BPBD Kukar Ungkap Tren Karhutla, Prioritaskan Penanganan Titik Api Dekat Permukiman Warga

ADV • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 18:07 WIB
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianus Sandi membeberkan tren penurunan karhutla.
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianus Sandi membeberkan tren penurunan karhutla.  

 

TENGGARONG - Perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kutai Kartanegara mulai menunjukkan tren penurunan nyata dalam beberapa hari terakhir.

Pantauan titik panas atau hotspot kini tidak lagi menembus angka 100 titik per hari. Angka kejadian titik api yang benar-benar terbakar (fire spot) di lapangan juga berhasil ditekan hingga di bawah 10 kejadian harian.

Baca Juga: Ratusan Peserta Adu Ketangkasan di Pulau Kumala, dari Belogo hingga Begasing Anak-Anak

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) Aspianur Sandi menyampaikan bahwa penurunan ini membawa angin segar bagi penanganan bencana di lapangan. 

Meski demikian, kabut asap masih menyelimuti beberapa wilayah sehingga petugas tetap bersiaga penuh. "Dalam dua-tiga hari lumayan. Dari kemarin pantauan tidak sampai 100 per harinya. Itu kan hotspot, ya," ujar Aspianur Sandi saat membeberkan kondisi terkini penanganan karhutla di Kukar.

Aspianur menerangkan bahwa tidak semua titik panas otomatis menjadi kebakaran aktif. Dari puluhan pantauan satelit, titik api rill yang ditemukan personel gabungan di lapangan tergolong jauh lebih sedikit.

"Yang menjadi fire spot itu tidak sampai 10. Atau lebih dari yang misalnya medium sama high-nya, misalnya hari ini 30, yang terjadi fire spot atau yang menjadi titik terbakar itu tidak sampai 10 kejadian," jelasnya secara rinci.

Baca Juga: Ratusan Peserta Adu Kemampuan di Festival Olahraga Tradisional Erau 2026: Lestarikan Budaya Leluhur

Merespons situasi lapangan yang dinamis, BPBD Kukar memusatkan pengerahan armada dan personel ke lokasi yang bersentuhan langsung dengan aktivitas warga. Langkah taktis ini diambil guna memastikan keselamatan masyarakat dan aset permukiman tetap terjaga dari ancaman jilatan api.

"Alhamdulillah menurun. Memang prioritas kita sekarang adalah penanganan kebakaran itu yang mendekati permukiman. Itu yang menjadi prioritas kita," tegas Aspianur.

Perpanjangan Modifikasi Cuaca dan Mitigasi Jalur Pipa Upaya penanggulangan karhutla juga diperkuat dengan perpanjangan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) lewat penyemaian garam di udara. Jadwal operasi yang semula direncanakan berakhir pada 19 September kini resmi diperpanjang hingga 24 September mendatang.

"OMC itu diperpanjang. Sebenarnya kemarin berakhir tanggal 19, akhirnya ini kita perpanjang sampai tanggal 24," ungkap Aspianur mengenai jadwal operasi modifikasi cuaca tersebut.

Keberhasilan penyemaian awan buatan ini sangat bergantung pada ketersediaan bibit awan hujan di angkasa. Dalam dua hari belakangan, kondisi awan belum sepenuhnya ideal untuk disemai, meski tim terus memantau potensi hujan buatan di atas langit Kaltim.

Selain kawasan permukiman, tim gabungan terus memantau titik-titik krusial yang memiliki karakteristik lahan gambut rentan terbakar. Kawasan Cagar Alam Muara Kaman dan kawasan Muara Jawa menjadi fokus pengawasan intensif.

Kewaspadaan tinggi diterapkan di Muara Jawa mengingat kawasan tersebut dilintasi jalur vital pipa minyak milik Pertamina. Penanganan cepat langsung dikerahkan agar tidak mengganggu objek vital nasional tersebut.

Sementara itu, titik kebakaran di kawasan Muara Badak dilaporkan telah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan. Kendati sempat muncul titik baru di kawasan Badak Baru serta Tanjung Limau perbatasan Marangkayu, koordinasi cepat terus digencarkan aparat bersama relawan setempat. (*)

Editor : Sukri Sikki
kutai kartanegara pemukiman warga karhutla bpbd