Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Warisan Budaya Dayak Wehea yang Terus Hidup, Festival Pesta Adat Lom Plai 2025 di Nehas Liang Bing

Jufriadi • Minggu, 27 April 2025 | 09:41 WIB
Tarian Hudoq dalam acara puncak Pesta Adat Lom Plai 2025 Dayak Wehea.
Tarian Hudoq dalam acara puncak Pesta Adat Lom Plai 2025 Dayak Wehea.

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Semangat tradisi membara di Desa Nehas Liang Bing, Kecamatan Muara Wahau, saat festival pesta adat Lom Plai 2025 digelar pada 24 April hingga 1 Mei. Pesta adat suku Dayak Wehea ini menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus ajang pelestarian budaya turun-temurun.

Perayaan diawali dengan ritual sakral Tiaq Diaq Jengea, di mana warga desa berpindah ke pondok darurat di tepi Sungai Wehea untuk menjalani kehidupan kampung sementara. Perempuan adat memainkan peran penting dalam Embos Min, sebuah ritual pembuangan kesialan dan pembersihan energi negatif yang diyakini dapat mengganggu keharmonisan hidup masyarakat.

Festival semakin semarak dengan berbagai atraksi di sungai. Mulai dari Plaq Saey (lomba dayung perahu tradisional) hingga Seksiang, pertunjukan perang-perangan menggunakan tombak dari rumput gajah. Gelak tawa dan sorak-sorai pengunjung memenuhi udara saat para peserta berlomba dengan penuh semangat.

Puncak Festival Lom Plai ditandai dengan prosesi Bob Jengea, yaitu kembalinya masyarakat ke kampung utama, disertai dengan ritual Mengsaq Pang Tung Eleang di rumah besar Eweang Puen. Tradisi siram-siraman air (Pengsaq) dan mengoleskan arang di wajah (Peknai) menjadi simbol penyucian diri sekaligus mempererat ikatan persaudaraan antarwarga.

Kepala adat suku Dayak Wehea, Ledjie Taq mengatakan, meski acara tidak masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN), perayaan tahun ini tetap berlangsung meriah. Ia berharap Lom Plai tetap dilestarikan dan ke depannya bisa lebih meriah lagi. Ia menegaskan bahwa tradisi ini harus tetap dijalankan setiap tahun, meski ada tantangan seperti kegagalan panen. Dalam kepercayaan masyarakat Dayak, padi dianggap sebagai jelmaan manusia, sehingga perlu dihormati melalui perayaan budaya seperti Lom Plai.

Selain itu, Kepala Dinas Pariwisata Kutai Timur Nurullah, berharap festival ini tak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan ekonomi kreatif.

"Kita berharap ada peningkatan ekonomi masyarakat, terutama UMKM dan ekonomi kreatif selama pelaksanaan festival. Ini yang paling penting, selain upaya pelestarian budaya," kata Nurullah di sela-sela acara.

Ia menambahkan, perputaran uang yang terjadi selama festival terbilang cukup signifikan dan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. "Seluruh peredaran uang selama beberapa hari ini cukup besar," ujarnya. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#pesta adat #Wehea Lom Plai #Kharisma Event Nusantara