Jadikan Tenggarong Etalase Peradaban, Bupati Ingatkan Efisiensi Anggaran Tak Boleh Surutkan Semangat

ADV • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 17:00 WIB
SINERGI: Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan Wabup Rendi Solihin saat sidang paripurna HUT Kota Tenggarong. (IST)
SINERGI: Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan Wabup Rendi Solihin saat sidang paripurna HUT Kota Tenggarong. (IST)  

 

TENGGARONG - Kota Tenggarong menapaki usia ke-244 tahun dengan tekad memperkuat posisinya sebagai etalase peradaban Kukar. Pusat pemerintahan bersejarah ini diarahkan bertransformasi menjadi kawasan urban modern yang humanis tanpa menanggalkan akar tradisi leluhur.

Penegasan tersebut disampaikan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri dalam Rapat Paripurna DPRD Kukar memperingati Hari Jadi Kota Tenggarong di Ruang Sidang Utama DPRD Kukar, Senin (28/9/2026). Ia menekankan bahwa wajah Tenggarong harus merefleksikan kualitas pembangunan daerah secara menyeluruh.

"Kita ingin Tenggarong menjadi etalase Kutai Kartanegara. Bukan etalase yang hanya indah dilihat, tetapi kota yang mencerminkan kualitas pembangunan, kualitas pelayanan, kualitas masyarakat dan kualitas peradaban kita," tegas Bupati Aulia di hadapan para wakil rakyat dan tamu undangan.

Baca Juga: Investasi Tembus Rp6,6 Triliun, Kubar Mantapkan Cetak Biru RUPM 2025–2045 Demi Nilai Tambah Lokal

Sidang paripurna istimewa ini dihadiri langsung Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HAM Arifin, Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin, dan Sekkab Kukar Sunggono. Turut hadir jajaran pimpinan serta anggota DPRD Kukar, unsur FKPD, budayawan, akademisi, hingga tokoh masyarakat.

Tahun ini, peringatan HUT ke-244 mengusung tema Manunggal Raja Bersama Rakyatnya - Raja Menjamu Rakyatnya. Filosofi tersebut dinilai Aulia sebagai pengingat bahwa laju pembangunan bertumpu pada kebersamaan pemimpin dan warganya, bukan semata hitungan program di atas kertas.

Baca Juga: Diskes Kutim Antisipasi TBC Resisten Obat di Tengah Kasus yang Tinggi

Bupati juga mengajak publik menengok kembali akar sejarah sejak 28 September 1782 silam. Kala itu, Sultan Aji Muhammad Muslihuddin atau Aji Imbut mengambil keputusan besar memindahkan pusat kesultanan ke Tepian Pandan, kawasan yang kelak dikenal sebagai Tangga Arung hingga berkembang menjadi Tenggarong saat ini.

Menurut Aulia, warisan sejarah seperti Museum Mulawarman, Keraton, seni tradisi, hingga perhelatan Erau merupakan jiwa pembangunan. Seluruh modal budaya tersebut harus terus dihidupkan untuk menopang sektor pendidikan, pariwisata, dan industri kreatif warga.

Di tengah dinamika fiskal daerah yang menuntut pengetatan belanja, bupati mengingatkan agar efisiensi tidak memangkas dedikasi melayani publik. Kebijakan anggaran yang hemat justru harus dijawab dengan kinerja yang lebih taktis di lapangan. "Efisiensi anggaran bukan berarti efisiensi semangat pembangunan," tegas Aulia.

Ia mengajak seluruh jajaran birokrasi, dunia usaha, dan masyarakat untuk tidak patah arang menghadapi tantangan pendanaan. Kolaborasi erat dinilai menjadi kunci utama agar agenda penataan kota tetap berjalan optimal.

"Keterbatasan fiskal justru harus membuat kita lebih kreatif, lebih selektif, lebih efisien dan lebih kuat dalam bergotong royong," imbuh Bupati Aulia.

Ke depan, arah penataan Tenggarong difokuskan pada penyediaan ruang publik yang memadai, sistem transportasi tertata, kemudahan birokrasi, dan ruang gerak seluas-luasnya bagi pelaku UMKM. Sinergi ini ditujukan demi menghadirkan Kota Raja yang ramah lingkungan, mandiri, dan berdaya saing global. (*)

Editor : Sukri Sikki
Aulia Rahman Basri tenggarong Rendi Solihin hut