Pemkab Kukar Membangun Tenggarong dengan Pendekatan Compact City

ADV • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 17:06 WIB
TIDAK LUPA SEJARAH: Bupati Kukar Aulia Rahman Basri bersama unsur FKPD melakukan ziarah.
TIDAK LUPA SEJARAH: Bupati Kukar Aulia Rahman Basri bersama unsur FKPD melakukan ziarah.    

 

TENGGARONG - Peringatan Hari Jadi ke-244 Kota Tenggarong tidak sekadar dirayakan sebagai seremonial pertambahan usia semata. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) menegaskan arah pembangunan ibu kota kabupaten ini menuju konsep kota modern yang tetap memegang teguh akar sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.

Baca Juga: Jadikan Tenggarong Etalase Peradaban, Bupati Ingatkan Efisiensi Anggaran Tak Boleh Surutkan Semangat

Langkah tersebut ditandai dengan prosesi ziarah ke makam pendiri Kota Tenggarong, Aji Imbut (Sultan Aji Muhammad Muslihuddin), serta para sultan terdahulu di kompleks pemakaman samping Museum Negeri Mulawarman, Senin (28/9/2026). Ritual sakral ini digelar seusai prosesi adat merebahkan Tiang Ayu pada rangkaian penutupan Erau Adat Kutai 2026.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menegaskan, kemajuan zaman dan pelestarian peradaban masa lalu tidak boleh saling meniadakan. Keduanya mesti berjalan beriringan demi menghadirkan tata kota yang humanis bagi warganya.

"Sejarah harus menjadi fondasi bagi masa depan. Inilah cara pandang yang perlu kita bangun dalam menata Tenggarong. Kita tidak perlu mempertentangkan sejarah dengan modernitas. Keduanya harus berjalan bersama," tegas Bupati Aulia Rahman Basri di sela kegiatan ziarah.

Baca Juga: Diskes Kutim Kejar Temuan Kasus TBC Lewat Skrining Berbasis Wilayah

Aulia membeberkan gagasannya untuk menata ulang wajah Kota Raja lewat pendekatan kawasan terpadu. Konsep perkotaan yang ringkas dinilai paling ideal agar denyut aktivitas publik semakin mudah terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Saya ingin membangun Kota Tenggarong dengan pendekatan Compact City, yaitu kota yang lebih terintegrasi, efisien, mudah diakses, memiliki ruang publik yang berkualitas, serta mampu mendekatkan masyarakat dengan pelayanan pemerintahan, pendidikan, perdagangan, ekonomi kreatif, kebudayaan, dan berbagai fasilitas perkotaan," ungkap Aulia.

Baca Juga: Strategi Pemkot Balikpapan Tutup Defisit APBD Perubahan Rp395 Miliar Pakai Dana SiLPA

Kendati diarahkan menjadi kawasan perkotaan yang serbamodern dan serbadigital, Aulia mengingatkan agar karakter asli Tenggarong tidak tergerus. Identitas kemaritiman dan pusaka Kesultanan Kutai harus tetap menjadi denyut utama kota.

"Wajah modern Kota Tenggarong harus tetap memperlihatkan wajah sejarah dan budayanya, Sungai Mahakam harus tetap menjadi bagian penting dari identitas kota. Kawasan bersejarah harus dirawat dan dihidupkan," imbuhnya.

Ia juga memastikan tradisi Kesultanan Kutai akan terus memperoleh sokongan pembiayaan yang berkelanjutan dari pemerintah daerah. Sektor seni dan budaya daerah didorong untuk berjalan seiring dengan kebangkitan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

"Aji Imbut memiliki keberanian untuk membuka babak baru dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Tepian Pandan. Para sultan setelahnya melanjutkan pembangunan dan memperkuat peradaban Tenggarong. Kini giliran kita, kita memiliki tanggung jawab untuk mewariskan Tenggarong yang lebih baik kepada generasi yang akan datang," tutur Aulia penuh optimisme.

Baca Juga: Sepakati APBD Perubahan 2026 Balikpapan, DPRD Soroti PAD hingga Layanan Publik

Dalam kesempatan yang sama, Camat Tenggarong Syukur Eko Budi Santoso memaparkan kembali kilas balik berdirinya kota yang dulunya berjuluk Tepian Pandan tersebut. Nama itu kemudian berganti menjadi Tangga Arung yang bermakna rumah raja, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi Tenggarong hingga masa kini.

"Ketika hari ini kita memperingati Hari Jadi Kota Tenggarong yang ke-244, sesungguhnya kita bukan hanya memperingati bertambahnya usia sebuah kota, melainkan kita memperingati perjalanan sebuah peradaban," ujar Syukur Eko Budi Santoso, saat membacakan sejarah singkat pendirian kota sejak 28 September 1782.

Prosesi sakral ini ditutup dengan peletakan Bunga Lompo, yakni anyaman pandan persegi panjang berhias aneka kembang, di atas pusara Aji Imbut. Bupati Aulia Rahman Basri meletakkan karangan bunga tersebut bersama Wakil Bupati Rendi Solihin, Sekka Kukar Sunggono, jajaran FKPD, serta kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. (*)

Editor : Sukri Sikki
Aulia Rahman Basri kutai kartanegara ing martadipura Kota Raja tenggarong