KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Festival adat Dayak Wehea Lom Plai kembali digelar meriah di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur. Acara tahunan yang digelar 24 April hingga 1 Mei ini tidak hanya menampilkan adat dan tradisi, tetapi juga menghidupkan ekonomi UMKM dan para pengrajin lokal.
Salah satu yang konsisten ambil bagian dalam festival ini adalah ibu-ibu dari TP PKK Desa Nehas Liah Bing. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka membuka stan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) yang menjajakan berbagai produk kerajinan khas Dayak Wehea.
Mulai dari aneka anyaman, sarung tradisional, kemben, taplak meja, hingga perhiasan seperti anting, gelang, dan kalung semuanya merupakan hasil karya tangan perempuan lokal.
"Ini semua produk asli dari sini, buatan ibu-ibu PKK dan pengrajin sekitar. Kami juga jual makanan seperti keripik dan kue basah," ungkap Rosdiana, ketua TP PKK Desa Nehas Liah Bing, Sabtu (26/4).
Festival Lom Plai tahun ini terpantau lebih ramai dibandingkan dua tahun sebelumnya. Meski tahun ini tidak seperti dua tahun lalu yang menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN), jumlah pengunjung tetap tinggi.
“Setiap tahun makin ramai. Apalagi desa kami ini paling tua dan paling besar, jadi memang selalu jadi pusat kegiatan,” tambahnya.
Dari sisi ekonomi, dampak positif juga dirasakan oleh para pelaku UMKM dan pengrajin. “Kalau dulu mungkin pembelinya hanya dari lingkungan sekitar, sekarang banyak juga dari luar daerah. Harganya pun ikut naik karena peminatnya semakin banyak. Produksi juga meningkat,” jelasnya.
Warga berharap ke depannya dukungan dari pemerintah, termasuk melalui program KEN, terus hadir agar kegiatan seperti ini dapat rutin digelar dan menjangkau khalayak lebih luas. “Harapannya, festival ini bisa terus eksis tiap tahun, jadi andalan kita menuju Desa Budaya yang sesungguhnya,” tutupnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi