KALTIMPOST.ID, TENGGARONG - Jalan Diponegoro di depan Museum Mulawarman Tenggarong dipadati ribuan masyarakat yang duduk bersila menikmati jamuan makan bersama dalam tradisi sakral Beseprah Erau Adat Kutai 2026.
Tikar-tikar panjang terbentang rapi menyajikan aneka kuliner khas Kutai mulai dari Gence Ruan, Serabi Kutai, Jenderal Mabok, hingga mihun. Seluruh hidangan tersebut dinikmati secara cuma-cuma oleh masyarakat dari berbagai kalangan.
Baca Juga: Pemkab Kukar Kaji Opsi Relokasi Warga Margasari tang Terdampak Longsor
Pemandangan perhelatan tahun 2026 ini menghadirkan nuansa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin bersama Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri dan jajaran FKPD tidak lagi duduk berkumpul di barisan khusus sesama pejabat, melainkan disebar merata di tengah-tengah warga.
Langkah tersebut menegaskan komitmen pemerataan kebersamaan tanpa sekat pembatas antara pemimpin daerah dan masyarakat yang dilayani.
"Ini merupakan bagian dari rangkaian Erau Adat Kutai tahun 2026. Dalam tradisi Beseprah ini, kita melakukan makan bersama dengan seluruh warga masyarakat, duduk bersama dengan menu yang sama dan merasakan kenikmatan yang sama," ungkap Bupati Kukar Aulia Rahman Basri.Baca Juga: Air Sungai Sangatta Berubah Kehijauan, Perumdam TTB Ungkap Penyebabnya
Beseprah sendiri berakar dari tradisi luhur makan bersama di atas bentangan tikar atau seprah. Tradisi ini sarat dengan filosofi kesetaraan derajat manusia, toleransi, perekat silaturahmi, serta wujud syukur atas limpahan rezeki.
Tahun 2026 menjadi momentum bersejarah karena Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi menetapkan Beseprah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Pengakuan tingkat nasional ini semakin memperkokoh posisi adat Kesultanan Kutai Ing Martadipura dalam khazanah kebudayaan Nusantara.
Baca Juga: Dishub Balikpapan Matangkan Rute Baru Bacitra hingga Manggar dan Km 23
Aulia menegaskan, penataan posisi duduk yang membaurkan pejabat dan warga memang sengaja dilakukan guna mengembalikan marwah sejati dari Beseprah.
"Kalau sesama pejabat itu tidak Beseprah namanya, melainkan hanya bertemu dengan orang-orang yang biasa kita temui setiap hari. Oleh karenanya, konsep ini kita ubah. Yang berhadapan dengan kami beserta Ayahanda Sultan adalah langsung warga masyarakat dan semua membaur," tegas Aulia.
Organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemkab Kukar juga disebar di berbagai penjuru titik hamparan tikar. Hal ini membuat interaksi sosial berlangsung hangat dan penuh keakraban tanpa ada meja pemisah.
Baca Juga: Stok BBM Kaltim Dipastikan Aman, Pertamina Optimalkan Pelayanan SPBU
Perhelatan ini menjadi cerminan nyata dari tema besar Erau Adat Kutai 2026, yakni Manunggal Raja Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya. Jamuan ini merefleksikan kembali sejarah masa lalu saat pihak kesultanan menggelar perjamuan agung untuk rakyatnya.
Aulia menaruh harapan besar agar semangat kesetaraan yang terpancar di atas seprah dapat terus menjiwai roda pemerintahan serta pembangunan daerah.
"Semangat kebersamaan, saling mendukung, saling membantu, dan duduk setara satu dengan yang lain ini hendaknya menginspirasi proses pembangunan di Kutai Kartanegara. Kukar ini adalah milik kita bersama, dan Kesultanan adalah milik kita bersama," tandas Aulia.
Ia turut mengapresiasi tingginya antusiasme generasi muda yang hadir melestarikan upacara adat ini di tengah arus modernisasi. Generasi muda diharapkan mampu menjaga akar budaya daerah sebagai identitas luhur yang membanggakan.
Harmoni antara pemimpin dan rakyat dalam tradisi Beseprah menjadi bukti nyata bahwa kekayaan adat Kutai Kartanegara tetap lestari serta mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat. (*)
Editor : Sukri Sikki