tetap masuk dan mengajar dari sekolah.

“PJJ itu muridnya saja di rumah. Gurunya semua di sekolah. Ada yang pakai Zoom, ada Google Meet, ada yang dari kelas,” ujarnya.

Agar tidak berisik, para guru tidak dipusatkan di aula. Mereka mengajar dari kelas masing-masing. “Kalau numpuk di aula terlalu bising. Jadi ke kelas-kelas teman-teman,” katanya.

Baca Juga: Evaluasi SE BBM Bersubsidi di Balikpapan, Pemkot Pantau SPBU Selama 6 Hari

Penerapan PJJ di sekolah yang beralamat di Jalan Gunung Kombeng Nomor 48, Kelurahan Melayu, itu berjalan relatif lancar. Sebab SMP 3 Tenggarong memang sudah menyiapkan ekosistem digital sejak lama.

Setiap siswa dan guru dibekali Chromebook. Setiap kelas juga ada papan tulis digital, router, dan WiFi. Sekolah ini bahkan berstatus Kandidat Sekolah Rujukan Google atau KSRG karena menerapkan Google for Education. Penerapannya sempat ditinjau langsung oleh Google Indonesia dan perwakilan Board of Education Jepang.

Baca Juga: Kebun Sawit Masyarakat Kutim Masuk Kawasan Hutan dan Konsesi, Wabup Usul Di-enklave

Kendala hanya sempat muncul saat listrik padam sebentar. Setelah itu pembelajaran kembali normal. Meski begitu, Inawati mengaku tetap lebih nyaman mengajar tatap muka. Interaksi langsung dinilai lebih mudah untuk memantau siswa.

“Lebih enak di sekolah sebenarnya. Kita tidak begitu repot, langsung ke kelas, bertatap muka dengan anak, berinteraksi,” ucapnya.

Bagi guru yang belum terbiasa teknologi, kata Inawati, ada pendampingan dari rekan yang lebih muda. “Yang kurang teknologi biasanya dibantu teman-teman kami yang muda-muda. Kan ada juga angkatan tua,” jelasnya.

Selama PJJ pada 3 hingga 8 September 2026, guru juga diminta memantau aktivitas siswa dan mendokumentasikan proses belajar. Laporan dikirim ke grup sekolah agar kegiatan tetap terpantau.

Dengan fasilitas yang sudah ada, SMP 3 Tenggarong tetap bisa menjalankan pembelajaran meski siswa dan guru terpisah tempat. “Yang penting pembelajaran tetap berjalan, anak-anak tetap dapat materi, dan kami guru tetap bisa mendampingi walaupun sementara dilakukan secara daring,” pungkas Inawati. (*)

Editor : Sukri Sikki
kabut asap tenggarong SMP 3 belajar daring