KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Tradisi unik dan penuh semangat kembali memeriahkan pesta adat Lom Plai di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim). Masyarakat Dayak Wehea menampilkan Seksiang, sebuah tradisi perang-perangan di atas sungai.
Dalam pelaksanaannya, para lelaki dewasa menaiki perahu dan mengarungi sungai sambil saling menyerang menggunakan tombak tradisional dari rumput gajah yang telah ditumpulkan. Aksi mereka tidak hanya memicu sorak penonton, tapi juga membawa suasana magis khas budaya Dayak.
"Seksiang itu semacam tiruan perang-perangan waktu dulu, tapi tidak lagi memakai tombak beneran. Kita memakai tombak yang dibuat dari semacam rumput gajah," kata kepala adat suku Dayak Wehea, Ledjie Taq, Sabtu (26/4).
Meski terlihat seru dan sedikit ekstrem, tradisi ini memiliki aturan ketat. Dilarang menyerang dari belakang, dari jarak terlalu dekat, atau kepada peserta yang perahunya karam. Semua dilakukan dalam semangat sportivitas dan kehormatan adat.
“Orang yang tidak bisa berenang, tidak kita harapkan ikut itu. Karena sewaktu-waktu bisa karam, jatuh ke sungai.” ujar Ledjie Taq. Acara ini juga mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan pencinta budaya. Banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. (*)
Editor : Ery Supriyadi