Di Mata Kerabat, Ustaz Hamri Noor Belum Benar-Benar Pergi

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 17:58 WIB
PANUTAN: Ratusan pelayat mengantarkan jenazah Ustaz Hamdi Noor ke pemakaman. (IST)
PANUTAN: Ratusan pelayat mengantarkan jenazah Ustaz Hamdi Noor ke pemakaman. (IST)    

 

TENGGARONG – Bagi orang luar, rumah di Jalan Kartini Gang Karya Kelurahan Loa Ipuh itu kini hanya puing hitam sisa kebakaran. Bagi keluarga, rumah itu masih "hidup".

Di sanalah Ustaz Hamri Noor biasa menggelar zikir dan selawat setiap Selasa sore. Di sana pula dua anaknya, Ahmad Ali Maulidy (7) dan Husin Taufiqurrohman (3) tumbuh dan mengaji.

Baca Juga: Tim Futsal Bapor Korpri Kukar Incar Juara Porprov Korpri Kaltim 2026 di Kutim  

Sejak kebakaran Selasa malam, 13 Oktober 2026 yang merenggut tiga nyawa dalam satu keluarga itu, kerabat mengaku masih merasakan kehadiran almarhum.

"Kalau lewat depan rumah itu, rasanya masih dengar suara Kak Hamri menyambut. Biasanya beliau yang paling dulu menyapa, merangkul," ujar Ahmad Fauzi Abdurrahman, sepupu almarhum.

Fauzi mengatakan, setiap Selasa sore, jam yang biasanya dipakai Hamri untuk majelis At-Taufiq, suasana di sekitar rumah terasa berbeda. Bukan soal hantu yang menakutkan, melainkan rindu yang belum selesai.

"Beliau memang aktif sekali. Ustaz Hamri itu merangkul tetangga, anak-anak muda. Jadi wajar kalau kami merasa beliau masih ada. Majelisnya, selawatnya, masih terngiang," katanya.

Baca Juga: Perketat Pengawasan Dapur MBG, Sekkab Sunggono Sambut Kunjungan BGN RI  

Di mata kerabat, kepergian Hamri yang menyusul dua anaknya pada Rabu malam 14 Oktober 2026 dan dimakamkan Kamis dini hari 15 Oktober 2026 di samping makam kedua buah hatinya di Pemakaman Muslim Gang 7, bukan sekadar cerita duka.

Itu adalah tentang seorang ayah yang terakhir kali mencoba menyelamatkan anaknya dari api, dengan luka bakar lebih dari 75 persen, dan tetap pulang ke tempat yang sama.

"Kami tidak melihat hantu. Kami melihat kenangan. Apalagi kepada anak-anaknya, Masya Allah, beliau sangat sayang sekali," kata Fauzi.

Kini, setiap lantunan selawat yang dulu mengisi rumah kayu itu, bagi kerabat, adalah cara Hamri tetap tinggal. (qi/kri)

Editor : Sukri Sikki
tenggarong pemakaman kebakaran